Puisi

Perempuan Patah Hati Dengan Kenangan Yang Masih Enggan Antologi Puisi Ningsih Ye

Semesta tahu,

Kamu sering berdiam di sudut bilikmu
sembari menekuk lutut
dan mendekam bersama bayangan hitam
yang berdominan

Kamu sering tertawa sumbang
di tengah gelap malam
menatap bintang-bintang dengan
muka masam
seraya merapalkan sumpah serapah kepada semesta
dengan suara pelan

Semesta tahu,

Belakangan ini rinai matamu
sering jatuh
Gelagar tangis membuncah sudut
bilik kosong, di mana hanya ada kamu
dan sehelai kain di sana

Semesta tahu,

Kamu sedang menahan amarah
sebuah alasan yang membuatmu kemelut
bersama luka dan dendam
yang membara di dada

Semesta tahu,

Kamu sedang tidak baik-baik saja
Senyum tawamu hanya hiasan semata
Riang tawamu hanya topeng
dimana semua luka dan air mata
tertutupi olehnya

Semesta tahu,

Kamu tersedak air matamu sendiri
Menenggelamkan diri dalam kesedihan
hidup terjebak diantara lilitan seribu ular
kamu hanya mampu melepaskan
diri dari jerat
dan menangis apabila tiada lagi daya

Air matamu mengalir semakin banyak
Penuh, penuh, penuh!
melebur berceceran
hingga kamu berhenti menangis karena
mati akibat tenggelam
dalam air matamu sendiri

Semesta tahu itu

(Januari, 2021)

Baca juga : Merindu Antologi Puisi Widiana Marny
Baca juga : Rindu yang Sempat Riuh

Sebelas Januari

Januari, ialah mesti kemarau itu
tapi air mata belum kering jua
Dibuatnya aku kuyup tiada daya
Ah, jancuk benar!
Merelakan aku, pun semesta raya
dalam secangkir kopi

Panas yang basah
Ah, telanjangi saja diri ini!
Biar dia senang, biar dia menang
Betapa Januari pongah untuk tepati janji
Hujan, kenangan, tak usalah mereka
datang lagi

(Januari 2021, hari kesebelas)

Baca juga : Ciuman Pertama Antologi Puisi Defri Noksi Sae|
Baca juga : Bangku-Bangku di Gereja

Perempuan Dengan Sayap Patah

Dari aku yang patah

Keadaan menuntutku untuk
bersikap biasa-biasa saja
karena aku tahu,
lambat laun kamu akan menjauh dariku

Memang bukan sekarang tapi aku membiasakan
diri saja
supaya nanti jika kamu benar-benar pergi
aku sudah terbiasa sendiri
Aku merasa terbiasa dengan tanpa hadirmu

Hanya berharap, semoga ragaku cukup
kuat
Semoga hatiku cukup lapang
semoga berdamai dengan takdir yang
menuntutmu untuk pergi

Dan aku bukan orang hebat yang
bisa menghentikan waktu

Selamat menjalankan takdirmu
dan aku akan berjalan sebagaimana
takdir yang dituliskan padaku

(Januari, 2021)

Baca juga : Yang Meracuni Antologi Puisi Indrha. Gamur
Baca juga : Ina Ada yang Patah Selepas Mengenalmu

Ningsih Ye

Ningsih Ye merupakan nama pena dari penulis, ia adalah seorang mahasiswi semester VI di  STFK Ledalero-Maumere. Ia menyukai senja, kopi dan kamu, iya kamu


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button