Opini

Pikiran Kritis dan Politik

Oleh: Dr. Felix Baghi

Pikiran kritis ada hubungan dengan pendidikan dan cara hidup kita. Ia menjadi wacana pengetahuan di dunia akademik, dan juga basis praksis hidup kita dalam masyarakat.

Pikiran kritis bukan sekedar esensi rasionalitas manusia. Lebih dari itu, ia adalah akar yang menopang kreativitas dan kebijaksanaan hidup kita.

Dewasa ini, perubahan sosial dan struktur hidup masyarakat membutuhkan pikiran kritis. Ada banyak kejahatan politik dan penyalahgunaan kekuasaan yang berjalan tanpa ujian pikiran kritis.

Kalau toh terjadi pemikiran kritis dalam politik, lebih sering hal ini dianggap sebagai subversif atau pengganggu kemapanan suatu otoritas.

Praktek keburukan dalam eksekutif, legislatif dan yudikatif selalu berseberangan dengan pemikiran kritis yang muncul dalam masyarakat.

Pada umumnya kekuasaan itu anti-kritik; atau, ketika mereka terbuka terhadap kritik, ketebukaan mereka hanya sebatas formalitas karena di balik ketebukaan itu sudah dipasang jargon yang mematikan lewat pelbagai dalil otoritas yang legal.

Pada prinsipnya pikiran kritis mengarahkan kita untuk membaca realitas dari sudut pandang kritis sambil terus mendobrak segala kenyataan yang sengaja dibungkus oleh pelbagai ideologi semu.

Substansi pikiran kritis adalah kesanggupan untuk bertanya sebagai jalan untuk menemukan akar persoalan yang sebenarnya.

Tujuan pikiran kritis adalah emansipasi. Esensinya bukan terletak pada setiap jawaban yang diberikan, melainkan pada setiap pertanyaan yang diajukan.

Pikiran kritis berkecimpung dengan dialektika antara pertanyaan dan jawaban, serta kesanggupan untuk membuka nuansa baru dalam orientasi bertanya. Kita bertanya untuk menemukan kemungkinan baru dalam setiap tindakan hidup. ‘Questioning for acting.’

Hal yang penting yaitu bahwa orang harus tahu apa itu berpikir ketika ia berpikir. Seorang anak yang tukang protes di dalam kelas, boleh jadi ia dianggap tidak sopan. Subversif. Dia dilabeli sebagai penggonggong. Namun, ada aspek lain yg penting yaitu bahwa boleh jadi pada diri anak seperti ini ada benih-benih ‘pikiran kritis.

Pikiran kritis bukan bukan soal ‘talent,’ bukan juga soal ‘gift.’ Ia lebih merupakan suatu proses, kebiasaan, dan soal latihan yang terus-menerus.

Pikiran kritis hanya terjadi dalam iklim akademis yang lebih terbuka, dalam dunia sosial yang bebas tekanan atau dalam masyarakat yg telah dewasa berdemokrasi.

Orang yang terbiasa dengan pemikiran kritis, ia tidak suka tunduk. Ia melawan diam. Masyarakat yang hidup dalam rejim komunisme seperti Cina, Korea utara, Vietnam, Mianmar, Laos dan Kamboja, mereka sungguh hidup dalam ‘silent culture.’ Kebebasan mereka tidak saja ditekan tetapi dibekukan. Mereka takut berbicara bebas.

Sasaran pikiran kritis bukan pada siapa yang menang dalam berargumen tetapi pada pemikiran mana yang lebih meyakinkan untuk suatu transformasi sosial dan untuk emansipasi masyarakat.

Dalam dunia filsafat, pikiran kritis lahir dari para filsuf yang menyadari urgensitas perubahan sosial. Kesadaran mereka dimulai dari pembongkaran lapisan psikis manusia yang dikungkung oleh ideologi semu dan sengaja dibungkus dengan pelbagai label doktrin yang komprehensif, seperti agama, aliran politik, kepercayaan metafisis dan kultur irasional.

Para pemikir seperti Sokrates, PLato, Descartes, Kant, Hegel, Karl Marx, Popper dan Habermas, telah lama menyadari bahaya indoktrinasi ideologi dalam sistem kehidupan sosial dan politik yang otoriter dan doktriner. Mereka semua tidak saja berani tetapi mau berkorban dengan mempertaruhkan gagasan mereka di depan kekuasaan.

Karena yakin akan kebenaran dan keadilan, Sokrates berani mati lewat jalan radikal: meminum racun. Thomas More rela dipancung oleh raja Henri VIII sebagai tanda konsistensi sikap kritisnya terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang.

Dampak dari pikiran kritis adalah profetisme hidup dan kenabian radikal. Ini adalah cita cita luhur dan mulia demi suatu transformasi dan emansipasi.

Pikiran kritis sebaiknya dimulai dari kesadaran tentang realitas hidup dan struktur sosial di sekitar kita. Kita perlu membuka mata terhadap segala pergerakan sistem sosial dan politik di sekitar kita.

Kita juga harus membaca bukan saja ‘apa yang dikatakan’ tetapi apa yang ‘tidak dikatakan’ terlebih dari mereka yang mempunyai kekuasaan.

Di dalam politik, segala wacana biasanya bermakna ganda. Semua proyek tidak pernah berorientasi tunggal. Politik itu suatu permainan melalui jalan yang berliku-liku dan penuh intrik. Kita butuh kapasitas untuk melihat dengan jeli, membaca dengan cerdas semua realitas sosial.

Di tengah situasi covid ini, boleh jadi di sana sini ada banyak permainan pihak-pihak tertentu yang memancing di air keruh. Ketika semua orang sedang berwaspada dengan bahaya virus, ada pihak dan instansi yang merancang intrik untuk memanen keuntungan.

Kita butuh kesanggupan untuk melihat dan membaca situasi dengan nalar logis, pikiran yang jelas, kecakapan interpretasi yang tajam dan komunikasi politik yang baik.

Kesanggupan ini mengandaikan juga cita rasa kemanusiaan. Pikiran kritis bukan saja mendekonstruksi. Ia berkenaan dengan emansipasi dan rekonstruksi, usaha penataan kembali segala hal yang tidak becus dalam realitas sosial.

Ia bukan sekedar diskursus rasional dalam wacana berpolitik. Ia berkenaan dengan kebijksanaan praktis yang dilandasi oleh kemanusiaan.

Kita butuh belajar bersama demi menata komunitas politik secara bijaksana. Hal yang kita usahakan adalah ‘collective critical thinking’ yang dibangun bersama dengan iklim persaudaraan yang bebas dari sikap kompromistis. Dalam banyak hal, sikap politis terjebak dalam kompromi.

Bukan tidak mungkin bahwa sikap seperti ini dapat mematikan kapasitas pikiran kritis dalam hidup ini. Kita seperti kerbau yang digiring ke mana saja roh politik itu mengalir.

Hal ini membahayakan struktur sosial dan kehidupan bermasyarakat kita. Orang yang sudah dewasa dalam berpikir biasanya lebih independen. Sikap politisnya lebih jelas. Ia sanggup mengambil jarak dan tahu memberikan alternatif. Sikap seperti ini memperlihatkan kematangan intlektual dan kedewasaan emosi.

Alangkah baiknya kalau setiap pikiran kritis ditopang oleh ‘intelectual virtue’ agar praksis kehidupan kita benar-benar bijaksana. Tujuan ‘critical thinking’ bukan menjadikan kita semakin rasional. Ia sebaliknya menjadikan kita semakin bijaksana dan cerdas secara sosial. Ini adalah cita-cita hidup bersama yang kita perlu dalam masyarakat.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button