Puisi

Puisi P. Ovan. O, Carm

P. Ovan Setu, S.Fil., M.Th
(Kepala Sekolah SMPK Alvares Paga, Maumere, NTT)

Saat Jaga

Pada sebuah pagi, kugoreskan seberkas cahaya
Surya melepaskan segudang kehangatan melampaui imajinasi
Aku hanya terdiam dalam kata yang terjeda
Ah apa maunya? Apa yang akan terjadi?
Anganku mulai berceloteh
Perihal ketiadaan yang telah berujung

Di tepian, waktu kian beranjak pergi
Senja menghampiriku dengan rona-rona keindahan, di penghujung terbenam
Dunia gelap, seolah mati tanpa suara
Oh di manakah semua orang?
Ke mana mereka berlari?
Di sana, di ujung tapal batas tak ada satu pun muncul
Bekas jejak melangkah pun hilang
Aku semakin takut dan ragu
Mungkinkah dunia akan tutup usia, pikirku membatin

Selamat tinggal
Aku harus pergi sebelum bulan yang membesarkan hati lenyap
Alam tertidur
Tak dibeli dengan kekayaan
Tak dihapuskan oleh air mata

Kata di Batas Senja

/1/
Kemarin kujumpai sepasang mata di bukit terbitnya mentari
Selepas jumpa, kami berbasa-basi
Sekadar bercinta dengan mentari dan embun
Aku dingin.
Dingin itu membuatku berbisik hangat
“Tuhan, ke mana hari ini akan kubawa pergi?”

Ketika, pergi membawa pagi jauh dari kasat mata
Ada teriknya yang kian gerah
Pakaian dan tubuhku penuh debu-abu
Membekas keringat yang gerah
“Tuhan, di mana ujung mimpi-Mu akan kubawa pergi?”

Sudah lama aku menjumpai puisi-Mu
Bahkan sejak pagi tadi, aku kehilangan kalimat
Kalimat sebait dari bahasa yang tak bisa dibahasakan
“Tuhan, kataku telah usai di batas senja ini.”

Saat itu, aku berjumpa dengan-Mu

/2/
Sang waktu pergi secepat itu
Baru saja aku mulai bercerita tentang kata
Aku dibiarkan sendiri dalam bisu
Baru saja aku hendak mendekati rasa
Aku dibawa pada sunyi, tak bersuara

Ijinkan aku sejenak bersandar pada kata
Dalam diam aku bergumam
Untuk merangkai kisah
Rasanya, tak pernah lengkap tanpa suara
Belum usai, aku telah melukiskan sebuah cerita
Tak pernah ada kata nanti!

Mageria, 19 Februari 2020

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button