Puisi

Puisi-Puisi Afriana

Ilustrasi: Jatimtimes.con

JULI, BOLEHKAH CORONANA MAHAERAT?

Terisak-isak di relung mistik
Letih tertatih pada yang tiada pasti
Rinai mata mengelus pada yang terhempas
Entahlah aku memilih mana?
Hati yang terjerat pasrah
Atau mata yang rindu menggapai mesra
Aku lelah di labirin ini

Ingin kugenggam lagi tangannya
Ingin kurangkul lagi tubuhnya dengan pelukan penuh mesra
Ingin kulihat lagi senyuman manja yang dari bibirnya
Sembari memandang langit dengan bahagia tanpa sakit
Ingin kulampiaskan rindu yang membuatku pilu

Sekali lagi
Juli, bolehkah corona mahaerat?

HARAPAN SELEPAS CORONA PERGI

Nanti, setelah ia benar-benar pergi
Meniggalkan bumi pertiwi ini
Aku ingin mengulang kembali cerita yang kemarin sempat menepi
Aku ingin kembali lagi mendengar suara burung-burung bernyanyi dengan indahnya
Tak akan kubiarkan
Jinggaku pergi meninggalkan luka
Tak akan ku biarkan malamku kembali kelam tanpa suara
Dan aku terdiam sambil berlinang air mata
Nanti, setelah ia benar-benar pergi
Aku ingin sekali lagi pergi
Mengingkari sepi yang membuatku patah hati
Dan bertemu rasa dengan ramai dan hatiku damai
Nanti setelah ia benar-benar pergi
Aku ingin kembali lagi bermain dengan hujan
Tanpa rasa takut untuk sakit
Nanti, setelah ia benar-benar pergi
Aku ingin mengingkari hampa kesendirian ini
Nanti, setelah ia benar-benar pergi
Bolehkah rasa rinduku padamu tersampaikan?
Bolehkah kita bertemu lagi?
Kita bersama bergandengan tangan
Berpelukan mesra menghilangkan lelah dan gelisah sambil tertawa
Sambil menyanyikan lagu bahagia
Nanti, setelah ia benar-benar pergi
Banyak harapan melalui doa yang ingin aku raih dan aku gapai bersamamu

(Ruteng, 19 Juni 2020)

SURAT KECIL UNTUK TUHAN
(Bolehkah Corona Maherat)

Tuhan
Tiada satupun terjadi, tanpa restu-Mu
Tak akan pernah Engkau biarkan aku sendiri, bukan ?
Bergumul dan menyesal untuk segala yang terjadi

Tuhan
Banyak perkara yang tak dapat aku pahami
Sebab aku tak tahu menahu tentang rencana indah-Mu
Aku tak banyak mengerti
Sebab aku pula tak berarti

Tuhan
Maafkan gelisahku
Maafkan segala lelahku
Maafkan segala penyesalanku
Maafkan kebodohanku

Tuhan
Duniaku begitu sepi
Rasanya semua telah pergi
Entah kemana mereka menepi
Sebab aku pun tak pandai mencari

Tuhan
Bolehkah kumeminta satu hal lagi
Maafkan aku yang selalu meminta
Saat ini semua panik
Menangisi apa yang terjadi
Tuhan “Bolehkah badai Corona ini maherat”
Biarkan semesta mengaminkan
Dan semua kembali seperti semula
Sebab aku tak tega, melihat dan menyaksikan betapa semua terluka

Tuhan
Bolehkah kupeluk lagi raga
Bergandengan tangan tanpa berjauhan seperti bermusuhan
Ah Tuhan
Jika Engkau berkenan

(Ruteng, 21 September 2020)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button