Puisi

Puisi-Puisi Alexander W. Wegha

Ilustrasi: harvest goods

MAAF

Saat nada bertalu dipucuk ingin
Sempat mampir pada bibir-bibir sesal
Pinta seraya gelagap berjejer
Sudah selesaikah khilaf bergerak?

Cukup, ini lebih dari entah
Sekelumit pinta sudah sesak
Meramu pertengkaran di pelupuk mata
Mengalahkan kelopak untuk membenam
Binar-binar pilu tertusuk bisa katamu

Semilir pamit lebih dini
Seribu syair sudah jadi milikmu
Maaf, kalahkan hati untuk bertedu
Bagi pinta aminkan restu
(Scalabrinian Nita, 16 september 2020)

RANTING WAKTU
/1/
Datang dalam penantian tiba
Sebelum kenalku lahir
Membangun cerita-cerita tua
Untuk kabarkan pada yang entah
Penabung aku, dia dan mereka menjadi kita

/2/
Lalu Mekar di tebing kisah
Lepaskan sutra tampa alasan
Buka semua pintu ‘rahim’ penutup aurat
Pada permulaan agar mati tak kau kenali
Di pucuk harap benamkan kekekalan

/3/
Senja datang lebih dini
Menjemput cerita yang lelah di pikul
Pagi dan siang mandikan keringat
Perhentian berapakah ini?
Tanyakan pada yang entah

/4/
Barisan sudah rapi tampa kau pinta sekalipun
Sebab itu sudah membekas sebelum namamu diresmikan
Pada Jejak dan tapak membentang noktah
Berkelebat seirama kedipan mata
Pejam lalu sisahkan angan
(Scalabrinian Nita, 17 September 2020)

KATA YANG MERIAP

(Untuk: Waldus Budiman)

Semula engkau dimuntahkan
Oleh ringkihan kuda tengah hari
‘Lusiana’ rahim katamu bertingkah
Itu jadi tayangan seribu telaga
lalu mandi dilumbung pandai

Putih abu-abu masih terlukis indah
Saat mulanya huruf-huruf buta dikisahkan
Pada dinding kusut tempat kepalamu berteduh
Membawa mimpi yang masih perawan

Senja mengisahkan cerita mini
Ala dandut jadi favorit raga
Saat cinta menuakan kenyamanan
Larut lalu pekat untuk dunia

Bawang bombai jadi saksi bisu
Tempat lorong tengah dipenuhi isi makanan
Pandaimu merayu kata
Lalu Lusiana ingin menangis
Kenapa ranjangku dipisahkan darimu
Barangkali air mata wanita itu
Menghapus mimpi yang sudah kau susun sejak dini

Semilir pergi menyusun cerita
Agar kelak lahir seribu warna
Pada mereka perindu puncak
Heningkan laga noktahkan kenang

Hari ini bukan mati suri
Bukan rupiah penjelma ingin
Tapi cinta dibalik bukit
Untuk rahim kebijaksanaan.
(Puncak Lusiana, 2 April 2019)

*penulis biasa di sapa Alex, sekarang mahasiswa di STFK Ledalero-Maumere, dan berdiam di rumah pembinaan Scalabrinian Nita.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button