Puisi

Puisi-puisi Chan Setu

Foto:kompas.com

Penulis: Chan Setu

Tidur

Tuhan: sudah saya usahakan agar tetap nyaman dengan puisimu
Hanya ada satu pilihan ketika mata kembali melek,
Tubuh kembali jatuh.
“Aku ingin Tidur lagi”

ELEGI WAKTU
1/
08:00

Ketika waktu riang menari,
Satu dari sekian banyaknya embun melambaikan tangan
“Sayonara”, untuk mulut yang tak terbuka
Kita pernah bilang: “ada hari yang perlu lelap, sejauh rindu menunggu di hadapan jendela kamarnya
Semoga bukan kau atau aku
Kiranya kau dengar pagi ini,
Aku berkata: “mari masuk, sebentar lagi aku ingin tidur yang kedua kalianya lagi”
bersamamu atau tanpamu,
Aku tetap ingin bercinta, lagi.

2/
09:20

Semoga kita bertemu di sebuah perjalanan menuju rumah – dan ada baiknya kita mengacungkan jari jemari kita,
Memainkannya dengan dawai pada angina di atas kepala bagian tubuh kita
Jangan kau pegang rambutmu – biarkan ia menjuntai,
Kita tak ingin ia memponi di depan dahimu
Bukankah nanti yang kulihat hanya alismu yang lelap – dan dahimu yang kerut bersembunyi menghitung rindu di bawah bola matamu

Semoga, kita tidak sedang bermimpi pada kebohongan atau berbohong pada mimpi kita

3/
09:30

Pada pagi sekali,
Kita saling menatap telanjang dirinya
Aku dengan mimpi yang kupikul,
Melihat beningnya matamu dari sisa embun pada daun-daun pisang belakang kamarku
Dan kau menatap air matanya dari bias sisa kepergiaan embun

Kita lupa, bunga pukul Sembilan itu telah layu –
keruh di deretan teras pintu masuk kapela tua

4/
16:00

Semoga kau tidak marah, habisnya aku meninggalkan luka selama kau meniduriku
Dan anak-anak kasurmu,
Sedang marah besar.
Maaf, semoga kita selalu baik-baik saja – cukup anak-anakmu yang marah
Tanyamu: “mengapa semuanya berantakkan?”
Itu kebiasaannya, selalu datang sebelum kita benar-benar bermimpi dan nyenyak
“ngompol”

Pavilium tengah, 2020.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button