Puisi

Puisi-Puisi Indra Gamur

Ilustrasi: pixabay

TEMUI AKU DI MIMPI

Lekat selepas keringat jatuh di tanah
Pekat bila dikenang sepajang ingatan yang mesra
Mengintai dari sunyinya malam
Menerpa segala rindu yang mulai meraba ilusi.

Diam bergumam dibalik dingin.
Memanjakan mata penuh air.
Melintas perbatasan sekat
Memeluk luka penuh lara

Betapa kelimaksnya rindu
Begitu dalam mengalaminya
Tuhan,
Sampai di mana kau berjalan bersama ayahku?

Di sini, memoryku belum penuh untuknya
Bawalah hidupku ke tepian cerah
Sekedar menikmati angin dan mengiklaskan
Bahwa kau telah benar-benar mengambilnya dari pelukku.

Bisiklah kasih bila masih ingat
Setia kunanti bersama kenangan di kepala.
Kemarilah.
Temui aku dalam mimpi.

(Surabaya, 2020)

DI MEJA MAKAN
saban pagi, ketika jam makan tiba
Dibalik jendela dapur
Kudapati tuan dan puan serta anak-anaknya
Duduk berdampingan, merayakan pagi yang syadu

Tak sengaja, air mata berderai dipilar lesungku
Teringat sebuah pagi yang indah.
Kala itu,
Ditungku dapur kami menanak nasi.

Merangkul hangatnya pagi
Dengan kopi buatan ibu
Akhhhh
Mesranya kala itu.

Kini, hanya bisa mengingat kembali.
Kepingan ingatan yang nyaris saja punah
Dalam situasi itu, kugigit erat khayal penuh harap
Kelak, jika Tuhan merestui kita

Ibu,
Akan kuajak dirimu.
Duduk bersama merayakan pagi yang sama.
Entah ke mana dan di mana.
Yakinlah suatu waktu akan terjadi.

Di meja makan
Nanti.

(Surabaya, 2020)

TUNGKU DAPUR

Ibu,
Apa kabarmu hari ini?
Maafkan daku yang sibuk menata kata
Sementara kau sibuk merindukanku

Tetaplah menjadi pendoa untuk aku yang selalu menjadi pendosa.
Kuingin keriputmu tetap manis.
Sampai pada akhirnya salah satu dari kita dipanggilNya.

Sayang,
Tataplah mataku yang selalu mencoba sekat lara
Tetaplah tersenyum bahagia.
Walau kutau itu pura-pura yang luar biasa.

Percayalah;
Tubuhku di kota
Tapi ingatanku sepenuhnya bergeming pada tubuhmu.
Semua rindu bersemedi
Di tungku dapur itu, Bu.

(Surabaya, 2020)

SEBUAH PETANG

Selepas senja pulang ke ranjangnya
Setelah kami menghabiskan waktu berdua.
Berbincang perihal kopi dan kenangan
Hingga tak terasa waktu berputar nan jauh

Waktu beringusut sambil menguping
Semoga saja ia mendengarnya.
Agar nanti ia merestui kita sebuah temu.
Sebab mata kini kian sembab dan lebam.

Ibu,
Salam penuh rahmat ubtuk kasih tanpa syarat
Terpujilah aku yang menjadi buah hatimu.
Dan kini sudah lepas usia, kuharap kau tetap sehat

Tepat dipukul enam.
Sebelum doa angelus
Aku menitip namamu dengan tenang
Di sebuah petang.

(Surabaya, 2020)

SELEMBAR FOTO

Kala semua lara memukul dengan kuat
Letih yang terus mencadas
Raga yang dipaku lelah
Serta ragu untuk mengeluh.

Saat yang sama pula.
Daku hanya mengelus semua dengan lembut.
Memintal sepucuk doa kepada Yang Maha Cinta
Barangkali ia mendengarkan doa yang penuh dosa itu.

Di tengah kalang kabut pikiran yang kacau.
Serta ingatan kelabu yang menginjak sunyi
Malam kian basah
Membanjiri kamar penuh peluh.

Tuhan.
Kadang bercandamu berlebihan
Tapi tak mengapa
Kau, kutau selalu memberiku kejutaan

Kali ini ada yang lebih tabah dari deru di dada
Menatap dan memeluknya erat
Iya kadang ia lebih berharga dari sebuah moment, itu
Selembar foto.

(Surabaya, 2020)

*Penulis tinggal di Surabaya. Buku puisi perdananya berjudul “Rasanya Seperti Rindu Tapi Entah Apa Namanya”.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button