Puisi

Puisi-Puisi Indrha Gamur

Di Kamar Mandi
Terhitung dari menit ke sekiannya
Di tengah gemercik suara air
Aku menunduk kepala,
Sedang tubuh masih kaku,
Seperti salju membintai rindu.

Rindu pada tubuhmu
Adalah rindu pada tembok putih
Pada semua wewangian itu.
Kubasuhi dengan segala harap
Meraba dada dengan doa

Kutemukan diriku lebih lama dari biasanya,
Lebih lembut dari malam panjang tanpa aroma.
Lebih damai dan syaduh dari seduhan itu

Setelah sekian lama berbusa
Kini tembok itu, kucakar dengan kata-kata yang paling berbisa
Bisa-bisa, ini seperti spritus atau bahkan metanol.

Ya,….
Begitulah cara meracuni luka yang tak terbaca, selain dalam pelukanmu, kekasih..
Di sini, bermandikan rindu sekaligus luka.
Mencin(tai)mu,
Di dalam kamar mandi

(Surabaya, 27 Oktober 2020)

Kancing Baju

Kemarin, sebelum hujan di kota ini
Sebelum, kata menjadikan kita ada
Selepas lupa lekas lepas.
Sepanjang jalan ingatan adalah kenangan.

Di bawah rindangnya relung hati
Ada rinai kesunyian yang menari
Pada gubuk asmara, kita begitu lekat tanpa pekat
Meski masih disekat jarak.

Sore itu, sekawanan burung berlarian di angkasa.
Di langit biru mereka menggepakkan sayap dengan bebas lepas.
Sedang di sini, sayup -sayup terdengar lirih.

Dengan apa kubilang, sayang
Jika kau masih menggambalangkannya
Dengan apa kubilang, percaya
Bila hati masih enggan mimilih.

Perihal, kekitaan kita
air mata bukanlah kekasih paling intim, kekasih.
Sampe jua, jika kau terlampau begitu.

Kulepas saja punjanggaku.
Biar kau tau, sebegitu kerasnya kepala dan kepala keras memeras kata
Bahkan, mendobrak semua sunyi dalam tubuhku
Ada namamu yang bertumbuh subur.
Di balik kancing baju yang kencang itu.

(Surabaya, 27 Oktober 2020)

Rabu, Raga Tanpa Ragu

Hari itu, dalam sepekan
Waktu memihak pada kita.
Atas restu semesta,
Pertemuan itu terjadwalkan

Entah bagaimana ia meringankas kisah itu,
Yang kutau, di senja nanti sepasang mata akan merayakan segala riuh rindu.

Tepat di mana, separuh rapuh masih mengapung di tepian batin..
Kau hadir, berdiri meski dikawal duri.
Dalam senyum yang runyam itu,
Kau berkata.
Ini,…Rabu, raga yang tanpa ragu,
Sayang.

(Surabaya, 27 Oktober 2020)

* Indrha Gamur berdomisili di Surabaya. Buku puisinya berjudul “Rasanya Seperti Rindu Tetapi Entah Apa Namanya”

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button