cerpen

Puisi-Puisi Maxi L. Sawung

Ilustrasi: tagar.id

BIBIR TAK MALU

Akhir-akhir ini menjelang pemilu
Banyak bibir yang tidak lagi malu
Senyum sumringah menyembunyikan urat malu
Mereka nekat bertamu, mengakrabkan diri dari kebun, dapur hingga berakhir diruang tamu.

Datang membawa janji manis
Seperti pedagang tanpa basa-basi agar jualannya laris ketika melihat kau tertarik dengan lugu dan percaya
Mereka diam-diam tersenyum sinis
Membayangkan betapa mudah kalian diperdaya.

Sebelum pergi mereka akan memberi hadiah
berupa gambar wajah, nama, gelar, juga beberapa sembako murah
Mereka tidak merasa rugi untuk memberikan beberapa rupiah
Sebab setelah terpilih akan mereka menerima ganti rugi dengn gaji berjuta.
Sungguh bibir itu tidak malu.

PECAH BIBIR JALANMU

Beberapa bulan lalu ketika bertamu ke kampung
Sepanjang bibir jalan ada tumpukan material
Katanya itu untuk membuat jalan beraspal
Tentu sebagai anak kampung ada kebahagiaan yang tidak terbendung
Setelah sekian lama menapaki jalan berlubang

Walaupun sebenarnya itu akan menjadi kenangan penuh sesal
Di saat beberapa kali turun hujan lebat menggenang
Jalanan beraspal hanyut seperti kebahagiaan yang surut
Kami kembali menapaki jalan yang penuh lumpur.

BIBIR: SEKSI DAN SIKSA

Entah untuk alasan yang belum juga kutemukan jawab
Bibir selalu berhasil mencuri pandang saat kita bercakap
Akhirnya membantah merupakan usaha menyiksa diri dan percuma
Yang perlu kau lakukan hanyalah duduk diam mendengarkan
Bibir itu bergerak cepat dan lambat membentuk kata
Membuatmu mengingatkan nama dari pemilik bibir
Siang dan malam sepanjang waktu sampai pemilihan nanti
Kau tetap mengingat bibir itu di antara banyaknya bibir-bibir kaku
Pada selebaran kertas pemilih.

*Penulis adalah pengangguran yang suka baca buku sambil menunggu waktu wisuda yang ditentukan kampus.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button