Puisi

Puisi-Puisi Maxi L. Sawung

Ilustrasi: cantiktempo

BIBIR PEREMPUAN

Andaikan ada bibir yang lain seperti milikmu
Tidak akan ada kecemasan pada sepasang mata
Juga telinga yang menunggu begitu lama
Suara-suara seakan tenggelam jauh
Sunyi di antara ribut suara sedan itu

Kau tahu, cara paling ampuh membunuh
Secara sederhana ialah dengan membuat sedikit
Kegelisahan di dalam kepala. Lalu pucat
Perlahan akan muncul membanjiri wajah kaku

Perempuan, kamu tahu bibir milikmu
Serupa pintu tempat semua kata dari rasa rindu
Menyatu datang dan pulang kembali. Menyejukkan mata
Juga telinga walau kadang suaramu tidak merdu

Saat ribut suara bukan keluar dari bibirmu
Semua bunyi jadi tidak bermakna
sunyi detak waktu berlalu juga
hari yang bergeser sedang tubuh terus menunggu

kau belum juga mengecup jiwaku dengan suara-suara
yang tidak merdu dari bibir perempuan

BIBIR YANG RETAK

Bibir yang retak menjadi tanda ia sudah terlalu lama merapalkan doa pagi
Siang dan malam begitu setia melekat pada tipis bibirnya. Sudah selayaknya
Seperti kaki yang tidak pernah lelah melangkah walau membuat tumitnya terbelah
Semua keterbiasaan ini menjadi cara ia memperbaiki keretakan di antara keluarga mereka.

BETAH

Izinkan kau selalu duduk dekat bibirmu
menghabiskan waktu mendengarkan cerita-cerita
yang kau pernah dengar atau mengarangnya sendiri
Sehingga aku mampu menimba setia dari
sana lalu mengingatnya sebagai pengantar
tenggelam dalam tidur sambil mendengkur.

* Penulis adalah pengangguran yang suka baca buku sambil menunggu datangnya waktu wisuda yang ditentukan kampus.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button