Puisi

Puisi-Puisi Nus Narek

Foto: Todayline

(Mahasiwa Pascasarjana STFK Ledalero)

Ibu

Di pintu rumah
Ia berdiri menunggu senja
Sore merekah, sendu dalam doa
Satu bait, tanpa resah
Nak, sehatkah engkau?

Nun jauh, langit masih biru
Ia duduk menyulam kain
Itu biru seluas laut
Disematkannya berjuta cinta:
Sehat selalu, Nak!

Ia menikmati senja
Selalu dianggapnya Sang Ilahi
Doanya penuh pelukan
“Nak, aku mencintaimu tanpa cela!
Aku, Ibumu!

Kalau ibumu meneteskan air mata
Malaikat maut sudah memegang parang
“Kalau ibu menangis bahagia?
Barangkali malaikat jadi istrimu!

(Sabtu Malam, 24 April 2020)

Ayah

Betapa sibuknya ia
Siang menantang terik
Malam mengasah otak
Ia tak pandai ujar hingga lupa bersantun kata

Ia adalah ayah
Terampil menabur semangat
Begitulah seharusnya hidup
Esok hanyalah kehidupan

Kini, sore itu tiba
Ia menikmati lelah di pintu rumah
Ialah aroma kopi
Hidangan hangat hasil jerihnya
Wangi laksana narwastu
Di bumi ini: ia adalah ‘Tuhan’

Ia adalah ayah
Rajin menulis santun
Juga tekun mengurai falsafah
Penuh harap:
Nak, bilah ayahmu susah,
Engkau mesti merangkul sukses

(Sabtu Malam, 24 April 2020)

Anak (anak)

Ia katanya sebuah cinta
Sengaja diciptakan dengan air
Segera ia mengalir
Nun jauh ke laut lepas
Lalu, lepaskan!!

Ia tumbuh untuk maju
Disiapkan sungguh langkah kaki
Bukit didaki
Laut disebrang

Kini, ia memutar sendiri lagu kehidupan
Yang tertawa bukan sukses
Yang menangis bukan gagal
Tak perlu sibuk mengurus lara
Itu hanya roda
Kadang di atas, kadang di bawah

Ya, benar
Ia adalah anak (anak)
Belajarlah pada ayah ibu
Kadang di atas kadang di bawah

(Sabtu Malam, 24 April 2020)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button