Puisi

Puisi-Puisi Onsi GN

Ilustrasi: hipwee.com

DONGENG DI BAWAH PATUNG GERHANA

Di pintu safi mencatat butiran petir yang mati
Menukik sambil mencekik detik-detik pelik
Penuhi raga yang terkuras pisah
Sembari menjelma menjadi bayi-bayi gerhana

Dongeng itu diseret oleh matanya
Beradu di dalam syahdu sambil membaringkannya pada tangan kanan gerhana yang mulai menyisip di bibir awan
Sambil memberi kabar lewat layang-layang bayang di kaki gerhana
“Tidak perlu mati
Sebelum semuanya dinyatakan mati.
Berbaringlah jika kaki kananmu hendak kau patahkan
Semua syahdu di tanganmu”

PANTASKAH KITA BERSEMUKA?

Dari sekian banyak pertemuan yang mengatasnamakan kasih
Selalu diwarnai dengan taburan kisah.
Tumpukan sobek senyum menghiasi keikhlasan
Mengapa bersemuka kita lupakan?
Biarkan saja carut marut menjadi derita yang kini kita baringkan dalam palungan doa sembari melukis darah bahwa kita pernah bersua melempar suara.

Dari setiap banyak salam. Yakin, ada doa untuk kita kembali bersemuka.

PIPIT ITU PATAH SAYAPNYA

Dari meja beralaskan air mata keadilan
Suara-suara luka ditutup bahagia
Dari jeritan zaman sampai pada cekikan setan
Kita tetap sama di bawah lampu-lampu jalan

Dari sangkar yang berbeda nama
Kau patahkan topang menyembunyikan paras
Ketika Pipit itu kau lukai dengan membiarkannya pergi
dengan sayap yang berluka patah

* Mahasiswa FKIP Undana Kupang

Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button