Puisi

Puisi-Puisi Sari Yovita

Penulis | Sari Yovita (Mahasiswa Pariwisata AMPTA Yogyakarta)

Maumu Hancurku

Untukmu aku tak meminta banyak hal
Cukup kau tahu
Bahwa kau masih yang menjadi naungan
Dalam setiap kenangan yang terlantar

Aku masih di sini dengan raga dan perasaan
Yang tidak pernah berubah untukmu
Aku sadar akan sesal
Namun kau memang memilih melepas

Lantas aku bisa apa
Antara memaksa bertahan ataupun pergi
Aku tidak bisa memanimalisir keduanya
Hingga akhirnya kaulah yang menghancurkan semuanya

Perlu kau tahu
Aku begitu tidak kuasa menahan segala asa dan harap
Sampai kau begitu enak hati memutuskan
Hingga aku makan hati setengah mati

Antara kau dan maumu
Aku tak apa
Mungkin hari di saat kita tak lagi seumpama
Kau sudah memiliki definisi lain yang kau hafali

Kau dan keputusanmu
Telah membuatku mati dalam kata bahkan rasa
Namun jangan berperasaan lebih
Sebab lisanku ini hanya sekedar pembalut gambar di dudia Maya
Begitu saja.

(Jogja, 3 November 2020)

Baca Juga

Aku Ingin Tahu (Kumpulan Puisi Adel Chaet)

Baca Juga

SELEPAS SENJA PERGI [Puisi-puisi Filbertus Sarigosa ]

Raja Hati

Tidak ada yang lebih menarik
Dari caramu mencintai
Bahkan aku hampir tersesat
Didalam rasa yang telah tersemat

Kau sungguh tak biasa
Mencaitkan bekunya hatiku
Menggoreskan aksara berharga
Di setiap lembar kisah hidupku

Bacalah ini, sayang
Kau itu satu-satunya yang terpilih
Dari banyaknya kaum terhormat
Yang pernah menelusuri hidupku

Ingat, ini bukan basa basi
Lebih dan kurangnya,
Kelihaianmu dalam mencintaiku
Adalah bahagia yang mendasar
Atas tangguhku yang pernah rapuh hancur

Kasih, lisanku mungkin tak berarti
Bisa saja kau anggap pemanis buatan wanita
Namun,
Dengan ini aku mengatasnamakan pena
Yang menari penuh ria bersama jari jemari
Di atas kertas putih ini

Karena itulah,
Kau milikku dan raja hatiku satu-satunya.
Sekian, sayang.

Baca Juga

Pilkada

Rekaman Maya

Hari ini,
Jangan lagi cemas
Akan aku yang diguyur hujan
Air mata hati nan tertatih

Sebab
Kau telah datang lalu
Menghapus segala gundahku
Yang telah lama menjadi
Sahabat lara didalam hampaku

Suaramu
Yang tegas melintang lentik
Didalam speaker ponsel mungilku
Menjadikan aku melupa
Akan perihal duka dari luka

Dinding Maya,
Adalah perangkat keras
Namun telah kita lunakkan
Dengan berbagai kelakar bersama canda
Lalu aku jatuh mencanduimu

Dengan ini,
Atas segala hasrat yang hampir berkarat
Aku titipkan kidung rinduku
Untuk temu yang dipersekat

Jangan khawatir
Aku tidak akan jemu meski sendu
Karena, kau adalah “Rekaman Maya”
Yang telah nyata didalam file rasaku
Meski temu terus dimenangkan jarak
Tidak apa-apa
Aku mengagumimu.

(Jogja, 4 November 2020)

Baca Juga

Penuh Kasih Aku Mencintaimu

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button