cerpen

Puisi-Puisi Sonny Kelen

Foto: Lavaguardia.com

Selendang Kenangan Mama

Kadang-kadang aku begandang
Menghabiskan beberapa cangkir pikiran tentang
Hidup yang masih kusebut sebagai sehelai selendang kenangan mama
Awan hitam selalu hinggap di bulu mataku
Kutatap nasibku yang tergolek rapi di genangan hujan

Pernah di sebuah pertemuan
Saat diam yang polos sengaja diciptakan
Didengarkan aku sajak ibu
Sajak benang ibu yang menjahit sehelai selendang
Berkelipan mencari senyum yang dibungkus rapi

Luka hitam benang putih
Luka sobek benang sembuh
Pada suci jadi putih
Pada luka jadi sembuh
Mama, badai yang dulu jinak di tanganmu
Kini bangkit beringgas mengoyak nyenyakku
Merobek pulas tidurku
Di selendang kenanganmu
Aku tahu, bahwa aku tak pernah mati
Di sebuah hati
Pada benangmu
Yang kini jadi benangku
Tepat di selendang kenanganmu

Selamat Ulang Tahun, Ibu

Ibuku yang baik
Besok ulang tahunmu
Aku berimu hadiah apa?
Aku tidak mempunyai barang antik
Atau sekantong bunga yang cantik
Seperti cantik senyummu yang selalu menghiasi
Hidupku sejak menangis pertama dalam pelukanmu
Hingga kini membuatmu tertawa dalam kelelahanmu

Ibuku yang baik
Besok ulang tahunmu
Aku berimu hadiah apa?
Aku tidak mempunyai hadiah yang menarik
Seperti kasihmu yang putih
Kala di matamu
Aku adalah bayi mengebas malu
Kembali menyusu kasih
Walaupun usap usang bajumu yang menjadi

Ibuku yang baik
Besok ulang tahunmu
Aku berimu hadiah apa?
Aku tidak mempunyi apa-apa
Hanya puisi ini
Tidak panjang yang penting panjang umurmu
Supaya kapan pun atau di mana pun
Aku masih mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu

Namamu, Ibu

Ibu

Di tamanmu berteduh seroja
Amalmu kekal memikat hatiku
Untuk terus bernaung di alasmu
Kala aku masih lugu
Pesanmu selalu bermuara di kepalaku
“Lekaslah besar anakku, menyongsonglah fajar hidupmu”
Ibu

Redakan badaiku
Biar sunyi dendamku
Seperti hari yang damai setelah
Doamu selesai pada nada amin
Ibu
Aku begitu mencintai jalan ini
Restuilah aku dengan doa merdumu
Di mana aku mengenalnya di rahimmu
Hingga saat ini
Ibu

Bila nanti waktu mempertemukan kita
Aku ingin kembali bertualang di Sorgamu
Selamanya hingga orang-orang tak lagi
Punya jemari tangan yang setia
Mengetuk pintu-pintu langit yang memisahkan kita

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button