Puisi

Puisi-Puisi Steve Marten

“Kulihat darahku menangis di tapal batas
Ditengah sukaria para pemenang,
Aku ingin balas dendam
Balas dendam !!!

(Steve Marten)

Selesai Sudah

Terbang saja, simpan saja, aku juga lupa
Deretan surat dan tulisan purna
Riwayat tak tamat titisan risalah
Meluap banjir musim panas.

Di mana , di mana sisa rambut kilau?
Jangan dibakar, biarkan berkalang tanah.
Lautan savanna embun mengigau
Dan Skelebat sinar habiskan pesona.

Tidak, Rimbun ranum telah kusut.
Tegarnya , gagahnya terhempas waktu
Lawatan seabad hampir rampung.
Kini waktunya tidur.

Baca Juga

Rinu Romanus dan Cikal Bakal Lahirnya Majalah SRD

Baca Juga

Puisi-Puisi Sari Yovita

Sabda Mulut Salomo

Bait yang kumuh dan rusak itu,
Membuat Salomo menyusun rencana
Di hadapan pekerjanya, Ia berkata
“Wahai penjahit, tukang kayu, pandai besi, tukang batu, tukang cat,

Dengarkanlah!
Mari, buat bait-Nya yg baru.
Tajamkan pisau agar ukiran jadi indah.
Lapisi dengan emas diluar dan dalam,
Tirai yang menjuntai warna warni megah,
Haluskan batu-batu menjadi cahaya.

Wahai kalian para Imam,
Angkatlah bokor bokor,
Prabot prabot ke dalam bait yang baru itu.

Wahai Rakyatku, Datanglah menyembah!
Tiuplah teromPet,
Bunyikan kecapi ,
Nyanyikan pujian
Inilah Rumah Tuhan, Allah kita.”

Baca Juga

Ayahku Menjelma Pria Berjas Putih

Baca Juga

Aku Ingin Tahu (Kumpulan Puisi Adel Chaet)

Ocehan Alam Kubur

Robek punggungku, tersisa seurai tulang.
Batok kepalaku tertinggal kulit bahu.
Dingin di sekitar, suara sayup membeku.
Aku dingin, ingin dipangku ibu.

Merajuk di tumpukan tanah dan dinding beton,
Kenapa tak satupun mampir menolong.
Lantas siulan dalam gelap kosong nelangsa.
“Di mana tombak, Parangku ?
Tolong….tolong aku.

Mengapa kau lilit tubuhku dengan kain
Bagaimana kutunaikan sisa -sisa janji ?
Aku sudah pertahankan harga diri
Lalu mengapa kalian pergi ?

Ku lihat darahku menangis ditapal batas
Di tengah sukaria para pemenang

“Aku mau balas dendam
Balas dendam!”

Nisan sendu jadi saksi bisu
Gelegar bara yang tak terbaca ingatan dunia.
Aku perlahan limbung
Dalam lautan maut yang mengunyah
Riwayat kealpaanku dalam sejarah.

Steve Marten ( Foto/Dokpri)

Penulis : Steve Marten (karyawan pada Perusahaan Tambang-batu Hijau KBS-NTB)


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button