cerpen

Puisi-Puisi Wandro J. Haman

Ilustrasi: wordpres.com

Sirna

Sepenggal kisah kau toreh dalam sekejap
dan berlalu tinggalkan goresan pekat
Bersama mega yang minggat dihembus angin
kau menghilang tak berjejak
Bak dedaun kering
Melayang, menghilang dihempas angin sepoi

Pernah kau ucap susah senang yang sama-sama
Juga jatuh bangun yang tidak sendirian
Namun waktu telah menelan apa yang telah kau ucap
Waktu juga yang akan membalas
apa yang telah kau sia-siakan

Mencintai Hingga Luka

Dalam temaram cahaya purnama
Aku memahat nisan untuk hati yang tengah berduka
Bersama meredupnya sang senja di pelataran petang
Aku menggusir kenang yang telah menuai luka

Seiring hati yang sedang melarat
Aku mengais sisa rindu di ujung lupa
Menambal hati yang kian sekarat
Segelintir inggat mencampakku pada puing-puing luka
Seketika anganku berteriak menembus awan
Aksara jiwa menyanyikan kidung-kidung duka

Menghibur sukma yang kian lama terkapar
Terima kasih telah membuatku mencintai sedalam ini
Hingga aku terluka
Atas segala rasa yang bertepi di ujung sungkawa

Serpihan Masa Lalu

Kita adalah reruntuhan masa lalu
Kisah usang yang telah asing
Serpihan masa lalu yang telah melalui masa
Menidurkan sederet kenang dalam kening
Di balik senyum simpul
Dengan asa yang tersumpal

Pernah dengan asyik di samping
Sekarang dengan isak bersimpang
Dulu dengan cinta yang meluap, kini melupa
Perasaan yang mulanya elok, kini berkelok
Mengoyak kalbu yang tak sempat terkabul
Yang dulu saling paham, kini hampa
Karena segala ingin telah menjadi angin

*Penulis adalah mahasiswa Sastra Inggris Universitas Wijaya Putra, Surabaya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button