Puisi

Puisi-Puisi Yohan Mataubana

Untuk kau yang merapal nasib

Pejamlah matamu, sebab di sana segala diam terungakap lewat doa yang kau rapalkan tiap malamnya.

(Yohan Mataubana)

Pembunuhan

Kau segera gelisah di malam menuju puncak pemakam mimpi
suamimu belum pulang sementara anak – anak mengisyaratkan kutukan hujan
dingin meranggas pada tempat tidurmu
kau berharap pintu akan diketuk dari seseoarang yang membunuh ingatanmu
tak peduli kau tentang berapa lamanya rindu berdetak

Baca Juga Serdadu di Balik Bangku

Hinggah jarum jam masih saja menusuk penantian
di kaca jendela kau menatap tubuhmu keluar
sambil mendengar burung hantu mengiur di pohon angsana
Anakmu merengek minta susu
dan kau membiarkan tangisan ini pergi dari sebuah labirin yang entah
barangakali hati sesuatu yang parau sedang didegungkan
anak itu. Dia pergi membawa senyuman tanpa arti.
“ibu, kenapa engkau membunuhku? “

Baca Juga Puisi-Puisi Defri Noksi Sae

Untuk kesekian kalinya kau menatap kegelisahan lantaran mengoyak dada
Anak itu tersenyum naik surga
Pisau di tanganmu tertawa bahagia.

(Ledalero, November 2020)

Sunyi

Kau tak akan paham
Untuk sampai di sini,
kegelisahan selalu menjawab kejam
tak bisa kuharap doamu melantum dupanya ke langit.

Jauh di malam minggu Tuhan sedang sibuk dengan tuaian sunyi
untuk kau yang merapal nasib
pejamlah matamu sebab di matamu
tempat segala diam terungkap.
Ledalero dan segala bentuk
Kesunyiannya.

(Ledalero, November 2020)

Baca Juga Puisi-Puisi Sari Yovita

Mengucap Seseorang pada Bayangan

Kepalamu pening meninggalkan bekas pecahan kata dan kalimat yang beralamat namanya
Mata ingin sekali kau pejam di jam yang pernah dinyatakan rindu antara kau dan beberapa bayangan masalalu

Mata dan kepalamu bertengkar seperti burung minta makan pada induknya
tanpa paham kelelahan itu.
Teramat dalam sesak ini, menatapmu penuh lesu

Baca Juga Blokir Maling Dengan Pendidikan Keteladanan

Kutatap air mata itu berkadar sadis
mengupas kotoran di hatimu sehabis
kenang tak bisa pulang.
Kekasih,….
Tetaplah mengarahkan syukur padaNya.

(Ledalero, November 2020)

Yohan Mataubana (Foto/Dokpri)

(Penulis Mahasiswa STFK Ledalero dan penulis sangat mencintai puisi,baginya puisi adalah hati)


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button