Puisi

Puisi-Puisi Sari Yovita

Namun rindu, telah menjadi alasan
Kau tak punya hak untuk melarangnya hadir di sana,

kecuali kalau kau mampu menuntaskannya dengan berada bersama di sana, kekasih.

(Sari Yovita)

Di Lembor Kenangan Kita Tertinggal

Waktu itu,
Aku menelusuri gerbang kota
Mencari jejakmu yang sempat sirna
Ditelan hiruk pikuk membius hasrat,
Dengan semangat

Aku sempat letih lesuh
Ingin rasanya menyerah dengan rasa yang menggarang
Namun ternyata kaupun mencari
Jejakku yang tak kelihatan

Karena, setelah sekian lama
Mengais kisah romansa di dunia maya
Tepat pada hari itu, yang adalah bukti
Dari setiap rindu juga harapan
Berhasil kita wujudkan bersama
Nana, aku mencintaimu

Dering ponsel menjadi perantara
Menggetari perangkat tubuhku
Dan dirimulah yang menyebabkan getaran itu ada
Aku meronta tanpa resah,
namun, girang dengan sangat

Tak kusangka
Ternyata kau mengenali wujud nyataku
Kukira belaka ternyata memang nyata

Jabat tangan yang ditemani senyum manismu
Merupakan awal jumpa penuh haru
Sampai aku tak kuasa menahan segala rindu
Yang telah lama terbendung penuh renggut

Hingga jatuh ke dalam dekapanmu
Adalah pembalasan terbaik
Untuk segala resah, curiga, ragu, pun rindu

Hari itu,
Yang adalah hari istimewa dan bersejarah
Telah aku catat di dalam lembaran hati
Agar kelak abadi sampai kita menua
Karena rindu telah dimerdekakan
Di hari itu
Iya, di Lembor tempatnya

Teruntuk Lembor,
Tempat bersejarah itu
Maaf, kisah kami telah kandas
Terima kasih,
Kenangan kita masih tertinggal di sana
Selesai.

Baca Juga Puisi-Puisi Yohanes Mau

Baca Juga Kumpulan Puisi Patrik Poto

Ini, Untukmu

Aku, tidak pandai memilah diksi
Akupun, tidak tahu majas seperti apa
Yang paling tepat untukku pakai
Tetapi yang jelas puisi ini

Adalah satu dari banyak puisi
Yang pernah aku rangkai
Apapun isi dan pesan dari puisiku ini
Semuanya adalah untukmu
Dan tertuju kepadamu saja

Aku tahu, engkau pasti risih
Namun, aku lebih memilih masa bodoh
Karena sekarang ini
Perihal kamu melulu, berhasil menggerakkan imajinasiku
Untuk mengadu kisah pada pena dan kertas

Dan, …engkau harus tahu
Sekarang ini begitu tertumpuk rapi
Dan telah banyak menampung
Banyak hal mengenai hadirmu, itu

Bahkan, apa bila kertas dan pena ini
Nekat bertanya, seberapa dalamnya kau dalam kisahku.
Kekasih,…tentang kita tak cukup untuk di defenisikan.
Ahhhh, …..

Namun sayang,
Engkau lebih memilih untuk pergi
Aku tak punya hak, menahanmu di sini
Meski, tak rela, reduplah rinduku

Sudah kuputuskan untuk membungkus
Dalam bingkisan kasih, yang kini pisah
Dari dalamnya relung hati, ini

Lalu, tentangmu kali ini dan seterusnya
Hanyalah sebuah catatan singkat
yang sering kutitip di dalam setiap lisanku
Pas.

Baca Juga Ayahku Menjelma Pria Berjas Putih

Baca Juga Blokir Maling Dengan Pendidikan Keteladanan

Rindu Dendam

Di rumah kenangan kita
Aku membanjiri diri
Dengan amarah beserta sesal

Namun rindu,
Menjadi alasan utama
Mengapa aku menetap di rumah kenangan itu

Kau tahu ?
Entah berapa banyak sajak elegi
Yang telah kutulis atas nama rindu yang melekat

Sepertinya kau telah berhasil memenangkan hatiku kala itu
Meski kini aku bukan lagi ia yang pernah mengisi hidupmu

Dan,… tepat pada hari ini
Ruang imajiku kembali menghadirkanmu yang telah lama sirna
Ini memang mustahil seperti hadirnya bianglala kala hujan turun

Imajiku memperlihatkan sosokmu yang kini jauh berbeda
Rupanya kau tumbuh dengan baik setelah perpisahan kita kala itu

Tragisnya,
Kenangan tetap saja menghantuiku
Melalui sosokmu yang sulit dilupa
Meski ini hanya sebatas rindu
Yang mungkin memupus

Namun aku sengaja menyimpannya,
bukan karena aku ingin kau kembali
Namun akun ingin menjadikan rindu ini sebagai dendam

Iya benar, sebuah dendam
Agar kau dan kenangan tidak menghilang
Kelak akan terus menjadi pelajaran dan jalan
Supaya aku lebih mahir untuk mengabadikanmu
Sebagai sosok istimewa yang pernah ada

Baca Juga Puisi-Puisi Steve Marten

Baca Juga Pilkada

Atas Nama Jarak

Dengan begini aku langitkan segala harap yang tertera
Untuk setiap rindu yang menyayat angan kelak temu berpihak
Agar jari jemari yang hampa akan saling mengisi di setiap ruas-ruasnya.

Atas nama jarak
Melaluinya aku bisa memahami sebuah kerinduan
Yang tulus tanpa memaksa perihal siapa dan mengapa.

Atas nama jarak
Jangan lagi ragukan perasaanku
Sebab aku telah menanamkan benih cinta yang tak lagi buta
Aku ada dan kau perlu menyadari hal itu.

Atas nama jarak
Tidak lagi ada percecokan antara aku dan kisah laluku
Karena kau telah memberiku peta petunjuk untuk keluar dari belenggu kepahitan itu
Sampai aku bisa keluar lalu tersesat didalam dirimu.

Atas nama jarak
Aku mencintaimu sungguh
Pahamilah untuk setiap keanehan yang ada
Karena ujud rindu yang tak terucap sudah ada di setiap keanehan itu.

Atas nama jarak
Aku di sini menanti tanpa pamrih
Kemarilah, aku sudah menunggu.

Teruntuk Kau, yang Kuhormati

Dengan hormat,
Maaf dengan lancang
Melalui tulisan ini
Aku ingin engkau tahu
Bahwa engkaulah alasan aku menulis
Dan engkaulah pemilik rasa
Yang tertanam kuat di relung sukmaku

Melalui tulisan ini juga
Engkau harus tahu
Bahwa perihalmulah yang telah memenuhi buku harianku.

Maafkan aku untuk kelancanganku dan juga kesalahanku.
Apabila engkau menemukan kosakata yang rancu
Anggap saja, itu adalah bentuk ketidaksempurnaanku.

Lebih dan kurangnya
Aku mencintaimu.

Harap engkau maklumi,
Terima kasih.

Sari Yovita (Foto/Dokpri)

Penulis Mahasiswa, AMPTA Yogyakarta


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button