Puisi

Ranjang Yang Selalu Kubuat Basah Antologi Puisi Indrha. Gamur

Sehabis meniduri berbagai tanya ,Tubuh kini tebaring lemah di atas ranjang itu, sepertinya belum klimaks.Tuhan punya mau, kekasih

(Indrha Gamur)

Ranjang Yang Selalu Kubuat Basah

Gerimis tipis menepi
pada persimpangan sunyi, aku sempat menempatkan sebagian rindu.
Derai rintik yang mendengus dengan ketus
Apalah dayaku, yang hanya bisa mengisolasi kan bibir yang kelu tanpa kata

Gerah yang menggairahkan
Menimbulkan kekacauan pikiran.
Mencakar langit kamar, mendobrak keheningan dengan di ikuti lebam, lembab pada kantong mata

Begitu ngerinya menyaksikan diri sendiri, ditikam.
Tak bisa menggambarkan lagi seperti apa dan bagaimana.

Di atas ranjang, tubuh terlentang lemah
Habis ditiduri oleh pelbagi tikaman yang tak kasat mata.
Di luar hujan, basah-basahnya sampai di dalam, kamar.

(Surabaya, Desember 2020)

Baca juga Lembata Menangis

Kau Yang Selalu Menjadi Judul

Waktu kian berlalu,
Jarum jam menuju tepat pukul enam belas empat delapan
Itu, artinya, malam sebentar lagi datang

Separuh ingatan menuju pada tubuhmu
Hujan, dan ilusi sepertinya sudah sepakat, mengawinkanmu dalam imaji
Ingin berlama-lama di ruang romansa itu

Namun,……
Waktu tak cukup banyak..
Gemercik rintik di balik tirai
Mengalunkan rindu pada tembok putih pada dadamu.

Surabaya memang indah
Namun tak seindah, teduh pada matamu.
Tak terurai lagi, bila Pisah merangkul kita.

Kekasih
Hujan tak kunjung merangkak reda
Barangkali, menerima pesan suara darimu adalah penawar dari racun rindu yang terus menggigil.

Ya,…..itu, jika kau bersedia
Mengirimkannya untuk aku yang kini kau sebut, puisi paling utuh.
Kukira, kau paham dengan maksud hati sebenarnya.
Ini bukan teka teki.

(Surabaya, Desember 2020)

Baca juga Cinta Seorang Gadis Antologi Puisi Emanuel Ervahno

Kau Yang Kuseduh Terlalu Dalam

Kau, tak pernah menjadi akhir
Selama hidup dengan kata-kataku.
Tak pernah redup meski jenuh kerap kali mengintai kita di balik kata

Kau, tak akan pernah menjadi paragraf utama,
Sebelum kau sepakat mempekatkan kekitaan kita
Kalimat per kalimat kubuat
Mestinya, kau memaknainya satu persatu.
Aku tidak memaksa, setidaknya
Kau telah mendapatkan malam paling sensual yang kupersembahkan untuk kau arungi.

Lalu, ketika malam benar-benar gelap
Kau cukup merayunya perlahan .
Hingga kau mampus di atas kasur yang kasar itu .

Puisi adalah separuh tubuhku.
Kau bisa saja melakukan apa saja semaumu, semuannya
Ingat, lepas kau pengang kendali atas dirinya.

Aku, selalu merapalmu tanpa ragu-ragu
Meraba tanpa merampas.
Merampas, tanpa meramas dan memeras.
Kata-kata lebih tajam, jika kau nekat membantainya dengan menggandakannya dalam Adamu.
Kau kuseduh terlalu dalam.

(Surabaya, Desember 2020)

Baca juga Senja di Oesapa Berserta Kenangannya

Indrha.Gamur (Foto/Dokpri)

(Penulis antologi puisi “Rasanya seperti Rindu tetapi entah apa namanya & juga sebagai pemimpin umum redaksi banera.id)


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button