Opini

Realitas Cinta Tanpa Syarat

“Cinta melekat dengan esensi manusia dan memberi makna terhadap eksistensi manusia”

Ilustrasi: kumparan

Oleh: Fredy Langgut

Secara hakiki, manusia merupakan salah satu makhluk yang bertendensi keluar dari dirinya dan berhubungan dengan sesuatu yang berada di luar dirinya. Dorongan hakiki ini menampilkan sisi homo sicius (makhluk social) manusia. Manusia merupakan makhluk sosial yang memiliki kualitas murni dalam kehidupan bersama yakni berhubungan dengan orang lain.

Manusia tidak dapat menemukan jati dirinya tanpa kehadiran orang lain. Keberadaan yang lain membantu manusia menemukan identitas dan kapasitas yang ada dalam dirinya. Sebagai makhluk sosial, ia selalu membutuhkan kehadiran orang lain.

Emmanuel Levinsa melihat yang lain sebagai penegasan atas keberadaan dirinya di mana yang lain bukanlah objek untuk dikuasai atau sebagai pelempiasan nafsu semata tetapi subjek yang membantu dalam menemukan diri sendiri. Sesama merupakan subjek yang butuh dihargai, butuh kenyamanan dan menolak kekerasan.
Dalam relasi dengan sesama, salah satu hal yang sangat diperlukan adalah cinta.

Seorang penyair besar bernama Jalaluddin Rumi dalam karya momentalnya Matsnawi, mengatakan bahwa tanpa cinta dengan yang lain manusia akan” membeku”. Cinta merupakan kekuatan yang memampukan manusia bertindak dan membentuk makna hidup. Cinta dapat dikategorikan sebagai pilar utama dalam membangun kehidupan bersama. Cinta itu harus berwujud beyond (melampaui) yang mencakup segala aspek kehidupan manusia baik antar-agama, antar-kebudayaan, antar-komunitas, antar-bangsa, dan lain sebagainya.

Cinta menjadi bangunan utama dalam membangun relasi yang bercita rasa kemanusiaan yang berujung pada bonum commune yang diinginkan bersama.
Cinta itu bukan hanya sebatas ungkapkan yang hadir dalam kata-kata puitis. Cinta itu harus diaplikasikan dalam kehidupan bersama. Salah satu bentuk aplikasi cinta dalam kehidupan bersama adalah memahami keunikan dalam diri dan berusaha membangun dialog antar-sesama guna merangkai keunikan menjadi kekayaan bersama.

Tujuannya bukan hanya untuk saling memberi perhatian pada perbedaan melainkan sebagai jalan menuju kesadaran diri bahwa manusia sejatinya kaya akan makna. Hal ini menuntut dua sikap yang harus dipenuhi yaitu keterbukaan dan saling menghargai. Sikap terbuka berarti masing-masing pribadi berusaha mengungkapkan jati dirinya beserta keunikan dalam dirinya kepada yang lain.

Di samping itu, dituntut juga sikap saling menghargai satu sama lain tanpa syarat. Sikap ini sangat penting mengingat perbedaan-perbedaan dalam diri dapat memungkinkan munculnya masalah diskriminasi atau kekerasan. Kepenuhan akan dua sikap ini dapat menampilkan makna dan dorongan yang tersirat dalam diri manusia yakni orientasi mencintai sesama tanpa syarat.

Cinta merupakan salah satu hal fundamental dalam diri manusia. Cinta tidak dapat dipisahkan dari manusia. Cinta mampu memberikan makna hidup dalam pergaulan dengan sesama baik dalam lingkungan keluarga, komunitas, agama dan politik. Cinta melekat dalam esensi manusia dan memberi makna terhadap eksisistensi manusia.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah seperti apakah cinta yang sesungguhnya? Bagaimana kita harus mengaplikasikan cinta yang sesungguhnya dalam masyarakat yang plural? Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang tidak pernah memandang latar belakang seseorang terutama dalam busana budaya yang kompleks, pluralitas dan keanekaragaman agama.

Cinta harus selalu bersifat universal di mana saya, kamu dan kita dipandang dalam satu bingkai yang sama yaitu manusia. Kapasitas dan tampilan fisik dalam diri seseorang dirangkai dalam suatu bingkai yakni keunikan yang menjunjung tinggi cita rasa kemanusiaan. Prinsip persaudaraan tanpa syarat dalam perbedaan pun harus diterapkan dalam satu bangsa pluralis.

Untuk dapat mengaktualisasikan hal ini, sangat dibutuhkan akses penerapan cinta tanpa syarat dan moralitas yang luhur kepada masyarakat. Moralitas dapat memberi kesadaran masyarakat dalam menghadapi realitas keberagaman dalam kehidupan bersama. Moralitas merupakan salah satu hal yang mengatur prilaku manusia berdasarkan nilai yang disepakati bersama.

Moralitas sebuah bangsa yang plural sangat dibutuhkan sebagai perekat keberagaman di bawah payung persaudaraan, sebab realitas keberagaman dalam sebuah bangsa yang plural harus dijunjung tinggi oleh semua masyarakat. Hal ini tentunya membuat eksistensi kita sebagai pencinta tanah air semakin bertumbuh subur. Sebab pada hakekatnya persaudaraan dan cinta selalu memberi kesejahteraan dalam segala aspek kehidupan manusia khususnya dalam mempertahankan keamanan dan kesejahteraan bangsa.

Memang hal ini cukup sulit untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Tetapi penerapan prinsip persaudaraan dapat membawa kenyamanan dalam diri setiap manusia di tengah perbedaan apapun.

Di tengah pandemik Covid-19 yang sedang terjadi sekarang ini, kehadiran orang lain selalu dilihat sebagai sebuah bahaya yang mengancam eksistensi diri. Kehadiran orang lain selalu dicurigai sebagai penyebar virus Covid-19, bahkan yang lain dilihat sebagai demons karena memiliki kekuatan gaib yang dapat menghancurkan eksistensi diri.

Kenyataan lain yang muncul akhir-akhir ini juga adalah kenyataan bahwa manusia cendrung berbicara tentang orang lain dan lupa melihat kembali dirinya. Kecemburuan sosial menguak dalam kata-kata sindiran terhadap kesuksesaan dan mencoba mempublikasikan kelemahan demi menjatuhkan. Hal ini merupakan realitas yang sedang dihadapi oleh manusia selama masa pandemik covid-19.

Jika ditelaah lebih jauh, realitas ini dilatarbelakangi oleh minimnya kesadaran manusia tentang kehadiran sesama sebagai pemberi makna kehidupan dan jalan menuju pengenalan diri. Berkaitan dengan hal ini, penerapan prinsip persaudaraan dan cinta tanpa syarat dalam kehidupan bersama sangat dibutuhkan. Kedua hal ini dapat membantu manusia menerima kehadiran yang lain tanpa memandang latar belakang yang melekat dalam dirinya.

Sebagai makhluk sosial, cinta tanpa syarat harus menjadi sarana utama dalam kehidupan bersama dan setiap individu harus mampu menanam dan memupuk rasa cinta terhadap sesama. Ketika individu atau masyarakat mampu menghidupi cinta tanpa syarat dalam kehidupan bersama, maka hasrat untuk membangun kehidupan bersama yang lebih harmonis dapat terwujud. Dengan kata lain, dalam situasi pandemik covid-19 masyarakat disarankan agar menggunakan kesempatan ini untuk merefleksikan semua aspek kehidupan.

Tujuannya tentu saja bukan untuk menceritakan kejelekan orang lain dan menjatuhkan keharmonisan relasi dalam kehidupan bersama melainkan berusaha untuk menjadi pribadi yang luhur dalam segala aspek kehidupan di tengah pluralitas.

* Mahasiswa Semester VII Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button