Renungan

Renungan Hari Minggu Paskah VII (Minggu, 24 Mei 2020) Hari Minggu Komunikasi Sedunia

Oleh: Rm. Ovan, O.Carm
(Imam Karmelit. Saat ini tinggal di Komunitas Rumah Retret Nabi Elia Mageria-Mauloo)

Injil Yohanes 17:1-11a

Doa; Bahasa cinta dalam komunikasi Batin dengan Bapa

Ada seorang bocah dari kalangan keluarga yang sederhana, namanya Randy. Suatu waktu ibu dan ayahnya pernah berjanji kepada Randy “Randy, jika nanti saat ujian kenaikan kelas dan kamu mendapatkan prestasi tiga besar, maka ayah dan ibu akan membelikan kamu sebuah handphone sebagai hadiah atas prestasimu.” Janji tersebut memberi peluang harapan yang begitu besar, sama besarnya dengan keinginan Randy untuk memiliki handphone.

Waktu yang dinanti-nantikan itu tiba. Seperti biasanya proses pembagian rapor didahului dengan doa, evaluasi secara keseluruhan oleh wali kelas, pembacaan prestasi hingga proses pembagian rapor siswa. Pada saat pembacaan prestasi kelas oleh wali kelas, di sudut belakang ruangan yang kira-kira berukuran 4 kali 8 itu, Randy sedang menutup mata dan sambil mengatupkan jari-jemari tangannya sembari menyampaikan permohonan atas keinginannya itu. Dan atas segala harapan yang membuncah akhirnya Randy keluar sebagai juara 1. Yang terpenting bagi Randy bukanlah juaranya itu namun kepada janji yang telah ayah dan ibunya berikan.

Kisah sederhana Randy di atas kiranya memberikan sebuah kemungkinan atas peluang-peluang hidup yang kita jalani. Setiap kita hidup dalam ruang dan waktu dengan cita-cita yang berbeda atas motivasi-motivasi yang juga dilandasi oleh kepentingan-kepentingan yang berbeda. Perbedaan motivasi dan kepentingan ini menjadi jalan bagi kita menempuh panggilan hidup kita masing-masing. Kita semua dipanggil dengan satu tujuan abadi namun panggilan hidup kita memiliki pilihan-pilihan yang begitu mencolok. Ada yang dipanggil sebagai dokter dan secara tidak langsung tanpa sadar ia sedang menjalankan pilihan terbaik dalam hidupnya. Panggilan ini tidak bisa dipaksakan atau dikehendakki oleh ego dalam diri kita atau ego dari orang-orang di sekitar kita. Seringkali kita dipaksa untuk menjadikan diri kita seperti ini atau seperti itu oleh orang lain, bahkan diri kita sendiri pun memiliki ego untuk sedapat mungkin sama dengan si A atau Si B, misalnya. Randy dalam kisah pengantar di atas melukiskan betapa ia termotivasi oleh panggilan egonya yang cukup untuk memiliki handphone. Secara sederhana handphone memiliki daya tarik tersendiri bagi Randy. Keinginan yang besar memotivasi Randy untuk terus belajar dan bergelut dengan buku-buku pelajaran agar sedapat mungkin egonya itu terpenuhi. Apakah iya, ego memiliki nilai positif dalam diri kita? Bisa saja.

Kisah Randy merupakan sebuah pengantar sederhana atas permenungan kita hari ini. Gereja sejagat hari ini memperingati hari komunikasi sedunia. Komunikasi secara gamblang dapat dipahami sebagai dialog antara individu-individu. Selain itu komunikasi juga dapat dipahami sebagai dialog reflektif artinya komunikasi dapat menjadi dialog dalam diri kita sendiri. Oleh karena itu komunikasi menjadi sangat penting dalam hidup kita. Selain sebagai sebuah benda yang memperlancar hubungan kita dengan sesama kita yang berada jauh dari kita, komunikasi juga dapat menjadi sumber bagi kehidupan kita tentang perkembangan-perkembangan terbaru dalam realitas hidup kita, pun menjadi alat untuk bisa saling memahami segala perbedaan yang ada dalam realitas hidup kita.

Menariknya, pada hari minggu paskah VII ini, dalam euforia hari komunikasi sedunia yang diperingati oleh Gereja Sejagat, Yesus hadir melalui penginjil Yohanes memberikan sebuah wasiat dan menyampaikan sebuah doa kepada Bapa-Nya. Wasiat tersebut diberikan oleh Yesus sebelum wafat-Nya: setelah menyelesaikan tugas-Nya, ia akan kembali ke surga. Hidupnya akan dipersembahkan bagi kemulian Bapa-Nya dan untuk keselamatan umat-Nya (Bdk. Yoh 17:1-2). Yesus berdoa bagi umat-Nya yang berziarah di dunia ini, dan Dia akan mengirimkan seorang penolong yaitu Roh Kudus yang akan selalu menyertai kita sekalian selama-lamanya.

Sama saudara yang terkasih dalam Kristus

Wasiat dan Doa Yesus tersebut menjadi sebuah ungkapan hati sang anak kepada Bapa-Nya. Yesus menyadari akan tugas perutusan yang diberikan Bapa kepada-Nya. Tugas perutusan ini menjadi pengenapan atas janji Allah kepada “bangsa Israel” yang menjadi simbol penggenapan atas keselamatan seluruh umat-Nya. Doa yang diutarakan oleh Yesus dalam ksiah penginjil Yohanes yang kita dengarkan hari ini, melukiskan seluhur harapan seorang anak atas cinta dan pengorbanan yang mendalam dalam tugas pelayanan-Nya. Selain itu, doa Yesus menandaskan bahasa cinta Allah kepada seluruh umat-Nya. Yesus menjadi tanda nyata bahwa Allah turut berbicara dan berdialog dengan kita umat-Nya.

Di tengah situasi dunia saat ini yang kerap rapuh akibat goncangan pandemi Covid-19. Yesus dalam sabda bahagianya hari ini memberi ruang besar bagi harapan hidup kita. Yesus menyampaikan pesan-Nya melalui Doa. Doa menjadi komunikasi batin yang terdalam atas situasi yang sedang kita hadapi saat ini. Tergoncangnya dunia dalam berbagai aspek kehidupan pasca merebaknya covid-19 saat ini bisa jadi menjadi sebuah memoriam atas realitas hidup yang telah kita jalani. Berbagai polemik yang kian akrab diperbincangkan dalam dunia media sosial, surat kabar dan berbagai portal televisi saat ini tak pernah jauh dari wabah pandemi covid-19. Manusia sedang berada dalam sebuah fase tapal batas. Artinya ktia semua berada dalam sebuah kepasrahan total atas seluruh mujizat yang mungkin terjadi. Kita semua seolah berada dalam fase kehidupan perjanjian lama ketika bangsa Israel berada dibawa perbudakkan Mesir juga berkaitan dengan kisah tentang air bah. Situasi tapal batas ini semakin mengacaukan seluruh kehidupan kita ketika alat-alat komunikasi menjadi satu-satunya pilihan terbaik atas komunikasi-komunikasi yang ingin kita jalani, membuang kejenuhan pada segala tumpukkan tugas sekolah, diktat kuliah dan hal-hal lainnya yang kian hari menjadi rutinitas yang begitu bosan. Handphone, smartphone, gadet dan berbagai media sosial menjadi kian akrab hingga membuat kita begitu memiliki kebergantungan yang sangat terhadapnya.

Situasi tapal batas ini telah masuk dan merasukki seluruh kehidupan umat manusia baik dalam segi sosial-politik, budaya, agama dan berbagai aspek kehidupan manusia lainnya. Tentu secara religiositas iman kita semua saat ini sedang digoncang habis-habisan seolah berada dalam dua kehidupan yang berbeda antara tetap menjalani realitas iman kita atau berada dalam sebuah fase “diam” diri. Kita semua seolah berada dalam hidup sepasang kekasih yang long distance relationship (LDR), sekalipun kita sedang berada dalam jarak 2-10 meter. Siapa yang menghendaki semuanya ini terjadi? Tentu saja subjek pertama yang sering menjadi pelarian hidup kita ialah Tuhan. Ketika dan hanya pada saat berada pada situasi kepasrahan total dalam situasi tapal batas Tuhan menjadi subjek dan objek yang sering dipersalahkan. Pelarian dengan amarah seturut ego yang begitu kuat dalam diri kita memberi kematian yang singkat atas hidup kita. Seolah-olah Tuhan yang menghendaki semuanya terjadi. Seolah-olah Tuhanlah satu-satunya alasan dan tempat kita meluapkan segala kebosanan atas hidup yang kita alami. Lalu siapa yang patut kita salahkan?

Keadaan dunia khususnya umat manusia saat ini adalah sebuah situasi problematis yang bisa jadi didasari oleh beberapa motivasi kepentingan. Yesus menyampaikan bahasa cinta-Nya dalam sebuah komunikasi batin dengan Bapa-Nya. Yesus sungguh-sungguh memberi kesadaran pada diri kita atas kepasrahan yang menjurus pada sebuah keadaan tapal batas. Melalui doa, Yesus memberi peluang komunikasi yang mendalam dalam dialog batin itu. Motivasi yang perlu dijalani dalam dialog adalah motivasi atas kesadaran dan cinta yang total pada seluruh rencana dan kehendak Allah. Seluruh pelarian kita dalam situasi pandemic covid-19 ini seharusnya semakin menyadarkan kita untuk kembali dekat dengan Allah. Gadget, smartphone, handphone dan berbagai media sosial lainnya bukan menjadi satu-satunya alat dalam pelarian kepasrahan total kita.

Melalui penginjil Yohanes, Yesus menerangkan sebuah wasiat bahwa ia akan memberikan Roh Kudus yang akan selalu ada dan menyertai kita semua dalam seluruh tugas perutusan hidup kita. Iman akan-Nya sebenanrya menjadi tantangan besar yang perlu direfleksikan dan dikoreksi kembali dalam seluruh kehidupan kita. Oleh karena itu hendaknya dalam menjalani panggilan hidup kita masing-masing, kiranya kita tetap diperkaya oleh pengalaman iman dan selalu berada dalam jalur yang sama yang mengarahkan kita kepada keagungan dan kebesaran cinta-kasih Allah.

kepada keagungan dan kebesaran cinta-kasih Allah.
Bukankah, kita adalah anak-Nya juga milik-Nya? Dan bukankah kita adalah umat yang dikasihi-Nya?
Ingatlah bahwa selama kita tidak pernah menutup mata dengan-Nya, selama itu juga Allah selalu membuka mata-Nya bagi kita dalam ulur-uluran kasih tangan-Nya.

Selamat merayakan hari minggu komunikasi sedunia.
Tuhan Memberkati.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button