Renungan

Renungan Kamis Putih

Oleh RP. Jimy Dolu, O. Carm
(Imam Karmelit dan saat ini berkarya di paroki Renya Rosari Deri-Toraja Utara- Keuskupan Agung Makasar)

Bacaan I : Kel.12:1-8.11-14
Mazmur : 116: 12-13.15-16bc.17-18
Bacaan II : I Kor. 11:23-26
Injil : Yoh. 13: 1-15

DI RUMAH SAJA

Saudara-saudari yang terkasih,
Pesta perjamuan itu dirayakan oleh Bangsa Israel, sederhana tanpa tempat suci yang khusus, tanpa imam sebagai pemimpin, tanpa mezbah, mereka menyelenggarakan di rumah saja seturut ketentuan warisan turun temurun. Kelezatan itu hanya dibakar saja bukan direbus dan dibumbui. Pesta perjamuan itu nampak biasa saja tetapi semuanya larut dalam kebahagiaan bertepatan dengan kebiasaan para gembala yang dengan sorak sorai kembali ke perkemahan pada malam yang paling terang. Mereka makan roti tak beragi, sayur pahit menjadi bumbu penyedap, pakaian disesuaikan, pinggang berikat, kasut pada kaki dan tongkat di tangan (Kel.12:11). Kesibukan kecil dan biasa saja namun itulah pesta kenangan akan keselamatan dari Allah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Ketetapan itu sepertinya tak jauh berbeda dengan persiapan pesta perjamuan semua umat Katolik malam ini. Tidak ada lagi Altar megah, mimbar dan gegap gempita manusia dari seluruh penjuru yang hendak merayakannya bersama. Gereja dan Biara semuanya sunyi, umat ada di rumah masing-masing dan tentu di sana ada pesta perjamuan yang mirip dan sederhana.

Gambaran kesederhanaan, apa adanya, ketenangan dan kedamaian dapat dirasakan juga saat ini. Semuanya ini memiliki makna simbolis yang hendak dinyatakan Tuhan di tengah pandemic covid-19. Inilah perjamuan Ekaristi dan kita harus yakin bahwa inilah Ekaristi yang sesungguhnya, yang ditetapkan oleh Kristus menyempurnakan kebiasaan awal Bangsa Israel yang berkumpul untuk menikmati perjamuan sederhana, sayuran pahit dengan daging bakar juga roti tak beragi. Tindakan itu diikuti dengan pengolesan darah pada sudut tenda dengan maksud untuk menolak segala macam bahaya dan ancaman, agar semua terlindungi sebab saat itu pula Tuhan akan melewati rumah mereka, semuanya diberkati dan damai.

Saudara-saudari yang terkasih,
Pada Perjamuan sederhana malam ini, kita diajak untuk merenungkan beberapa misteri karya Cinta Allah yang sudah ada sebelum segalanya ada.

Pertama; Pesta perjamuan itu adalah karya Allah atas CintaNya yang menyelamatkan, disempurnakan oleh Kristus melalui kurban Tubuh dan DarahNya yang menjadi santapan bagi setiap orang yang percaya. Paulus mengingatkan kita, “setiap kali kamu makan roti ini dan minum dari cawan ini, kamu mewartakan wafat Tuhan sampai Ia datang (Kor.11:26). Kita masih tetap makan dan minum dari rumah kita masing-masing dengan kesadaran dan percaya bahwa Allah mencintai kita dan akan membebaskan kita dari kemalangan.

Kedua, Tuhan akan lewat; melalui PuteraNya, Yesus Kristus yang akan lewat melalui misteri jalan penderitaan, wafat dan kebangkitanNya yang dimulai dengan membasuh kaki, tanda Ia menghapus kelemahan, kecemasan hati kita. Kristus akan melindungi, membebaskan dan menyelamatkan. Pesta Roti tak beragi, dipenuhi dengan Pesta yang kita rayakan saat ini, pesta perjamuan yang ditetapkan oleh Kristus sendiri. Pesta Keselamatan tetap menggema dalam hati meski tak segemerlap tahun sebelumnya.

Ketiga; perjamuan itu dilakukan bersama para murid dengan percakapan-percakapan kaya makna. Perjamuan itu mulai dari Rumah si Anu yang ditunjuk oleh KRISTUS.
Rumah yang dimaksudkan adalah hati kita. Perjamuan itu dimulai dalam hati pribadi yang mau menerima Kristus. Menarik Penginjil membawa kita sampai pada percakapan puncak dengan perintah “maka kamupun wajib saling membasuh kaki” (Yoh.13:14). Indikasinya bahwa Yesus mau menyatakan penetapan perjamuan sebagai kenangan akan Dirinya dilakukan di Rumah Hati kita masing-masing. Ekaristi yang hidup mengandaikan hati kita yang terbuka, yang tidak bermanipulasi dengan pakaian baru, ritual yang sekedar penghibur mata jasmani. Kita semua rindu untuk menyambut santapan Tubuh dan DarahNya secara langsung, tetapi marilah dalam situasi ini, kita menjadikan Tubuh dan DarahNya benar-benar hidup dengan mendoakan para penderita wabah Covid-19 dan bersama semua pihak dalam cara dan langkah menjadikan bumi rumah kita baik adanya.

Singkirkan diri dari segala prasangka, dari adu argumen tanpa solusi, dari klaim pembenaran diri di tengan situasi pandemic covid 19. Semua ritual itu bisa rapuh, kebersamaan dalam perayaan bisa mudah tercerai. Tuhan mengajak kita untuk merayakan kenangan itu secara pribadi, lebih dekat dan lebih intim sebagai simbol pembasuhan, sebab tidak semua kita bersih. Makna perjamuan kini nyata dan tetap kaya makna dalam hidup kita, KITA DI RUMAH SAJA. Ini bukan berarti untuk sekedar mencari kenyamanan diri, untuk terhindar dari mala petaka. Kita di rumah saja untuk mendukung para tenaga medis yang terdepan berperang melawan virus mematikan ini, kita di rumah saja untuk berdoa bersama anggota keluarga bagi sesama kita yang menderita, sembari kita pererat relasi kekeluargaan kita seperti Kristus bersama para murid, yang makan semeja dengan para murid, meskipun diantaranya ada pengkianat. Di rumah saja agar bersama Yesus kita dapat mengoreksi dan memperbaiki, saling membasuh kaki, membasuh dosa kita, membasuh keegoisan kita.

Di rumah saja, Kristus akan lewat membawa keselamatan karena Ia mengasihi kita sampai akhir. Amin.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button