Renungan

Renungan Sabtu Suci (Sabtu, 11 April 2020)

RP. Ovan, O.Carm
Imam Karmelit. Saat ini tinggal di Komunitas Rumah Retret Nabi Elia Mageria-Mauloo.

Bacaan I: Kej 1:1-2:2
Bacaan II: Kel 14:15-15:1
Bacaan III: Yes 55:1-11
Bacaan Epistola: Rm 6:3-11
Mazmur Tanggapan: 118:1-2.16ab-17.22-23
Bacaan Injil: Mat 28:1-10

“…JANGAN TAKUT. PERGI DAN KATAKANLAH KEPADA SAUDARA-SAUDARA-KU, SUPAYA MEREKA PERGI KE GALILEA…”

Salah satu kebutuhan yang tidak kalah penting dalam hidup manusia adalah kebutuhan akan cahaya. Ia menjadi penting karena dapat membantu penerangan di malam hari. Ia penting untuk menjelaskan jalan dan arah hidup yang ingin digapai. Ia juga penting supaya manusia dapat melihat sesuatu secara lebih jelas. Dan kita tahu bahwa di tengah kegelapan yang menyelimuti malam, hal pertama yang selalu dicari oleh manusia adalah cahaya (lewat pelita bernyala, obor bernyala, lillin bernyala, senter bernyala dan sebagainya yang dapat menghasilkan cahaya).

Terlepas dari semua sumber cahaya yang kita pakai untuk perjalanan kehidupan kita, untuk menerangi kegelapan dan untuk memberikan petunjuk serta arah bagi perjalanan hidup kita ke depan, kita tentu memiliki satu sumber cahaya yang tak tergantikan oleh yang lain. Sumber cahaya itu tidak lain adalah Yesus Kristus sendiri. Kristus adalah cahaya hidup kita. Ia adalah terang dunia yang membuat orang dapat melihat besarnya cinta dan kasih-Nya.

Allah selalu memiliki rencana indah untuk manusia. Allah telah mewujudnyatakan-Nya dalam misteri hidup Yesus. Dia datang ke dunia, hidup di antara kita, berbuat baik, menderita, wafat dan bangkit kembali. Itulah rahasia cinta Tuhan bagi manusia. Lewat sabda-Nya malam ini, Tuhan mau menegaskan soal tugas panggilan kita masing-masing dalam memahami rencana keselamatan Allah dan mewartakannya kepada orang lain yang kita jumpai dalam hidup kita setiap hari. Hal ini berawal dari ceritera tentang makam kosong dan penampakan-penampakan Yesus yang bangkit. Kosongnya makan adalah bukti bahwa Yesus telah bangkit. Maria Magdalena dan Maria yang lain pergi ke makam Yesus pada Minggu pagi itu. Mereka bertemu dengan seorang malaikat yang menyingkirkan batu besar penutup pintu masuk makam.
Pergi Dan Menjadi Saksi Tuhan

Pesan paskah Kristus justru disampaikan pertama kali kepada para wanita yang setia mengikuti Yesus. Berita tentang Kristus telah bangkit, menang, mengalahkan lawan-lawan-Nya, telah meremukkan kuasa dosa dan maut, disampaikan malaikat kepada manusia dalam diri para wanita, lalu diberitahukan kepada para murid. Menarik bahwa berita itu diketahui pertama kali oleh para wanita. Di sini peran wanita sangat penting. Mereka menjadi penerima dan penyaksi peristiwa kebangkitan Tuhan, karena Tuhan telah bekerja dan menggerakkan mereka dengan roh-Nya. Tuhan juga tidak hanya berhenti di sini, melainkan Ia menggerakkan para wanita itu untuk terus memberitakan kabar gembira tersebut kepada para murid dan kepada semua orang.

“Pergilah dan wartakanlah” merupakan sebuah seruan yang menyiratkan sebuah konsekuensi akan tugas perutusan. Bertolak dari seruan ini, maka tidak saja para wanita dan murid-murid-Nya yang mewartakan kabar keselamatan kebangkitan Yesus kepada orang banyak. Kepada kita pun Tuhan memanggil kita untuk meneruskan karya pewartaan tersebut. Yang perlu kita sadari bahwa Tuhan selalu memanggil kita untuk suatu tugas yang baik. Sekarang tinggal bagaimana reaksi dan aksi kita terhadap panggilan Tuhan ini. Kita tidak saja dipanggil, tetapi kepada kita juga diserahi suatu tugas yang berat. Panggilan mengikuti Kristus berarti siap untuk menerima dan berani menghadapi segala tantangan kehidupan dalam beragam bentuknya. Itulah salib kita. Dengan berani mewartakan kabar gembira tersebut, kita telah mengambil bagian di dalam misteri sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Berkat rahmat sakramen baptis, kita semua diutus untuk pergi dan mewartakan kabar gembira injil kepada setiap makhluk. Kita dipanggil untuk menyampaikan pesan kebangkitan Tuhan kepada setiap orang yang berhak mendapatkannya. Kita diundang untuk meneruskan warta sukacita paskah kepada mereka yang membutuhkannya. Oleh karena itu jangan pernah takut untuk maju bersama Kristus, Ia selalu menjadi kekuatan kita, Ia selalu menjadi yang terdepan dalam hidup kita, Ia adalah cahaya dan terang dunia. Mari kita berjalan bersama-Nya dan jangan pernah halangi rencana Tuhan dalam hidup kita, sebab Dia selalu memberikan yang terbaik bagi kita dan itu semua akan indah pada waktunya.

Malam Paskah Di Tengah Covid-19

Malam paskah tahun ini terasa amat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Paskah tahun ini adalah sebuah kesempatan berteduh pada keheningan. Setiap orang merayakan paskah di rumah saja. Kerinduan akan Dia yang tersalib menjadi sebuah doa yang tak terbatas oleh jarak, namun dekat dalam keabadian hati. Sabtu suci barangkali menjadi sabtu yang sepi. Gereja-gereja tampak kosong, selain imam yang merayakan ekaristi secara pribadi. Ekaristi suci disiarkan melalui live streaming sehingga umat dapat mengikutinya di kediamannya masing-masing. Jalan-jalan menjadi sepi tak bertepi, di sana sini tidak banyak kendaraan yang lewat. Nuansa malam paskah yang biasanya dirayakan dalam sukacita berubah menjadi hening, diam dan sepi. Lonceng gereja bahkan hampir tak terdengar, lagu-lagu yang telah dipersiapkan menjadi sebuah lagu yang membatin sambil berbicara di dalam bisu pada ruang-ruang tempat diri berdiam. Covid-19, akankah badai ini menghukum nurani dan iman kita?

Wabah covid-19 membuat kita untuk senantiasa jaga jarak. Seruan social distancing dan stay at home terus disabdakan melalui berbagai ruang-ruang publik. Hal ini bertujuan untuk memutuskan mata rantai penyebarannya. Kita diharapkan untuk mentaati semua protokol kesehatan dan pemerintah agar tidak terpapar. Hidup dalam batasan jarak adalah sebuah rindu yang tak tergapai, ia adalah asa sekaligus rasa yang menggelayut dalam kesedihan. Ia juga adalah suara yang tak terkata, bergerak dalam diam meskipun rasa dan keinginan terus mengejar. Bertahan adalah cara mengenangnya dan bersabar adalah sebuah jawaban yang mengobati sekian rindu yang jarak. Tinggal di rumah adalah sebuah peristiwa kembali ke rahim ibunda pengasuh yang setia memberi asi sepanjang hayat. Rumah menjadi rahim untuk bersatu bersama keluarga dan menjadi ruang perjamuan yang damai untuk mempersembahkan diri kepada Tuhan. Dalam diam, dengan jarak yang terbatas dan rahim yang satu, terasa ada kehilangan terbesar dalam hidup saat-saat di mana menyantap tubuh dan darahnya dalam suatu kerinduan. Bumi pertiwi kini menangis dalam duka yang tak terkira, nurani manusia memprotes dalam segala pertimbangan dan iman manusia akan Allah semakin diuji.

Paskah adalah peristiwa “Allah lewat”. Ia tidak sekedar lewat sesaat dalam hidup kita. Kehadiran-Nya justru melawati kita agar kita beroleh kedamaian dan sukacita. Yesus adalah terang dunia. Sebagai terang, Ia mau menyadarkan kita untuk mencari jalan pulang kepada tujuan hidup kita yang sebenarnya. Kehidupan yang terpancar dari kebangkitan Yesus membantu manusia untuk mampu melihat semua sisi gelap hidupnya agar diubah dan terus berbuah. Dunia baru setelah kebangkitan adalah dunia di mana semua manusia menikmati sukacita surgawi. Seperti Maria Magdalena dan teman-temannya yang menerobos kegelapan pagi untuk menjumpai Yesus di kubur telah dibuat tertegun oleh penampakan-Nya. Semoga kita dapat membagikan sukacita itu kepada sesama yang lain di sekitar kita.

Sabtu Suci menunjukkan bahwa dalam diam pun, ada kekuatan yang besar, ialah kekuatan untuk mencinta, untuk berharap dan untuk tetap percaya. Iman kita jelas: kalau Allah sudah turun ke dunia orang mati, maka dalam kematian pun kita tidak sendirian. Sesudah kematian dan kesedihan, kita selalu boleh menantikan hari Paskah yang membahagiakan. Perayaan malam hari ini kiranya menjawab pertanyaan dan kegalauan hidup manusia masa sekarang. Perayaan malam paskah adalah perayaan kasih Allah yang memberi harapan dan menyertai hidup manusia sepanjang masa. Allah menjadi sumber kekuatan bagi kita dalam menjalani hidup. Sebab dalam kehidupan kita, kita pasti mengalami masa-masa sulit, masa-masa kita mengalami kegalauan hidup, kegelapan hidup seperti mengalami kegelapan makam. Situasi kepanikan global akibat covid-19 saat ini yang akhirnya menutup semua akses kehidupan manusia adalah situasi sulit dan peristiwa pahit yang harus kita hadapi. Kita tak mampu memprotesnya, tetapi kita berproses di dalam diam, yang dengan-Nya kita akan menuai harapan. Kita mesti yakin bahwa di dalam Tuhan, kita mampu keluar dari ruang isolasi ini.

Doaku semoga malam paskah tahun ini menjadi malam cahaya yang menerangi pekatnya dunia. Cahaya-Nya bukanlah malam pekat yang membuat kita lelap dalam sekian rasa yang terisolir. Ada harapan di setiap cahaya tersebut. Kebangkitan-Nya membangkitkan jiwa kita yang layu dan membangunkan kita dari tidur yang panjang untuk terus berharap kepada-Nya.
Kita doakan agar badai covid-19 segera berlalu, biar rindu, rasa dan hati kita tidak terbentuk pada jarak yang tak berujung.
Tuhan memberkati!

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button