cerpen

Requiem Sebuah Nasib

Foto: Indoprogress

Penulis: Chan Setu

Andai kata, kita semua saling menjelma roh yang bertebaran semau dan seingin hati mungkin saja dunia hanya sebagian dari mimpi yang ingin kita kunjungi dalam petualangan-petualangan singkat. Aku pernah insyaf untuk meyakinkan diriku bahwa kita semuanya sedang baik-baik saja. Sedang, di luar mata dan telinga kita, barangkali kecoak-kecoaklah yang mungkin menjadi bagian terakhir dari kehidupan kita.
Selepas angelus di kapela tua. Mataku mendengarkan dengan cermat melalui telinga-telinga para pembawa berita dari kota. Katanya: di kota, ruko-ruko, café-café, barata, gramedia, kampus-kampus, sekolah-sekolah, dan rumah makan- jadi sepih pun trotoar-trotoar jalan jadi lenggang hingga ruas-ruas jalan dari desa ke kota dan kota ke desa terasa rengang dan sepih.

Jika, suatu hari kita semua gerah dengan rutinitas kota yang berhari-hari lamanya padat dan terus hilir-mudik. Kini, bisa saja kita senang dan damai menghirup udara segar dari pepohonan-pepohonan yang rindang. Atau kita bisa saja menikmati sambil memanjakan mata pada aroma-aroma kembang berbagai bunga yang mekar di taman kota serta di halaman-halaman depan rumah kita. Mungkin, kita bisa dengan gembira merayakan satu,dua botol bir di beranda rumah dengan cerita dan tawa bersama keluarga-keluarga kita. Sayangnya, semua itu malah membuat kita lebih resah dan gerah. Menginginkan rutinitas yang lama, mengembalikan hari-hari yang hilang, menyembunyikan lonceng gereja, mengumandangkan adzan pada waktunya, menunggu lonceng sekolah, bertamasya akhir pekan dan sebagainya. Kini semuanya hilang di dalam kegelapan dan air mata. Satu atau dua, puluhan atau ratusan, ribuan hingga miliaran manusia menghintung hari, mengejar waktu, menunggu kemungkinan – mencemaskan waktu, hingga menginginkan semuanya lekas.

“Akh, kita sama-sama bergumam, “kota kita sedang tidak baik-baik saja, saat ini.”
“Kau ingin merayakan euforia wisudamu?” kataku kepada nasib.
Hanya sekian dari keberuntungan dunia yang bisa melewati semuanya. Atau malah, hanya satu dari sekian banyak kemungkinan lainnya bagi ratusan anak yang ingin pulang dan kembali bersama keluarganya.
“Akh, kau macam tidak mengetahui, bahwa kita tak sedang baik-baik saja.” Ucap nasib, meladeni pertanyaanku.

Kau tahu, kini banyak di antara kita yang sedang keji menyombongkan diri, membisingkan telinga pada lagu-lagu metal pun rock – kehobian mereka hingga pada taraf acuh tak acuh. Lainnya lagi, dengan euforia mereka berdiri, duduk dan berkumpul bersama memainkan seven scop, pocer dan lain sebagainya sambil menemani tubuh mereka dengan alkhol-alkohol dalam taraf kesehatan yang terlalu berlebihan.
Di rumah sakit tanpa nama ,ada begitu banyak orang ingin mengoverdosis hidup mereka melalui berbagai cara yang menghalalkan sedang menjadi lebih keji dan memalukan.

Di sepanjang jalan ruas-ruas kota dan trotoar depan rumah-rumah mewah, begitu banyak tapak-tapak kaki manusia-manusia yang tak memiliki dunianya yang waras,mungkin saja, melajukan kaki dengan pakaian robek dan sobek di mana-mana, memungut remah-remah makanan pada tong-tong sampah, mengendus nafas pada debu dan abu yang bertebaran ke mana-mana, mencari semilir angin untuk sedikit bernafas lega. Dan siapa yang mau peduli. Mendekat pun ragu, menjamah pun cemas. Mengakrabkan diri jadi semakin ketakutan. Bukan cemas dengan ketidakwarasannya namun semuanya pada menyembunyikan diri dengan berbagai kemungkinan yang timbul.
Akh, aku mengadu pada nasib, “sedang apa dunia saat ini, hingga semuanya jadi sakit-sakitan begini”
Hei, kau tak tahu, mungkin saja esok atau lusa ajalmu mendekat bukan kematian yang mendekatkan ajalmu tapi kehidupanmu yang mengakrabkan diri pada ajalmu.

Sudah lama sekali, manusia-manusia kita ini, mati. Bahkan sudah lama sekali, tak ada perayaan yang bisa kita rayakan sekalipun tanpa diundang dan hadir sebagai undangan selepas perjamuan. Dunia semuanya sedang sakit. Sakit ini bukan sakit-sakitan. Kita sedang sakit – menjangkit. Kau dan aku, sedang menunggumu. Kau paham? Kita sama-sama mengaduh: “kau mengaduh padaku dan aku (nasib) pun mengadu padamu. Kita berdua sama-sama menunggu. Siapa yang menang di antara kita berdua?

Barangkali baik, kau melucuti tubuhm sekarang. Memandikannya dengan bunga-bunga kembang. Merendam amarahmu dalam puasa yang panjang. Memungut kembali dengkimu yang tertanam. Mengeluarkan kebencianmu yang terlampau lama. Dan mempersembahkannya kepada sebuah ibadah tobat. Biar secepat mungkin kau mewasiatku tubuhku kepada siapa untuk memiliki segalanya yang kau punya saat ini. “Ucap nasib, kepadaku.”
Di taman kota, tempatmu berjumpa dengan kekasihmu pada malam minggu yang lalu. Kau lupa untuk menjaga jarak. Malah kau memilih untuk memeluknya dengan mesra. Malam itu terasa sepi.Lengang dengan kecemasan. Lampu-lampu jalan terasa remang. Tempat di mana kau dan hatimu bertemu tidak sesepi itu, biasanya. Malam itu, kau memilih untuk membiarkan sepi jadi merinding. Kau melumat bulan dengan cahaya kerlap-kerlip mobil polisi yang lalu lalang ke sana – ke mari. Hatimu tahu betapa ia mencemaskanmu. Hanya saja kau menjadi bagian dari manusia-manusia sombong dan keji itu. Aku saja sampai takut, melihat kedekatanmu. Hatimu, mulai batuk – ia pun tak mengenakan masker dan tanganmu menjadi rela menahan kebuataanmuyang terlampau mengendap rindu.

Di belahan taman kota yang lain. Ribuan kekasih memberi tanda pada rindu agar senantiasa menjaga jarak dengan doa batin mereka. Membiarkan rindu mengelitik naluri mereka, menghubungkan jarak melalui smatphone dan gadget mereka masing-masing tanpa memilih berjumpa dan mencumbui malam yang terang benderang di bawah bulan purnama ini.

Ada begitu banyak kejadian yang tak pernah kau sadari telah kuberi peringatan sebelumnya. Hanya saja kau terlalu beku untuk memahami air mataku yang telah basah. Ingatlah bahwa, sebentar lagi, kau sendirilah yang menyediakan lagu requiem yang panjang dan begitu romantic untukmu. Bukan aku atau pun hatimu. Aku dan hatimu menangis bisu, perih meninggalkan semua cerita yang telah kau biarkan kita jalin menjadi satu kisah saat bersama.

Kau, sudah tak baik-baik saja bukan lagi dunia yang patut kau tanyakan sebenarnya tapi dirimu sendiri yang telah jadi petanyaannya. Mungkin, kau telah kalah dan meinginkan aku jadi pemenangnya. Namun, aku tak ingin jadi pemenang dengan begitu saja. Bangunlah, aku tak ingin mati bersamu. Aku juga mencintaimu persis seperti kau melucuti hatimu di malam itu.
Aku hanyalah sebuah nasib, nasib yang ada pada telapat tanganmu. Aku ingin telapak kakimu juga membangunkanku, biar kita sama-sama bangkit dan berjalan.

“Akh, kau. Kau terlalu lama berbicara dalam diriku. Aku akan baik-baik saja. Menjaga hati dan memiliharamu dengan baik-baik di dalam hatiku”.
Jika benar kau ingin memeliharaku dengan baik. Mungkin saja sekarang belum terlambat, andai kata kau membangunkan kebiasaan yang baik pada hatimu yang angkuh itu. Aku ingin, kau jalani sesuai nalurihmu tanpa mengabaikan segala yang telah dicantumkan dalam hitam di atas putih. Jangan kau memilih pada aturan-aturan yang sesat dan longgar yang biasa dilangar oleh kaum-kaum berjas itu. Sebab, saat ini kau dan duniamu sedang memilih lagu requiem terbaik yang kalian suka untukku.

Bukankah, aku hanya nasib. Nasib yang kin sedang menjadi requiem terakhir dari kau dan duniamu yang terlalu angkuh tanpa ingin memeliharaku baik-baik. Agar kita sama-sama baik-baik saja.

Mei, 2020.

Ini hanya sebuah refleksi penulis. Diimprovisasi ke dalam sebuah percakapan narasi antara Aku (tubuh) dan “Aku” (nasib)
Tentang Penulis

Chan Setu merupakan mahasiswa STFK Ledalero. Saat ini menetap di Wisma Arnoldus Nitapleat, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Maumere.

Editor: Edid Teresa

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button