Opini

Revitalisasi Nilai Kebajikan Intelektual di Tengah Covid-19

Ilustrasi: cbnbc

Oleh: Maria Florida Sasi

Berbagai krisis orientasi dasar manusia terkuak dalam cara berpikir, berkehendak dan bertingkah laku. Manusia terus mengungkapkan kemampuan dirinya lewat berbagai cara termasuk melalui teknologi digital. Teknologi digital merupakan hasil pengetahuan manusia yang berkembang pesat dan nyaris menginvestigasi pola pikir masyarakat.

Kreativitasnya mereduksi keberagaman nilai dan terus mencanangkan kekuasaannya untuk menarik lebih banyak manusia masuk ke dalam cengkraman kenikmatannya.

Tak ada yang salah dan dipersalahkan. Penyebaran informasi pun kian membendung antara yang riil dan hoax. Antara yang benar dan salah seakan sulit dibedakan. Kedigdayaan hoax yang terus merajalela ini meretas problematika manusia sebagai individu yang autentik. Lantas, masih adakah yang mesti dipersalahkan?

Berdasarkan catatan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mapindo), pada 2019, bersamaan dengan pelaksanaan pemilihan umum, rata-rata terdapat 100 hoax perbulan, 60 persen di antaranya soal politik. Saat ini, rata-rata lebih dari 100 hoax per bulan, sebagian besar terkait pandemi Covid-19 (Kompas, 11 Juni 2020).

Berbagai informasi bermunculan dalam setiap versinya seakan menjawabi kalimat tanya masyarakat luas. Masih tak bisa dicegah bahwa informasi yang beredar itu mengandung hoax yang terus mempengaruhi cara berpikir dan bahkan aspek psikis masyarakat lainnya. Ketakutan dan kepanikan masyarakat atas berbagai informasi penyebaran virus SARS-COV-2 ini seakan memberi kematian psikis sebelum tubuh terkonfimasi positif.

Nilai kebenaran seakan jauh dari eksisitensinya. Palu kepincangan dunia digital ini pun terus mencederai nilai-nilai bajik teknologi sebagai penyalur informasi dan pengetahuan yang paling efektif di masa pandemi.

Paradoks Digital- Hoax Pandemi Covid-19

Teknologi baru abad ke-21 bisa membalikkan revolusi humanis, melucuti otoritas manusia dan memberi kekuasaan pada algoritma non-manusia (Yuval Noah Harari, 2015: 397). Algoritma non manusia yang dimaksud Yuval Harari, yaitu teknologi yang mampu memantau setiap sistem pembentuk tubuh dan otak manusia. Sadar atau pun tidak, keberadaan algoritma ini seakan telah merengkuh keberadaan manusia untuk tunduk dan terbenam dalam sistemnya.

Teknologi adalah keniscayaan sejarah kita dan masa depan umat manusia serta membudaya di dalamnya karena menjadi cara hidup dan secara tidak sadar menyetir cara kita merasa, berpikir, dan berharap (Vox Ledalero, 2018: 81).

Berdasarkan data Global-webindex yang dipublikasikan pada Januari 2020, ada 160 juta pengguna media sosial di Indonesia. Mereka bagian dari 175,4 juta pengguna internet dari 272,1 juta penduduk di negeri ini (Kompas, 11 Juni 2020).

Ini sungguh merisaukan jika informasi itu punya tendensi fatalistis. Kecemasan pun datang dari berbagai pihak terkait penyebaran informasi yang makin tumpang tindih terkait adanya jenis virus corona terbaru. Ini sungguh disayangkan, apalagi berita-berita ini sangat mudah diakses oleh siapa pun, di mana pun dan kapan pun.

Analis media sosial, Ismail Fahmi, mengatakan dari sisi infodemi, masih banyak konten disinformasi dan hoax di media sosial, terutama menyangkut kesehatan, hingga memicu ketidakpercayaan terhadap penanganan Covid-19. Muncul juga stigma terhadap orang dan keluarganya yang pernah terkena Covid-19, bahkan juga bagi mereka yang baru ikut tes penyakit itu (Kompas, 11 Juni 2020).

Alpanya Nilai Kebajikan

Dalam Bahasa Latin kata kebajikan adalah “virtus” yang diturunkan dari kata “vis” yang berarti kekuatan dalam berbagai bentuk. Namun, dalam arti sempit kata virtus berkaitan dengan kekuatan manusia, yaitu kualitas tertentu yang dimiliki manusia yang memungkinkannya melaksanakan karya-karya tertentu yang mulia dan terpuji (Frans Ceunfin, 2019: 107).

Kebajikan, sejatinya membangunkan nilai kebaikan yang telah tertanam dalam asa sebagai seorang individu yang berakhlak mulia. Kebajikan memuat pula kekuatan pemberdayaan kemanusiaan yang memaksimalkan pembentukan jati diri seorang anak manusia. Manusia yang berkeutamaan adalah seseorang yang menghadirkan tindakan-tindakan kemanusiaannya dengan baik (James Garvey, 2010: 26).

Kenyataan problematika hoax yang telah menjamur ini menjadi tataran kepincangan keberadaan digital. Hoax tentu banyak didalangi oleh aneka motif, seiring perkembangan teknologi yang kian pesat. Dapat pula dilihat bahwa para penyebar hoax maupun penerima (yang langsung percaya) telah sama-sama masuk dalam satu lubang sergapan yang cenderung mengabaikan nilai kebajikan itu sendiri.

Alpanya nilai kebenaran ini telah menutup ruang lingkup kebajikan dalam menuntut kredibilitasnya. Di sini jelas bahwa nilai kebajikan sungguh ditelantarkan sehingga membungkam kebenaran yang mestinya diprioritaskan.

Urgensitas Nilai Kebajikan Intelektual

Dalam konsepsi alamnya, Aristoteles mengangkat nilai etika sebagai satu-satunya keutamaan atau kebajikan yang mesti dihidupi oleh semua manusia. Kebajikan dicetusnya sebagai yang paling hakiki dalam pemberdayaan diri menuju sebuah kesejatian berpikir dan berperilaku.

Konsepnya yang teleologis ini dimuat dalam Nichomachea Etihcs yang mereduksi dua nilai kebajikan, yaitu kebajikan moral dan intelektual. Kebajikan moral dilihatnya dalam keseluruhan tindakan moral seseorang sesuai dengan aturan/norma yang berlaku.

Pengaktualisasian dirilah yang menjadi tolok ukur akan sebuah nilai kebaikan. Kebajikan intektual mengandaikan adanya pemikiran yang benar dan keinginan yang benar untuk menghasilkan suatu tindakan baik, dan karena kehendak dan pemikiran muncul dari karakter dan akal budi, maka keduanya dibutuhkan untuk memulai suatu tindakan (Aristoteles, 2004: 145).

Otoritas eksistensi manusia tercermin dalam kemampuannya berpikir dan bernalar secara bijak. Berhadapan dengan realitas paradoksial hoax ini, manusia seakan disadarkan kembali untuk melihat hal-hal penting yang mesti dibaharui dalam proses pemulihan nilai kebenaran dalam sebuah informasi.

Hemat penulis, hoax yang tercipta didasari oleh berbagai aspek kepentingan individu atau kelompok tertentu. Para penyebar hoax telah menimbun eksistensi nilai etika dan kebajikan dalam berkomunikasi. Ini nyaris mengedepankan aspek kebebasan berekspresi, tetapi lain sisi, menyembunyikan nilai keutamaan yang hampir hilang dan bahkan mati. Kebajikan seakan terkubur rapi dalam liang kebohongan yang nyaris menggarap banyak keuntungan dalam tindakan penyebaran ini.

Melihat ini, kebajikan intelektual mesti difungsikan sebagai dasar dan cara ampuh dalam pemberdayaan manusia. Penerima informasi dengan daya intelektualnya yang logis dan kritis mesti mengfiltrasinya sebagai vaksin pertama sebelum masuk dalam sebuah keinginan untuk melanjutkan penyebarannya kepada orang lain.

Seseorang yang bijak secara intelek tidak mudah terpengaruh, tetapi, dengan kejeliannya dalam bernalar, ia dapat memilih untuk berani memutuskan mata rantai penyebaran hoax atau malah terus melanjutkannya. Inilah yang mesti diperjuangkan saat masa pandemi ini agar setiap masyarakat tetap bebas menjalankan rutinitasnya sesuai protokoler kesehatan.

Pilihan kebijaksanaan ada dalam diri orang-orang yang bajik secara intelektual. Kebajikan intelektual tidak membutuhkan kepintaran dalam berteori, tetapi lebih dari itu tersohor dalam pikiran logis, kehendak baik dan tindakan yang baik pula. Untuk itu, setiap orang mesti selalu mawas diri, punya daya kritis dalam menerima informasi sehingga kehendak dan tindakan tetap sejalan dengan nilai kebenaran dan keutamaan dalam berkomunikasi.

*Mahasiswi STFK Ledalero

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button