cerpen

Rindu yang Sempat Riuh

Penulis :  Riko Raden

Masih teringat saat pertama kali aku mendekatimu di lorong tua ini. Engkau begitu cantik, indah untuk dipandang. Suaramu begitu lembut, jelas dan sedikit nuansa romantis. Aku pun sangat segan dan malu untuk mendekatimu. Aku berpikir engkau cocok menjadi kekasih para artis Indonesia. Iya, sangat cocok. Lihat saja kulitmu seperti para selebriti tanah air. Terlihat begitu mulus, putih dan nampak bersih. Aku segan untuk mendekatimu.

Di lorong tua ini, engkau pun diam seribu bahasa. Entah apa yang kau pikirkan. Aku juga tak tahu. Sesekali engkau memandang ke arahku, tapi aku malu membalas tatapanmu. Sungguh aku malu melihat embun pada bola matamu. Engkau tersenyum saat melihat aku yang tersipu-sipu malu oleh tatapanmu atau mungkin engkau telah mengetahui bahwa aku telah jatuh cinta padamu. Ahh, sungguh aku malu berhadapan dengan wanita secantik dirimu.

Baca juga : Yang Meracuni Antologi Puisi Indrha. Gamur

          Tak lama kemudian, engkau mendekatiku. Tiap langkahmu saat berjalan ke arahku membuat jantungku berdetak dan aku berkeringat, sungguh aku mulai malu. Hatiku terus merontak agar secepatnya meninggalkanmu. Tapi kakiku enggan untuk berjalan seolah-olah ada benda yang menempel di telapak kakiku. “Ahhh,, biarkan dia mendekatiku.” Kataku dalam hati. Engkau pun sudah mendekatiku. Tak ada cerita pun sapaan yang dilontarkan. Aku dan engkau diam tanpa kata. Cukup lama kami diam seperti dua orang yang sedang khusyuk berdoa.

Ia membuka percakapan yang sebenarnya hampir membeku itu, katanya dengan pelan dan bibir yang mantap melengkungkan garis membentuk senyum

“ Engkau tahu, aku ke sini ingin mengenalmu.”

“Ahh, tidak mungkin wanita secantik dia ingin mengenal diriku yang tidak ada potongan sama sekali ini. Rambut keriting dan pakaian compang-camping.” Kataku dalam hati dan pura-pura tak mendengar ucapannya.

“Hei bung, engkau dengar tidak ucapanku tadi.” Katanya lagi.

Dia semakin merapat. Tas yang sengaja kuletakan di samping untuk menjaga jarak, kini ia lemparkan ke lantai seolah-olah tak ada beban bahwa tas itu adalah milikku. Aku melihat jatuhnya tas itu seperti para pengemis di kota tua ini,  lugu tak berdaya.

“Iya, aku juga senang ingin mengenal dirimu.” Kataku dengan nada pelan.

“Aku tahu, engkau seorang penulis. Aku ingin belajar menulis bersamamu. Apakah engkau bersedia.”

“Aku bukan seorang penulis yang hebat seperti Joko Pinurbo Atau Goenawan Mohamad. Aku hanyalah manusia biasa yang tidak ada bakat untuk tulis-menulis.”

“Ahh.. Engkau bohong. Selama ini aku sering membaca tulisanmu di media. Jujur saja kalau engkau seorang penulis.”

“Memang aku sering menulis di media, tapi aku bukan seorang penulis seperti yang engkau pikirkan.”

“Intinya, aku ingin belajar menulis bersamamu. Bisa kan?”

“Baiklah, aku bersedia belajar menulis bersamamu. Tapi ingat engkau tidak boleh mengatakan kepada orang lain bahwa kita sedang belajar tulis-menulis.”

“Kenapa begitu?”

“Nanti saja aku memberikan jawabannya. Itu saja pesanku.”

Tak lama kemudian, kami kembali diam seribu bahasa. Sesekali aku mengambil buku dalam tas dan membacanya. Pada celah buku ini, aku sebenarnya ingin melihat ekspresi wajah cantiknya. Ia sungguh cantik dan suaranya lembut. Sungguh aku jatuh cinta dengannya. Aku pun kembali membaca buku. Sedangkan ia tersenyum dengan handphonenya. Agak sedikit cemburu dalam hatiku karena mungkin ia sedang jatuh cinta atau bertukar hati dengan sang kekasihnya.  Entahlah, dia juga wanita punya rasa cinta dan berhak untuk jatuh cinta dengan siapa pun.

Baca Juga : Bangku-Bangku di Gereja

Aku melihatnya pergi tanpa berkata apa pun kepadaku. Ia pergi seperti seorang pertapa di sebuah gunung. Pergi tanpa pamit pun mengucapakan kata terima kasih karena kami telah mengenal satu sama lain. Atau meninggalkan nomor handphone agar besok kami berjumpa di lorong ini lagi. Ahh, aku salah mengenal wanita sepertimu. Kelakuanmu tidak sejalan dengan kecantikanmu. Ternyata engkau cantik pada bagian wajah saja, hatimu licik seperti ular. Pada lorong tua ini, mengingat kata-katamu tadi membuat bibirku enggan untuk tersenyum kembali. Semuanya jelas, engkau datang seperti angin berlalu.

Besoknya, ia kembali ke tempat ini. Mungkin ia senang berada di lorong gelap ini. Atau mungkin ia sudah berjanji dengan seseorang untuk bertemu di tempat ini. Entahlah, intinya dia menikmati suasana di tempat itu. Di lorong ini, ia terus duduk seorang diri. Seseorang yang sedang dinantikan tak kunjung datang. Sesekali ia meraba handphonenya. Namun tak ada pesan masuk. Tak lama kemudian, ia berdiri lalu duduk kembali. Cukup lama ia berada di lorong ini. Dari jauh aku memandangnya dengan teliti. Kecantikannya tak pernah pudar.

Baca Juga : Hujan Di Pertengahan Januari Antologi Puisi Erik Bhiu

Aku sengaja tidak menghampirinya. Aku tak ingin kehadiranku di sampingnya membuat dia merasa tidak aman. Lebih baik aku berdiri saja sambil turut menantikan seseorang yang sedang ia tunggu. Suasana di tempat ini semakin sunyi. Ia tidak menggubris kesepian yang menyelimuti dirinya. Tak lama kemudian, datanglah seorang lelaki duduk di sampingnya. Tak ada jarak di sana. Mereka semakin merapat tanpa mengingat peraturan dari dinas kesehatan selama virus corona masih merajalela. Juga tak memakai masker ketika seorang lelaki itu mencium keningnya.

 Aku cukup cemburu saat meelihat adegan itu. Walau belum mengenalnya lebih mendalam aku telah mulai jatuh cinta padanya sejak pertemuan di lorong itu dan aku menyadari bahwa aku salah.

Baca Juga : Perihal Rindu Antologi Puisi Ella Mogang

Aku pun tahu bahwa cinta dan rindu adalah sejenis keyakinan yang tiba-tiba, yang selalu melewati ambiguitas batas-batas, yang terjalnya selalu bisa niscaya. Mengenalmu di lorong itu, cinta dan rindu kuhadapi bersama. Masih ada rindu dalam hati ini, yang tak mau kunjung jeda. Aku relakan saja engkau berjuang bersama pilihanmu walau rindu ini terus menghantuiku. Setidaknya kita pernah mengenal, meyapa sambil tersenyum bersama di lorong itu. Lupakan percakapan itu, jika memang menyakiti hatimu. Tapi jika engkau rindu, ingatkan saja bahwa kita pernah saling menyapa tanpa nama. Lucukan! Sudah larut malam. Biarkan rindu ini aku yang urus!

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button