cerpen

Rupamu Diambil Rembulan

Foto: Google

Perempuan itu lagi-lagi bersembunyi
Tanpa tahu apa yang ia mau.
Ia tetap berdiri di pojok kiri
Dan masih menggulung mimpi-mimpinya.

Seketika lagi wajahnya seperti benalu
Bergantung di langit biru.
Lama-lama ia mendulang tanya
Mengapa rembulan selalu mengambil rupanya.?

Perempuan itu berdiri lagi di pijok kiri.
Tetapi ia tidak lagi menggulung mimpi-mimpinya
Melainkan ia ingin bersembunyi
Sebab rembulan selalu mengambil rupanya
Tatkala waktu sedang sunyi.

Januari, 97

Malam dan Lelaki Kalah

Tiba-tiba malam itu berbisik, katanya;
Maukah engkau meniduriku untuk malam ini?.
Jawab lelaki itu, cintaku lebih utuh
Dari sekedar malam-malam bersamamu.

Malam itu berbisik lagi katanya,
Maukah engkau memperanakkan aku
Dan kelak kita akan menamakan dia “mimpi?”.
Jawab lelaki itu, cintaku tak sekedar punya anak
Dari tiap malam keluyuran bersamamu.

Sekali lagi, malam itu berbisik dengan nada paling lembut katanya;
Lihatlah ke luar, ke dalam tubuhku, apakah engkau mau
Meniduriku dan memperanakkan aku malam ini saja agar kelak
Anak-anak kita bisa menikmati fajar.?
Jawab lelaki itu dengan nada kalah,
setiap lelaki sejati selalu kalah oleh malam-malam.
Mereka meniduri apa yang ingin ditiduri pada malam hari,
Menikmati apa yang bisa dinikmati pada malam hari.
Sekian kali dan untuk kesekian kalinya mereka selalu kalah oleh malam-malam.

Juli, 1997.

Mencintai Itu Sederhana

Aku mencintaimu sekekal sabar;
Seperti doa yang kusebut termangu,
Seperti rindu yang selalu ingin bertemu,
Dan seperti iba yang selalu datang dari ibu.

Aku mencintaimu sekekal setia;
Seperti tubuh yang mencintai jiwanya
Seperti air mata yang setia menemani
Luka dalam dada. Begitu sederhana.

Februari, 14

Oleh: Arfei Silfester
Mahasiswa STFK Ledalero

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button