Puisi

Ruteng, Kota Patah Hati Antologi Puisi Konstantina Delima

Beberapa rindu memang harus sembunyi-sembunyi
Diam-diam aku merindu
Sedang kau bersua dengannya.

Konstantina Delima

Ruteng, Kota Patah Hati

Malam kembali datang
Bersama hujan deras yang membasahi kota Ruteng
Angin malam bertiup semakin kencang menerpa sela-sela telinga
Langit kelam
petir menyambar
Menatap langit-langit kamar yang menemani sepiku
Suasana benar-benar kacau
Hujan deras bagai ditumpahkan dari langit gelap.

Kisahku serupa hujan
Datang dan pergi tanpa pamit
Menghembuskan asa juga nestapa
Hingga hanya dingin yang tersisa
Tentang hujan berarti tentang luka
Kota Ruteng pandai mengajakku pada masa lalu
Sebab hujan adalah penawar patah hati.

(Ruteng, Februari 2021)

Baca juga : Hujan Penghianat Antologi Puisi Novi Meti
Baca juga : Kamu, Hujan, Kopi Dan Sepiring Jagung Rebus

Gubuk Sederhana

Kala itu
Mama sibuk bersama anak gadisnya di gubuk sederhana
Aroma kopi mulai tercium
di temani ubi bakar yang diracik dengan cinta
Terlihat bapa di depan rumah menikmati fajar
Sesekali melemparkan senyum terbaiknya

Kala itu
Ketika mentari mulai mengintip
Dari ufuk timur
Bapa dan mama sedari tadi ke sawah
saat kami masih tertidur pulas
ketika mentari tepat di atas ubun-ubun
aku bergegas
membawa makanan terbaik menurutku
terlihat mereka bermandikan keringat tak peduli terik siang
menyengat
ketika bumi mulai surut kami kembali di gubuk sederhana
menikmati masakan mama
yang selalu menjadi alasan untuk pulang
kala itu

(Februari, 2021)

Baca juga : Antara Pagal, dureng dan senyum khas milik Ndu Antologi Puisi Oncak Sarigoza
Baca juga : Kesedihan Antologi Puisi Inggrida Astuti Lestari

Mencintaimu Adalah Luka

Sayup-sayup suara jangkrik
Tiba-tiba
Hujan menguyup tubuh yang perlahan rapuh
Kini aku harus terbiasa tanpamu
Tanpa ada kabar darimu
Suara yang dulu sering menyapaku dan
Menidurkanku sebelum bermimpi
Kini hilang

Kembali menatap ponsel tanpa kabarmu jika rindu
Aku hanya bias membaca ulang pesan singkat kita
Sebab ada rindu yang tak sengaja dating
Datang tanpa diberi kabar terlebih dahulu
Beberapa rindu memang harus sembunyi-sembunyi
Diam-diam aku merindu
Sedang kau bersua dengannya

Hujan deras bagai ditumpahkan dari langit gelap.

(Februari, 2021)

Baca juga : Penjajahan Modern 2020-2021
Baca juga : Yang Merangsang Antologi Puisi Indrha Gamur

Konstantina Delima

Penulis Mahasiswa UNIKA St. Paulus Ruteng, Baginya menulis adalah cara ia di kenal dunia dan membaca adalah caranya mengenal dunia. Perempuan penyuka sunyi

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button