cerpen

Sapu Tangan Veronika

keterangan foto: ilustrasi-https://images.app.goo.gl/9mrwznrhAdLbtuNo9

Sonny Kelen
(Sekarang Tinggal di Unit Gabriel Ledalero)

1/
Di pinggir jalan
Menuju Golgota
Embun berderai seperti sebuah bunyi napas
Berhenti tujuh kali tiap dini hari

2/
Saya menemukan wajah pasien corona
Di sapu tangan Veronika
Mereka berderai di ruang isolasi
(Para dokter sedang mengusapnya di media social, di surat kabar, di televisi, atau di radio)

3/
Lock down!
Rumah ibadat ditutup
Pasar ditutup
Kantor-kantor ditutup
Negara seperti kota mati
Teriakan mencekam dibalik air mata
Yang adalah tobat

4/
Saputangan Veronika
Penuh dengan doa yang berbunyi
Tuhan, jauhkanlah kami dari corona
Kami tidak mau diliput secara lebay
Tuhan, jauhkanlah kami dari corona
Kami tidak ingin diasingkan dari dunia
Tuhan, jauhkanlah kami dari corona
Kami tidak ingin menimbulkan kepanikan massal

5/
Seperti sebuah ritual pemulihan
Menuju rindu paling putih
Tentang tobat dan sesal pada saputangan Veronika
Sebelum ratapan kembali menggema di atas salib
Pengampunan menyerupai puisi
Bapa ampunilah mereka
sebab
Mereka tidak tahu
Apa yang mereka lakukan

Ledalero, 2020

Lilin Harapan

Yang terjadi di balik air matamu adalah begini
Saat kau menggigil kegelapan
Aku datang sebagai lilin kecil
Menawarkan seberkas cahaya dan harapan
Dan kau nyalakan api
Berdansa, berteriak bahkan bermain dengan bayanganmu sendiri
Setelah itu kau kembali ke katedral
Ke dalam cerita pendek
Menjadi tokoh fiksi

Berharap hidupmu mulai dari nol lagi
Seperti lilin yang mati
Sebelum kehadirannya kau renungi

Ledalero, 2020

Lakon di Rumah Sakit

Tidurnya melintang
Tanpa sepatu atau sandal
Pada rindu bertahun luka
Sejak berada di ruang isolasi
Senyum pun terkubur dalam maut
Sekedar bersalaman
Tidak diulurkan tangan
Atau senyum sedikit pun pada bibir
Hanya air mata tanpa suara yang menyergab
Bahwa hidup akan berakhir sebagai
Seseorang yang terinfeksi corona virus

Di rumah ini
Lakon hidup berakhir di tempat tidur
Dalam diam yang sepi
Dan jari tangan yang tidak lagi mengetuk pintu-pintu langit

Ledalero, 2020

Sesudah Hari Air Mata

Dahaga hidup yang berkesudahan
Air dalam cangkir itu akan kuregut berulang
Walau ujungnya berakhir dengan air mata
Hari-hari berlalu terkubur dalam binar air mata
Di atasnya kutegukan monumen matahari
Agar mereka yang datang kemudian
Akan mengenal air matanya
Yang dulu mereka titip dalam doa
Air mata duka

Dalamnya pagi hariku berwarna senja
Pada senja itu akan kugambar ulang matahariku
Pada buku-buku yang tidak pernah memastikan
Aku atau duniaku yang sedang terbenam di sana

Ledalero, 2020

Hari Minggu

Aku suka hari minggu
Hari yang aman mencintaimu di sana
Tidak ada yang abadi
Selain mendengarkan dongeng
Dari kitab tuamu
Sejak corona nongol
Hari minggu seperti hari mati

Air berkat kedinginan
Bangku-bangku kosong
Sakristi menjadi bilik ganti yang sepi
Dan altar penuh dengan debu

Di bawah langit-langit rumahku
Aku menunggu musim
Saat engkau bongkar lapis-lapis langit
Hingga cuma satu langit
Pada hari minggu yang damai

Ledalero, 2020

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button