Puisi

Senja di Pantai Hatimu Antologi Puisi Wandro Julio Haman

Dilaluinya hari tanpa permisi,
tanpa janji (basi),
tanpa peduli.

(Untuk Jomblowan/i.)

Wandro Julio Haman

Senja di Pantai Hatimu

Selepas berkenalana di hamparan samudera, arungi ombak dan badai,
aku menepi di pantai hatimu yang tenang. Menawarkan kerang dan mutiaraku yang memantul-mantul pada pasirmu.

Aku terpesona pada lambaian nyiur berpuisi syahdu.
Pada risau angin dan cuap-cuap buih ombak, lalu kamu berbisik,
“Tetaplah di sini sebentar.
Nikmati dulu senja dan kopimu.
Semuanya akan baik-baik saja.”
Kemudian di sepanjang pesisirmu bermekaran jingga,
juga camar-camar yang memburu debaran gelombang di dada.
Membekas, lalu lambat laun menjelma rindu, sebelum pasang kembali menyisir.

Baca Juga : Hermeneutika Diri : Sebuah Jalan Yang Panjang
Baca Juga : Eksistensi Generasi Milenial

Dalam Matamu

Dalam matamu aku melihat lampu-lampu kota,
kerlap-kerlip lampu taman yang ceria,
juga bulan yang kedinginan bercebur,

Bulan itu hamparan hatimu,
Tersenyum lembut seperti bisikan hati,
memanggilku untuk turut bercebur riang,
Menyelami kehidupan dalam dingin matamu.
Hingga pada matamu aku merasakan jenjam, tenggelam dalam tenteram

Baca Juga : Bersyukur Antologi Puisi Frumend Oktavian. M
Baca Juga : Lika-Liku Kentut

Tuna Asmara

Kemerau berdengung dalam
jiwanya yang lengang,
tiada riak hujan menandakan semi,
juga angin mengantar mendung
Sunyi bertandang,
tenggelam pada lembah hati
yang menyendiri.
Dilaluinya hari tanpa permisi,
tanpa janji (basi),
tanpa peduli.

Penulis adalah mahasiswa Sastra Inggris pada Universitas Wijaya Putra Surabaya dan juga redaktur pelaksana di banera.id.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button