cerpen

Sepintas Rindu

Foto:Jawapos.com

Penulis:Va_wara
(Mahasiswi Sistem Informatika UNFLOR-ENDE)

Desiran rindu menggebu seketika
Saat aku memejamkan mataku pada larutnya malam
Saat sepi menghantar aku pada kenangan
Pada sekilas kisah yang telah usai
Aku hanya terpaku, membisu dalam diamku
Karena semuanya kini tinggal kenangan
Yang telah lenyap bersama sang malam

Seketika aku merindukan
Belaian masa lalu yang menyejukkan
Yang tak pernah hilang dari ingatan ku
Sekalipun aku mencoba untuk melupakannya
Tapi rindu ini terus memburu ku
Tak mampu aku menghempasnya

Tuhan lumpuhkan memori ini
Karna ku tak mampu melangkah jauh
Bila bayangan masa lalu terus menghantui
Bahkan meracuni ayunan `ku ini
Ku merindu kisah yang tak semestinya ku kenang

Ende, 04 juni 2020

Pada Rasa yang Terbungkam

Seketika aku teringat
Pada rasa yang ku bungkam lama
Yang belum terurai sepercik pun
Karena ketaksanggupan ku untuk menyatakannya
Ya aku tak sanggup untuk menyatakannya

Memori ini seketika kembali mengingatkanku
Pada alunan waktu dan kisah yang pernah terlewati
Yang kadang mencekam dan menyakitkan
Pada rasa yang seharusnya tak mesti

Kembali keadaan memaksa ku untuk terus membungkam
Untuk selalu sadar diri akan posisi
Karena aku hanyalah pengagum rahasiamu
Pendamba rindu yang terbungkam pedih

Bangkitlah Setelah Jatuh

Tak boleh terjebak dalam pilumu yang penuh duri
Ketika kepedihanmu tak mampu kau jalani

Andai tangis menghadirkan solusi
Atau pun bosan menyelesaikan problem
Tentunya kamu tak mengenal artinya berjuang

Tergoyah boleh
Tergontai pun tak masalah
Bahkan jatuh bukan menjadi halanganmu
Namun ingat, bangkit adalah langkah seusai jatuh

Diciptakannya kaki tentulah ada gunanya
Dan cukup tanganmu yang akan mengusap air mata itu
Biarkan amarahmu hilang ketika matamu berkedip

Hari masih panjang
Masih banyak yang harus diperjuangkan
Lalui saja segala proses
Karena itulah yang bersejarah di masa tuamu

Rabu, 20 Mei 2020
Nan Agung ( Mahasiswa Fisika UNIFLOR-ENDE )

Menapak

Aku kembali menelusuri tapak itu
Mengayunkan langkah ku dengan pasti
Yang ku genggam memang duri
Duri yang terus membekas luka

Akan ku tumpulkan sedikit duri pada daging ini
Berharap hari baru ditengah kebisuan
Aku menjejakan kaki ku dengan menatap hati
Agar asrma meneduhi langkah kecil ku

Ku harap butiran keringat tak berhenti menetes
Demi membasuhi ku dari kegersangan hati
Aku mengayunkan kaki ku dengan sepenuh hati
Menabur asmara dan asa disetiap pijakkan ku

Berharap tapak ku tak terlepas setitik pun
Dan tumbuh jutaan mawar
Tapakan terjal penuh duri itu, membuat ku tak berdaya
Tetapi kesulitan itu semakin membuat ku mampu untuk tegar

Fr. Ansel. BHK
(Penulis adalah mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Flotres-Ende )

Editor: Fr. Ansel

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button