cerpen

Spermaku Tumpah Sebelum Kita Direstu

Foto:Malangtimes.com

Penulis: Rian Tap

Aku berpikir pertemuan sel sperma dan sel telur pada ovum adalah awal dari kebahagian kisah dan cerita kita. Itu untuk merkan yang telah berjanji di depan altar Tuhan. Namun, cerita kita berkata lain. Ini merupakan petaka awal dari kehidupan kita untuk selanjutnya. Kita saling meratap dan berlinang air mata penyesalan. Itu tidak akan merubah hidup, sebab sejarah itu sudah terpatri dalam nisan hidup kita. Aku mengenalnya 3 tahun yang lalu, sejak kami berseragam putih abu-abu. Ia anak dari seorang kaya raya dan aku anak desa yang merajut ilmu di kota. kami sama-sama saling menyukai dan mencintai. Via media menjadi alat paling ampuh pelampiasan rindu di saat kami berlibur. Saling chat, video call atau pun telefon mewarnai kisah percintaan kami.

Kami berpacaran, sejak kami menamatkan pendidikan SMA. Kini, kami sama-sama kuliah di salah satu kota di pulau Jawa. Saling mengunjungi kos merupakan rutinitas kami untuk melepas rindu. Canda dan tawa kian menghiasi di setiap perjumpaan kami. Entah kenapa di malam itu, aku memintanya untuk bermandi peluh di atas ranjang yang reot di kosnya. Ia pun mengiakan permintaanku dengan sebait kata dari mulut munggilnya.

“Engkau boleh melakukan itu, asalkan engkau mau bertangungjawab bila nanti terjadi sesuatu.”

Kalimatnya itu memacu neuron dan adrenalinku untuk mencicipi setiap jengkal dan bait pada tubuhnya. Ya, malam itu kami merasa bahagia. Mungkin ia mendapatkan kepuasan dari setiap permainanku ataukah karena ia terlalu mencintaiku sehinga ia merelakan kesuciannya.

Kami pun melakukanya terus menerus. Entah itu di kosnya atau di kosku. Kami melakukan itu dikala cinta dibubuhi hasrat yang terdalam. Ia pernah menyuruhku untuk memakai kondom, namun aku tidak mau. Aku selalu percaya tentang filosofi kran, bila air mengalir dengan deras pada pipanya dan seketika kran di matikan ada pemberontak yang dasyat oleh air dalam pipa. Air itu pun kembali ke penampunganya. Tidak ada kepuasan di sana. Filosofi ini aku pakai pada persetubuhan kami. Hari dan minggu kian berlalu. Ada tanda kehidupan baru yang akan muncul setelah air itu membasahi tanah. Ia hamil.

Ia hamil dari benih yang aku tumpah pada rahimnya. Memang benar kata-kata dalam kitab suci, benih yang jatuh ke tanah yang baik, akan tumbuh dengan subur. Kata-kata ini menjadi nyata dalam kisahku hari itu. Ia menyesal sebab perkuliahannya harus di tunda satu tahun lagi. Demi merawat sabda cinta yang aku balut dalam spermaku, ia mengambil cuti satu tahun. Kami sama-sama enggan menceritakan kepada keluarga kami masing-masing. Kami sama-sama takut. Mungkin tunggu situasi dan momen yang tepat untuk kami ceritakan. Kami tahu juga, ada sekian ribu caci dan makian yang siap kami terima.

Tibalah satu waktu, aku dan dia bersepakat untuk pulang ke kampung untuk mengurus adat dan pernikahan kami secara gereja. Kami juga bersepakat untuk pergi ke kampung halamanku terlebih dahulu setelah itu ke kampungnya. Kami pulang dengan beribu beban.

Aku pergi dengan petuah adat yang kental yakni lalong bakok du lakon porong lalong rombeng koe du kolen. Petuah ini, kini dileburkan bersama mimpi yang berakhir dengan nahas. Cita-cita untuk menjadi sarjana muda telah usai bersama lalong dan ibunya. Ya, mungkin ini salahku ataukah memang ini takdirku untuk menjadi seorang ayah pada usia yang masih belia. Kisahku semakin tersiar sampai di sudut penjuru kampung. Ada sekian banyak orang yang datang menjenguk buah hati kami. Ada yang datang menjenguk dengan cibiran dan makian. Penyesalan selalu datang terakhir disaat segala sesuatu telah usai.

Aku dan Natalia, bersama-sama merawat buah hati dengan penuh kasih. Meski banyak orang yang selalu mencibirkannya. Orang tua dan saudaraku menerima kehadiran Natalia dengan ketulusan. Mereka selalu berkata, “Nak, nasi telah menjadi bubur. Tidak akan mungkin bisa menjadi nasi lagi. Kami menerima semuanya, meskipun ada rasa marah dan benci. Tetapi mungkin ini kehendak dari Tuhan untuk kalian berdua. Jaga dan rawatlah anak itu, dan ingat kamu telah menjadi orang tua, buktikan itu pada buah hati kalian.” Lalu bagaimana dengan keluarga Natalia, apakah mereka mau menerima aku sebagai anak mantu?

Setelah menerima kabar tentang Natalia, kedua orang tua mengalami shok berat bahkan mereka mau mencoba untuk bunuh diri. Aku pun berusaha untuk bertemu dengan keluarga Natalia. Sedangkan Natalia dan lalong tidak aku bawah serta. Karena aku tahu ada kisah golgota di sana. Aku tidak mau kisah itu disaksikan oleh Natalia dan anakku. Kedua orang tuanya, tinggal di kota, karena mereka wirausaha yang sukses. Dengan penuh keberanian dan percaya diri, aku berjumpa dengan orang tuanya. Aku menceritakan segala kisah yang telah terjadi antara aku dan Natalia. Ayahnya tidak menerima itu semua. Tendangan keras dari ayahnya meluncur di pelipis kananku. Aku tidak melawannya. Biarkan ia melempiaskan kemarahnya. Ada sekian ribu makian. Ada sekian banyak tamparan yang datang menghujani aku saat. Dengan bergaya militer ayahnya meluncurkan pukulan-pukulan terhadapku. Aku membiarkan itu semua. Setelah kemarahan ayahnya menyurut. Aku mulai lagi menuturkan kata permintaan maaf kepadanya. Lalu ayahnya berkata, “bangsat!, engkau tahu, anakku satu-satunya adalah dia, kenapa engaku merengut di saat ia belum selesai perkuliahannya”. Aku tertunduk lesu, tak ada kata yang keluar dari mulutku. Aku bungkam dalam sunyi yang kian senyap bersama tetesan air mataku yang membasahi kaki ayahnya. Ibunya menangis tersedu di kamar. Pada saat itu, ada kata yang mengiris mata batinku, yakni: saya tidak akan merestu kalian berdua. apa lagi, engkau anak orang miskin yang tidak punya apa-apa. Tidak mungkin engkau mampu menafkaihi Natalia dan anaknya. Cinta tanpa restu orang tua ibarat membangun rumah di atas pasir. Tidak memiliki fondasi yang kokoh dan kuat. Aku pun kembali menemui keluargaku. Aku menceritakan itu semua kepada Natalia dan orang tuaku.

Pergolakan batin kian berkecamuk. Hampir mirip cerita Yosef, di saat ia mengetahui Maria telah mengandung bukan dari benihnya. Ada gelisah dan mau menceraikannya secara diam-diam, namun mimpi memberinya jalan keluar. Aku dan Natalia selalu memikirkan jalan keluar yang terbaik. Tibalah suatu waktu, kedua orang tuanya datang untuk menjenguk Natalia dan cucu mereka. Namun, bukan hanya mau menjenguk, ada intensi lain yang harus terjadi sore itu. Mereka meminta Natalia untuk melanjutkan kuliah. Dengan sendirinya ia harus berpisah dengan aku dan lalong. Aku menyetujui keputusan itu, biarkan lalong aku dan orang tuaku yang menjaga dan merawatnya. Ini adalah keputusaku yang salah. Mengapa demikian? Pada dasarnya yang dekat adalah obat yang paling ampuh dari sebuah cinta. Aku dan Natalia berpisah bersama jarak.

Pada suatu sore, aku mendapat paketan surat. Setalah aku membuka amplopnya, tertulis untukmu,

“Terimakasih telah menjahit cerita di atas kanvas hidupku. Suatu kanvas yang buram nan kusam. Aku sadar aku juga turut andil memburamkan kanvas itu. terimakasih untuk benih yang engaku pernah tanam dalam rahimku. Aku mencintaimu!. Tetapi, maafkan aku. Hubungan kita biar sampai di sini, sebab membangun keluarga tanpa restu dari orang tua itu sulit. Aku tidak mampu untuk itu. Di sini, aku juga telah jatuh hati dengan seorang laki-laki. Ia juga mau menerima aku apa adanya. Biarkan anak itu, engkau rawat. Aku menitipkan padamu..
Salam,
Natalia.

Air mataku tumpah membasahi seluruh isi surat itu. aku menangis sambil menatap anakku yang sedang berlatih untuk berjalan. Aku menangis, bukan karena aku tidak mampu merawat anak itu. Melainkan karena aku sungguh mencintai Natalia. Kisah romantika sekian tahun bersamanya, kini disenyap bersama tangis yang kian pecah di sore itu. Jikalau harta yang membuat kita tidak direstu, izinkan aku untuk berjuang mencarinya. Tetapi mengapa kau akhir cerita kita dengan secepat waktu yang engkau lukis pada dinding hidupmu. Di saat itu juga, aku siap untuk menjawab pertanyaan dari anakku di kala nantinya bertanya, “ayah, dimanakah ibu?”

Penulis adalah pegiat Sastra Sampul Buku Unit Gabriel. Asal Lembor Manggarai Barat. Tinggal di Ledalero-Maumere

Editor:Waldus Budiman

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button