Renungan

Sukacita Minggu Palma

Foto: Facebook.com

Oleh : Fr. Hironimus Edison

Dua ribuan tahun yang lalu, di Yerusalem semua penduduk berkumpul bersama menyongsong kedatangan seorang raja. Mereka berdesak-desakan menyambut Dia yang menunggangi seekor keledai. Dengan Palma di tangan, mereka menempik sorak ria sambil berseru-seru dan bernyanyi sukacita. Penginjil Matius melaporkan peristiwa itu demikian, “Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan. Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi! (Mat. 21: 8-9).

Sukacita menyambut kedatangan Yesus sungguh memenuhi hati banyak orang. Mereka tidak mampu menahan sukacita itu. Tanpa disuruh dan tanpa takut mereka berdesak-desakan menyongsong Sang Raja. Tidak ada jarak apalagi batasan-batasan. Semua bergabung menjadi satu lautan manusia dengan lagu yang sama di mulut, “Hosana, Putera Daud”. Itulah sukacita penduduk Yerusalem. Sukacita oleh karena Yesus memasuki kota Yerusalem.

Di tahun 2020 ini, Minggu Palma dirayakan tanpa pekikan suara dan tanpa kerumunan lautan manusia. Teriakan ’Hosana, Putera Daud’ tidak terdengar lagi. Tangan-tangan yang melambaikan palma pun tidak kelihatan lagi. Semuanya diam membisu. Suasana sorak-sorai dan pekikan nyanyian berubah menjadi suasana sunyi sepi. Semua terdiam di rumah. Sebab, dunia belum mengizinkan murid-murid Yesus berkumpul untuk bepekik gempita menyongsong Raja-Nya yang datang di atas seekor keledai.

Wabah covid-19 telah mengubah sukacita Minggu Palma menjadi perayaan yang sunyi sepi. Namun, umat Kristiani tidak boleh kehilangan sukacita. Di tengah rasa dukacita yang disebabkan oleh wabah ini, perayaan Minggu Palma tetap menghadirkan warta sukacitanya sendiri, yakni Allah senantiasa menyertai umat-Nya. Peristiwa Yesus memasuki Yerusalem menyadarkan kita semua bahwa Allah bukanlah penonton. Ia adalah Allah yang mau mengambil bagian dan terlibat dalam dukacita dan penderitaan yang dialami manusia. Yesus yang masuk ke Yerusalem adalah Dia yang mau menanggung derita, sengsara dan wafat demi manusia. Namun, Ia tidak berhenti di situ. Ia akan bangkit pada hari ketiga. “Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan” (Mat. 20:19). Harapan akan kebangkitan inilah yang harus memenuhi hati setiap orang sehingga tetap memiliki kekuatan dan sukacita di tengah dukacita yang dibawa oleh wabah covid-19.

Perayaan minggu Palma tanpa kerumunan lautan manusia dan pekikan suara yang menyanyikan ‘Hosana, Putera Daud’ menjadi undangan bagi setiap orang untuk sungguh-sungguh masuk dalam misteri pekan suci. Semua diajak agar masuk bersama Yesus untuk mengambil bagian dalam misteri sengsara dan wafat-Nya. Mungkin inilah saat yang paling intim untuk ada bersama Yesus pada saat-saat akhir hidup-Nya di Yerusalem. Saat intim ini menjadi momen yang tepat untuk mengenal kerahiman dan dan belaskasih Allah. Ada dan hadir bersama Yesus di Yerusalem berarti siap untuk mengenal logika kasih Allah bagi manusia. Momen Yerusalem menjadi pijakan bagi setiap orang untuk membangun harapan dalam menyongsong sukacita paskah. Sukacita itulah yang menjadi dasar dan sumber bagi setiap orang agar tidak kehilangan harapan di tengah penderitaan yang disebakan covid-19 ini.

Minggu Palma mungkin terasa sunyi sepi. Namun, perayaan ini tetaplah perayaan sukacita. Semua orang yang merayakannya dari dalam rumah tetap di undang agar mengambil bagian dalam nyanyian penduduk Yerusalem yang menyongsong Yesus sebagai Raja. Kita menyongsong dia dalam keluarga, komunitas, rumah, dan tempat tinggal kita masing-masing. Jika di tahun-tahun sebelumnya, sukacita itu dirayakan dalam arus massa, kini sukacita itu dirayakan dan dirasakan secara personal. Tuhan mengunjungi kita secara pribadi. Ia, yang adalah Raja datang untuk menyapa dan mau tinggal di dalam hati dan keluarga kita masing-masing. Sukacita Minggu Palma yang sejati terjadi ketika kita secara personal mampu menyambut Yesus sebagai raja. Oleh karena itu, marilah kita menyambut Dia dan merasakan kehadiran-Nya bukan lagi dalam kerumunan massa seperti di Yerusalem tetapi secara personal dan bersama keluarga masing-masing.

Salam!

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button