cerpen

Surat untuk Ayah

Foto:Blogspot.com

Penulis: Chan Setu

06 Mei 2020

Lyan, belakangan ini hari-hari kita dirundung kematian. Dunia dengan sunyinya mengurung diri di dalam atap rumah yang mulai bocor. Membungkus tubuh di dalam tutupan saji yang mulai kering. Membuang keringat dengan tawa yang menggelegar di dalam rumah. Dulu, dunia begitu asing. Rumah pun terlihat senyap-senyap saja. Bahkan hampir mungkin terlihat tanpa penghuni. Beranda dan perkarangan rumah, tak ada satu pun yang mau menyentuh. Bermain ke sana – ke mari. Lari-lari di halamannya, atau sekadar duduk berceloteh sepasang keluarga kecil. Tinggal, daun-daun talas yang layuh – lusuh. Daun-daun mangga di depan makam opa dan omamu, gugur satu per satu hingga kering kerontang, jadi tubuhnya yang busung lapar.

Kini, dunai terlihat akrab. Namun, lamban laun rumah jadi gelisah. Keringat tak jua bersetubuh dengan tubuh. Paras-paras wajah kita lamban laun mulai kering tak tersinar matahari. Sekalipun dunia menyarankan agar kita ber-jemur di bawah terik dengan suhunya yang tak terlampau panas menyengat. Rambut-rambut orang tua-orang tua yang bertentangga maupun tidak, satu per satu mulai menguban. Wanita-wanita se-usiamu bahkan tak tahu lagi cara memoles tubuh dengan baik. Make up hampir-hampir pergi dan menyantuh dengan lumpur-lumpur pematang sawah yang mulai memasukki musim panen. Kios-kios kecil, tantamu yang di depan mulai kantuk di senja memamerkan kecantikkannya. Saban hari, tantamu selalu membiarkan ia terbuka hingga duapuluh empat jam.

Mamamu dan ibu-ibu tetangga kita lupa dengan tempat sirih pinangnya. Tak ada lagi celotehan sehabis makan siang pun tak ada lagi saling memanggil sekadar iseng berbagi cerita seperti lazimnya yang biasa terjadi di kampung kita: “di mana ada satu atau dua ibu-ibu yang berkumpul atas nama mereka di situ pasti ada hangat cerita yang sedang dibicarakan.” Ingat ayah selalu bilang padamu mamamu dan ibu-ibumu berkumpul dengan cerita mereka bukan berkumpul untuk mencibirkan orang dalam cerita mereka. “Ya, biasalah. Kan mulut mereka sedang merah sambil mengunyah sirih pinang.

Lyan, di Gereja yang dahulu sempat jadi tempat kita bertemu dengan-Nya. Kini telah sepih hingga sunyi. Ia kosong tak ber-penghuni. Hilang detak – denting ubin-ubin lantainya. Pintu-pintu yang berada di ketiga sudut bangunan itu terkunci dengan rapatnya. Mazmur – kidung dan Alleluya pun tak lagi nyaring di mikrofon depan altar. Bacaan- bacaan dan renungan-renungan hati tak lagi terdengar oleh hari-hari belakangan ini. Kau tahu Nak, kini dunia sedang sedih. Dulu ketika pintu-pintu tua itu terbuka dengan lonceng-loncengnya yang berdenting saling sahut menyahut tiga kali enam itu jadi terlihat risih. Amarah bergelora. Malas bersentuhan dengan kaki. Hati jadi rundung gelisah. Dan tubuh jadi meranah ketakutan. Sedang sekarang, ramai-ramai orang merindukan pintu tua itu terbuka. Ramai-ramai orang bercengkerama dengan kerinduan untuk mendengarkan bacaan-bacaan dan renungan dari mimbar. Kini, di setiap rumah, dengan bening kaca jendelanya terlihat amat telanjang lilin-lilin menyalah. Sambil terdengar lirih doa-doa patah yang tersenggal sesal. Ah anakku, hari sudah malam, bukankah kita harus berdoa dulu? Senja itu, pergi dengan cerita Ayah yang mulai menarik. “Yah, cerita lanjut. Kan masih ada beberapa jam sebelum malam ini dikatakan pagi. Apakah tidak mungkin, jika kita berdoa di pukul 21:00 WITA?” kata, Lyan sore itu kepada Ayahnya.

Nak, sehabis doa Ayah janji Ayah akan melanjutkan cerita ayah saat menina bobokanmu.” Ucap ayahnya dengan yakin. “baiklah, Yah.” Jawab Lyan dengan nada sedikit merajuk dan cengeng.

Ada-ada saja cerita yang dikeluarkan dari mulutnya. Cerita-cerita yang membuat perut jadi kesakitan dan suara jadi parau. Cerita-cerita yang membuat suasana cair tak canggung. Cerita yang menghidupkan keharmonisan sebuah keluarga kecil itu.
“Ayah, bukankah malam ini ayah akan menceritakan kembali tentang sepenggal kisah mengenai dunia saat ini?” tanya Lyan dengan nada merajuk.

Nak, kini dunia jadi pengkhianat atas diri kita sendiri. Kendaraan-kendaraan yang dahulu ramai hilir mudik di atas jalan depan rumah kita terasa lebih senggang. Pasar-pasar samping tempat kerja ayah pun berminggu-minggu sepih. Dahulu, kita saling bersenggolan antara tubuh dan barang belajaan. Antara tubuh – barang belanjaan dan kendaraan roda dua maupun empat yang hilir mudik. Baik yang bermuatan barang-barang pangan yang ingin di jual dari orang-orang utara maupun orang-orang selatan bahkan tidak ketinggalan beberapa tetangga kita pun ada yang bernegosiasi sebagai produsen maupun yang bermuatan penumpang. Pasar-pasar itu kini terasa amat senggang – longar tak terasa pengap. Udara-udara yang kita cium mulai lebih bersih tanpa knalpot-knalpot kendaraan. Bahkan di tempat kerja ayah saja, pasien-pasien yang biasanya ramai berkonsultasi dan menyampaikan keluhan sakitnya mulai sepih. Koridor-koridor depan ruang kerja Ayah dan Mamamu terasa lebih tenang ketimbang biasanya yang ramai ubin berontak kesakitan dengan sandal-sandal, sepatu-sepatu maupun tumit-tumit hak tinggi dari para perawat muda di puskermas tempat ayah bekerja. Terminal dekat rumah kita pun terlihat sepih. Sekolah yang ada di seberang jalan depan rumah kita pun terlihat berdebu kaca-kaca jendelanya yang telanjang. Taman-taman tengahnya sudah penuh dengan kayu-kayu kering dari ranting-ranting bongsai dan mangga yang berceceran pun daun-daun kering yang berhamburan gugur satu per satu. Tertinggal pasrah hingga mendaur dirinya sendiri jadi kompos untuk tanah nenek moyang kita yang subur ini.

Lyan, mari kita berdoa. “panggil mamanya dari kamar tidur Lyan.” “Esok baru lanjut ceritanya. Sudah larut, kau harus tidur lebih awal malam ini. Ayah dan Ibu juga butuh istirahat lebih awal.” Lanjut, Mamanya.

Kamis, 07 Mei 2020.

Lyan, terjaga dengan cerita yang masih utang oleh ayahnya. Ia begitu menikmati setiap cerita yang keluar dari mulut ayahnya. Cara ayahnya menafsir realitas. Cara ayahnya bercerita. Cara ayahnya mengagumi dunia dan cara ayahnya menggunakan bahasa dalam alur ceritanya. Semuanya itu membuat Lyan semakin rindu dengan lanjutan yang belum selesai itu.
Pagi itu, embun telah pergi. Lyan terbangun dengan aroma daun teh yang diseduh ibunya dari dapur. Dengan sedikit menguap dan mata yang merah pun wajah yang powa ia menyambar cangkir teh itu. “hem, mama betapa nikmatnya teh ini.” Ucap lyan mengagumi.

Mamanya telah bersih dan rapi di balut pakaian bidannya siap untuk mengemban tugas kemanusiaannya. Sedang asyik ia menyeduh teh buatan mamanya, ayahnya keluar dari kamar tidur dengan jelana trening panjang dan baju kaus oblong hendak menghantar makanan untuk para pekerja yang di sewa oleh keluarga mereka di sawah tanpa sempat mencicipi pisang goreng yang dibeli mamanya di depan jalan rumah mereka pun tak sempat menyeduh teh yang telah disajikan oleh istirinya.

Semuanya berlalu dengan begitu damai. Pagi mulai nampak rengang, embun mulai pergi meninggalkan dedaunan dan rerumputan depan rumah mereka. Matahari mulai merangkak perlahan-lahan ke atas kepala. Garis siluet silaunya nampak sengat menyengat. Ayahnya yang baru pulang dari kebun tak sempat lagi mencicipi pisang goreng yang telah dingin di atas meja dalam tutupan saji dengan teh yang telah dingin. Buru-buru menyiapkan diri ke puskesmas tempat ia bekerja.

“Lyan, jangan pergi ke mana-mana tetap tinggal di dalam rumah. Kalaupun mau keluar cukup ke depan kios tanta biar bisa bermain dengan Sibe dan lainnya. Ayah pergi ke puskesmas dulu. Ingat tetap stay at home.” Pesan ayahnya.

“Iya, Yah. Hati-hati. Jangan lupa pulang bawa serta dengan bakso. Heheh” teriak Lyan mengamini ayahnya ke kantor. Matahari nampak gelap. Langit mulai senyap. Gelap tanpa tanda ada hujan yang jatuh. Ibu nampak meringis. Awan mulai terlihat pekat – mengumpal. Sedang di dinding waktu nampak berada tepat di pukul 11:30 WITA. Hujan sama sekali tak jatuh.

Dring..drang…drungg…. handphone Lyan berdering dengan nomor yang memanggil tertera nama mamanya. “Hallo Ma.. Lyan, Lyan… Iya Ma. Mama bak-baik saja kan. Lyan, Ayahmu, Ayahmu telah pergi.” Percakapan singkat itu berakhir. Hujan memang tak jatuh dari langit. Langit pun sungkan menjatuhkan air matanya. Ia membiarkan air mata itu jatuh dari ke dua sisi pelopak matanya. Tubuh Lyan, mulau terasa karam. Lidahnya mulai tawar. Ia membisu. Mulutnya mulai tinggal gemeletup mulut yang tak teratur. Semuanya tiba-tiba saja.
“Lyan, kamu kenapa Lyan.” Tanya tantanya. Yah, tan. Ayah telah pergi meninggalkan kita. “jawab Lyan dengan air mata yang telah jatuh pun suara yang mengelegar. Isak pecah. Rumah jadi diam tinggal mata yang menyanyikan airnya dan mulutnya bercerita tentang semuanya.

Mobil ambulances, terdengar samar-samar jauh dan mendekat. Ia bertamu dengan tubu ayahnya yang telah berbalut pakaian adat. Bukan dengan kakinya. Ia di popong dengan peti yang mendiami jazadnya. Ibu-ibu dan ayah-ayah tentangganya mulai berhamburan. Tiap-tiap orang dengan air matanya masing-masing. Dengan mulutnya masing-masing bercerita ramai dengan nyanyian air mata. Di depan rumah begitu cepat jadi bersih tanpa putri-putri malu. Di setiap sudut rumah telah berdiri koko patokkan kayu-kayu bambu dan gamal. Terpal mulai mengatapi halaman rumah mereka. Sedang di sudut kanan rumah mereka, beberapa orang tua mulai mengukur tanah, mencangkulnya, dan mengalihnya hingga pas.

Ibuku, mulai sesak terasa sengal. Dan aku, aku mulai tanggis tanpa tahu semuanya begitu cepat. “Ayah, malam tadi kau berpesan jangan lupa doa dulu kepadaku sebelum aku pamit pergi tidur. Kau juga lupa, bahwa malam sebentar masih ada cerita yang kau untangkan kepadaku. Dan aku begitu gembira menikmati hari ini. Namun semuanya hilang – lenyap. Kau mengantungkan cerita itu. Kau mengantungkan pesanmu kepadaku. Kau membiarkan aku bertanya-tanya apakah dunia yang mati dengan kematiannya atau ceritamu itu yang menjadi tanda bahwa hari kita telah mati?

Ayah, bangun Yah. Yah, bangun. Pecah tanggis itu. Terasa piluh. Orang-orang tua yang datang jatuh lesuh. Tak tahu mau mengatakan apa. Air mata tinggal bahasa membahasakan ketidak percayaan pada kematianya yang begitu dini. Semuanya berubah. Semuanya tak ada lagi. Selain cerita yang samar-samar, cerita yang akrab terdekap, cerita yang dirindukan namun terbentang antara runag – waktu dan lilin-lilin yang terang benderang mulai malam ini.

Ayah, mana leluconmu? Masih adakah teh ketika kopi di toples ibu menyeduhnya kering? Ayah, aku masih kecil. Aku masih butuh Ayah. Ayah, mana si jagoku yang selalu melindungiku. Ke mana lagi aku mencarinya? Ibu, Ayah Bu. “teriak tangis Lyan kepada ibunya.”

Ayah, perlukah aku ikhlas dengan usia gadisku yang belum benar-benar pergi remaja?

Nitapleat, 2020.

*Ceritanya nyata dengan alur yang diimprovisasikan. Buah imajinasi.
Cerpen ini saya buat untuk Om saya Alm. Geradus Pangkur yang pada hari Kamis, 07 Mei 2020 dipanggil oleh Allah ke hadirat-Nya.
Selamat Jalan Om. Doa kami anak-anakmu menyertaimu.
Sampai jumpa di surga. Rumah tempat kita berjumpa, nantinya. Amin.

Penulis:
Chan Setu mahasiswa semester IV di STFK Ledalero. Saat ini menetap di Wisma Arnoldus Nitapleat Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Maumere.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button