cerpen

Surat untuk Cinta dan Ajal yang Pulang

Foto: Pinterest

Penulis: Che Setu Ef Er

Kau pernah memanggilku untuk pulang bukan karena hatimu yang merasa rindu melainkan karena kebencian yang kau pupukkan bersama angin yang tak benar-benar membuat ranting itu bergoyang. Kemungkinan membelenggumu, mengurungmu dalam secangkir kopi dengan ampas yang kau biarkan berdaur ulang dari hari ke hari. Kau pernah menulis sebuah doa dan membacanya dengan hati atau kau hanya menulis sebuah puisi dan membacanya dengan sebongkah air mata? Semoga kau tahu hal yang pasti dalam hidup kita adalah ajal yang akan membawa kita pulang. Euforia hidup yang kita jalani hanya selipan yang disisip oleh Tuhan dalam saku baju dan celana yang kita kenakan. Pilihan, mengembangkan doa yang Tuhan sisipkan atau mengabaikannya dan membawanya terkubur tanpa perlu diingat bahwa kita pernah berjalan bersama.

Semoga kau tahu, bahwa kita saat ini sedang tidak baik-baik saja. Dan aku, atas ceritamu membaca sebuah puisi, semoga kau menyimaknya.
Selamat membaca, sayangku.

April 2019

Cinta kekasihku, terima kasih untuk sebuah doa yang kau sembahkan setiap sujud fajar mereka. Di bilik pembaringan kita, ada doa yang selalu kau sertakan namaku di dalamnya. Antara memulangkan ingatanku atas-Nya atau memanggilku untuk menemani doamu sambil membaca doa secara bersamaan bukan sama-sama mendoakan. Kau gadis yang saban waktu kujumpai dalam perselingkuhanku yang mesra dengan imajinasiku. Kau lahir dari sebuah puisi yang ditulis oleh seorang laki-laki tak berperawakan hanya memiliki insting untuk menyayangimu, namun tak dapat mendekapmu lebih lama dan kuat, memilih untuk mati bersama realitas bahasa yag absur. Maafkan aku, kekasihmu yang tak pernah mendoakan cintamu.

Gio, mari kita berdoa, memanggil kembali rahmat yang Tuhan curahkan kepada kita. Memulangkan kembali hasrat untuk kembali bernafas dalam hari-hari yang pelik. “Berulang-ulang kali, kau mengajakku tanpa lelah dan berkali-kali pula kau dikhianati oleh bibirku bahwa imajinasiku pun turut berdoa bersamamu.” Dapatkah doa diimajinasikan? “tanyamu lebih lanjut.” Aku tak menjawab, bukan karena mengiakan ucapanmu melainkan karena aku terpukul dalam diam. Kau pernah membayangkan sebuah cinta yang dipungut dari kesetiaan yang diam-diam disimpan oleh hati dan suatu waktu ia membuka hatinya sedang cintanya telah berpihak kepada orang lain? Bukankah, kau bisa merasakan betapa meringgisnya ia atas cinta yang bertepuk sebelah tangan itu? “Cinta, kekasihku. Aku ragu dengan doamu yang begitu kusyuk dari waktu ke waktu. Aku ragu bukan dengan keyakinanmu. Bukan pula karena hatimu yang tulus untuk berdoa. Aku ragu dan lebih ragu pada keabsahan isi doamu itu.” Tanyaku, membatin. Sekalipun aku tahu kau tak pernah menceritakan ayat-ayat doa yang bicarakan dari waktu ke waktu. Namun, atas percintaan kita dan pertemuan bibirmu dan bibirku yang dicium melalui cangkir kopi setiap pagi dan senja mengakhirnya harinya aku dapat merasakan betapa berkali-kali air matamu jatuh dalam nama yang berkali-kali kau panggil pulang. Namaku, yang kau sebut berkali-kali di hadapan Tuhan dan kebisuan yang sedang kalian perbincangkan. Cinta, maafkan aku untuk kesendirian yang tak pernah menemanimu lagi.

“Gio, hari ini, hari minggu. Dan lonceng gereja telah memanggil kita berkali-kali dan kau belum juga membasuh wajahmu dan menyiapkan diri untuk membesuk Tuhan di pelatarannya. Sudah, kusetrikan jeansmu dan kamejamu dan telah kusisipkan lembaran-lembaran doa yang harus kita sembahkan saat bersembah dengan-Nya.” “Ah, Cinta kamu duluan saja. Sebentar aku akan menyusulmu dari belakang.” Jawabnya kemudian.

“Gio, mari kita sama-sama berangkat berdampingan ke rumah Tuhan. Mengingat lagi satu kali lonceng gereja memanggil kita kembali jadi tidak salah sekang pergilah membasuh wajahmu dan bersiap-siap membawa doa sebagai persembahan hati untuknya.” Gio, tidak kau dengar ajakanku? Lanjut, cinta dengan suara yang mulai parau dan bisa kupastikan raut wajahnya jadi kusyuk, meskipun tak sempat kumembba wajahnya lebih dekat.

Aku, diam. Membusungkan tubuh dengan jemari dan mata yang terus menoreh pada lembaran-lembaran kecil dalam sebuah surat yang tak pernah usai ditulis. Maafkan, egoku Cinta, kekasihku. “Lagi-lagi, aku membatin saja.”

“Gio, sejak kita menikah dan menjadi satu dalam sebuah pernikahan suci. Kau begitu banyak berubah. Perubahanmu membuatku yakin bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Mungkin saja, aku bukan wanita yang tepat untukmu yang bisa jadi pernikahan kita hanya sebuah pemenuhan ambisi imajinasimu. Kau tak pernah membawa pernikahan kita ke dalam dunia nyata. Kau, nyaman membawanya bercinta dalam pikiranmu. Menurutmu, aku ini siapanya kamu, Gio?” tanyanya beruntun dengan suara yang tanggal bersama air mata. “Aku, aku, aku hanya tak kuasa pada diriku sendiri, Cinta.” Tapi Gio, betapa menyakitkan bagiku, tatkala duniaku direbut dari imajinasimu. Aku tak pernah menangis di depanmu. Namun, kau tahu telah berulang kali aku menangis tentang pernikahan kita. Aku tak pernah mempersalahkan pernikahan kita dan kau tahu , kau selalu mempersalahkan pernikahan kita. Aku selalu menganggapmu kekasih yang sejak awal jumpa kita sebelum ke pelaminan ini, cinta dari seorang lelaki yang penuh rasa sayang, humoris dan seorang pria yang selalu mampu meredup kesedihan seorang wanita khususnya kau. Namun kau tahu bahwa kau seperti mengkhianati dirimu sendiri. Aku begitu mengenalmu, kau seorang pria yang begitu taat pada ajaran-ajaran imanmu, kau begitu aktif dalam hal-hal gerejani dan kau tahu bahwa kau telah berubah. Kau menyangkal dirimu berulang-ulang kali, membiarkan dirimu terkurung dalam perhelatan relalitas riil dunia ini dengan imajinasimu yang kian absur tanpa pernah menuai usai.” Gio, aku ini siapanya kamu?” kembali, tanyanya itu.

“Cinta, begitu banyak dunia menutup diri dari dunianya sendiri. Begitu banyak manusia yang merasa baik-baik saja sedang banyak luka yang terbungkus perban dan banyak pula kematian yang dikafankan tanpa diminta dan diduga. Tak ada surat yang menjadi wasiat untuk orang-orang tercintanya.” “Memang, kau mengenalku. Aku seorang pria yang periang. Meredupkan air matamu ke dalam pelukkan manja dan tawa renyahmu. Aku memang seorang pria yang begitu religius dan berkali-kali menjadi relawan gereja untuk berbagai perhelatan persoalan yang terjadi. Namun, satu hal yang tak pernah kuberitahu kepadamu. Sejak, aku menemuimu pada suatu waktu dengan tawa renyahmu yang lepas bebas. Ada cinta dari mataku yang menatap senyummu. Kita berkenalan dan mulai saling bercakap-cakap baik lewat chattingan fb/WA maupun lewat tatap muka secara langsung baik di kampus juga di beberapa tempat lainnya ketika kita bisa saling berkencan. Aku, mencintaimu sejak mata kita saling bertemu. Suaramu yang halus dan damai membuatku jatuh dan berkali-kali jatuh dalam labirin cinta yang tak mungkin bisa dibawa pergi tanpa mengenangnya menjadi sebuah ibadah paling suci. Hingga, suatu hari seminggu setelah pernikahan kita, aku mulai berbicara dengan Tuhan dalam diam matamu. Kau tak pernah tahu, betapa banyak hal lain yang tak bisa kuceritakan kepadamu. Aku periang, sebab aku tak ingin menghabis sisa hidupku dalam kesedihan yang panjang. Aku rajin beribadah sebab aku tak ingin mati selepas cintaku begitu dalam terhadapmu dan aku yakin mujizat Tuhan selalu nyata. Aku, di vonis oleh dokter mengalami kangker otak sejak hari dimana aku bertemu denganmu. Dan ketika, kau dan aku saling mengikrarkan janji. Sejak itu, aku lupa bahwa Tuhan sedang mempersiapkan ajalku dan aku benci. Benci kepada mujizat yang tak kunjung usai. Dari waktu ke waktu aku mencoba berkonsultas namun tak ada hasil positif yang bisa kuaminkan kembali. Aku menulis surat ini, untuk maafku kepada anak-anak kita agar kelak mereka paham bahwa Ayahnya tak harus mereka ingat dalam ingatan mereka. “Aku menulisnya itu.”

“Gio, kau tidak tuli untuk mendengarkan perkataanku.” “Siapakah, aku ingin untukmu?”
“Cinta, kekasihku. Kau adalah Tuhan untuk mengiakan doaku yang tak pernah tuntas. Kau adalah ibu untuk sebuah pernikahan yang kucecerkan, berantakkan di atas kasur tempat kau dan aku memimpikan masa depan bersama anak-anak kita. Cinta, kau adalah pagi dan malam yang selalu menjadi awal dan akhir pada hidupku. Aku mencintaimu.

Akhir April, 2019.

Cinta, kekasihku, kekita kau membaca suratku ini. Jangan kau menjatuhkan air matamu. Sebab, masih ada air mata yang kutinggalkan pada anak-anak kita yang perlu kau ajarkan untuk jangan sekali mencintai ayah mereka.
Cinta, kekasihku. Maafkan aku suami yang melarikan diri dari mujizat, Tuhan, “Jangan kau tanyakan lagi siapa dirimu bagiku?” Sebab, kau adalah Tuhan atas ibu-ibu yang dititipkannya untukku.

Cinta, surat itu kubuat usai pertengkaran kita dalam diamku yang panjang tanpa banyak berkata. Aku yakin, kau paham bahwa ajal selalu memanggil kita untuk pulang. Cinta kita abadi dalam ingatan anak-anak kita. Kelak, jika kau siap untuk menceritakan namaku Gio sebagai ayah dari mereka.

Kutitip kecup untuk anak-anak kita.
Surat buat Cinta dan Ajal yang pualng, semoga kita berjumpa di surga.

Nita Pleat, April 2020.

Penulis:
Chan Setu merupakan putera bungsu dari lima bersaudara, kelahiran Detusoko 29 April 1998. Sata ini menetap di Wisma Arnoldus Nita Pleat. Salah satu anggota kelompok sastra ASAL Ledolero.

Editor: Edid Teresa

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button