Puisi

Tahan, Tuhan Antologi Puisi Indrha Gamur

Sebatang rokok, sebotol alkohol yang sebatas ekspektasi semata.
Aku dan kita kini hitam dan lebam
membungkam kata dan hasrat paling anjing.
Asu.

(Indrha Gamur)

Tahan, Tuhan

Di antara genangan air mata
Seribu harap bertaburan di atas ranjang
Kalau dulu, kita munyukai ucapan
selamat sudah postif.

Namun semua sudah berubah
kalimat itu menjadi bumerang
Yang menghantam hidup penuh ketakutan
Balada badai menerjang kita di sini.

Selain sesak nafas menahan ngeri
juga menahan ngeri dari semua tuduhan
seperti tuhan sedang menguji
di dalam jeruji,
aku menggembok semua mulut penuh anjing.

Lalu tidur menjinjing duka lebam pada tubuh.
Bagai sakratulmaut mendekat
Malam dan alam kini hitam di hadapanku
Menginjak ego, membunuh diri dengan dendam yang dipendam dalam isak tangis

Teragis, membantai dari segala sisi
susah dan dan senang
memungutku dari murka.
Tuhan, tahan aku belum siap.

Surabaya juli 2021
(Dari ruang isolasi mandiri)

Baca Juga : Kembali
Baca Juga : Jalan Panjang, Antologi Puisi Wandro Julio Haman

Malam ini

Tiap pagi mengejar matahari yang gratis
Dengan cahaya yang berkilau megah
Kumengadah ke arah ia terbit
Terbesit rindu mengalun dalam alunan

Suatu hari ketika semua kembali pulih
kuingin pagi yang sama bersama-sama
Kita berada pada pelukan yang erat
melepas semua dahaga dalam dada.

Di antara kemuningan mentari itu.
Aroma teduh membingkai pagi yang utuh
Menari, bersukacita seperti angin menerbangkan segala keluh.
Meluluhlantahkan segala gaduh.
Melukis ingin dalam gemercik embun yang masih tersisa di dinding jendela.

Di atas kota ini
Setelah memesan sunyi
Kuingin menghidangkan rindu paling utuh.
Setelah sekian patah.
Di bibirmu, malam ini.

surabaya, juli 2021.

Baca Juga : Perasaan Tumbuh Dengan Cacat Antologi Puisi Alfa Edison Missa
Baca Juga : Nostalgia Alarm Tua

Asu

Di sudut kamar itu.
Semua rindu kembali di isolasi
betapa mandirinya di dalam sana
meneguk segala gundah.

Barang sebatang rokok
dan sebotol alkohol mampu memabukkan dari kekacauan dalam kepala
sejenak melupakan skalarat maut yang
mungkin saja sudah depan mata.

Namun,….
Keduanya hanya menjadi ekpetasi
ah….
asu……
Semua benar- benar menggiringku jauh dari ketenangan.

Meracik caci maki dalam-dalam diam diam
Menginjak malam-malam penuh ganas
membuas memangsa romantika dengan kelabu.
kalbu yang abu.
hitam dan lebam.

Surabaya, juli 2021

Baca Juga : Cinta dan Toleransi Dalam Kaca Mata Mahatma Gandhi Serta Relevansinya Dalam Membangun Kesatuan NKRI
Baca Juga : Petualangan Cinta di Kampung Ndoso

Berdering

Sepasang merpati terbang manja, sore itu
Nanyian seruling mendobrak sunyi di balik kamar.
Di dekat tirai menyibak semua asa.
yang nyaris putus.

Sesaat kemudian magrib mulai berkumandang bersamaan dengan
lonceng gereja pertanda angelus di mulai.
Sesaat dalam keheningan dan kekhusuyukan itu
Mengeja doa-doa meski tak beraturan
Antara benci dan cinta melebur
menjadi satu.

Betapa sekaratnya tubuh itu
Berdoa seperti lolong selaksa anjing
mengerikan.
Resih…resah dan gelisah
di dadamu kupasrah.

Lalu langit tanpak sempit
segala kupaling dengan tatapan kosong.
kembali rebahkan diri di atas kasur lusuh
sementara jagat menolak sunyi berkali-kali.

Malam tiba, menutup mata penuh duka
Hati penuh kabut.
Perjalanan menembus belantara.
Setelah ini tak ada bukti.
Selain air mata jatuh ke bumi.

Kasih-Mu yang putih.
kukirimkan durasi puisi sebagai syukur tiada tara.
Kepadamu sekalian kuberikan
Dalam kecup yang paling mesra

Surabaya, Juli 2021.

Indrha Gamur penulis dan pimpinan redaktur banera.id. & Redaktur sastra Letang media.News.”

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button