cerpen

Tak Bisa Membohongi Rasa

Penulis | Fand Wasa

Malam pekat menyelimuti jagat. Dua jam lagi tahun akan berganti. Riuh gaduh petasan membumbung mekar mempercantik malam. Di tengah malam yang syahdu, sesosok Cinderela berparas cantik lagi anggun, bergigi gingsul, pipi lesung hadir menambah suasana suka di tengah alam yang sedang bermetamorfosis. Ingatan tentangnya terus terlintas di wajahku. Saat aku sedang asyik bercerita dan bercanda tawa bersama keluarga kecilku, ia menghampiriku dan mengajakku menikmati makan di meja perjamuan yang telah disediakan.

Baca juga Kisah Pemerhati Lingkungan Hidup, Dr. Sonny Keraf

Ternyata ia juga diundang keluargaku untuk bersukaria bersama. Itulah awal jumpa penuh cinta di antara kami. Awal yang menjadikan power of love yang tidak tuntas dibahasakan kata-kata tetapi kekal terekam dalam imajinasiku. Kedatangannya tanpa kuduga mendekap erat dalam ingatan dan genit merasuk kalbu hingga aku tak berdaya dibuatnya saat membayangkan aura wajahnya yang indah menawan itu. Mengabaikan kedatangannya adalah kesia-siaan. Membiarkannya jalan lewat adalah kebodohan yang akan melahirkan penasaran yang tak bertepi tuntas. “Bukankah kesempatan hanya datang sekali dan menuntut tanggapan terhadap kesempatan itu”,? kataku pelan dalam hati sembari malu-malu menatapnya. Hari berganti hari, waktu terus melaju. Penasaran pun perlahan ‘tertidur’ ditelan suasana liburan bersama keluarga dan sanak saudara di kampung halamanku.

Bac juga Aku Mencintainya dalam Diam

Namaku Enjelino, seorang biarawan misionaris. Dengan berstatuskan Frater membuat aku dan kawan-kawanku menjadi rebutan para ladies. Varian pujian sering dilayangkan padaku. Katanya sih, Frater itu ganteng, manis, pintar, bijaksana, motivator. Setiap kali berbicara dengan Frater hati kami terasa adem. Pujian ‘tak berkasut’ ini yang sering kudengar disetiap celoteh para puella, sebutan yang dialamatkan kepada para gadis. Meskipun statusku sering dinilai istimewa, rasa mencintai dan dicintai tetap merasuk dan menggema dalam diriku. Riak-riaknya sering kurasakan saat berjumpa dengan ‘mawar’merah jingga di malam pengganti tahun baru. Perjumpaan itu sering kuciptakan sendiri saat duduk sepi di meja belajarku sembari membayangkan wajahnya yang dibalut gingsul dan lesung pipi. Apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama? Ah, entahlah. Biarkan waktu yang akan berbicara, gumamku pelan sambil tersenyum kecil.

1 2 3 4Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button