cerpen

Tentang Rumah, Kamar, Bosan, dan para Masyur

Foto: Google

Oleh: Exefer Joak-im

(untuk rahim yang pernah didiami, dari kaki gunung ranaka)

Berada di tempat ini bukan karena masalah, bukan melanggar hukum, bukan pula karena kebetulan atau karena pelarian. Tubuh, pikiran, rasa, dan keutuhan diriku ada di sini adalah karena kehendak bebas. Salah, bagi mereka yang menyematkan keputusan ini dengan pengasingan dan penghindaran. Salah pula, bagi mereka yang mengataiku pembenci dunia.

Tempat ini, tubuhnya diselimuti pagar tembok dan kawat berduri. Sekilas menilainya, akan mengira sebagai pemisahan dengan dunia awam, menolak sosialitas, atau introver. Masuk ke lorong-lorongnya, sepi, tapi terasa seperti terpantau. Diam, tapi seperti ada kerumunan menghuni. Banyak, tapi tidak terlihat. Hampir sebagian besar tentangnya buram bagi indra. Sampai kini, tampang tempat ini menimbulkan tanya, curiga, takut, dan gosip-gosip dari para pelihat.

Itulah rumahku. Hunian bagi imajinasi, bagi impian, bagi doa-doa, dan bagi tubuh. Rumah yang membentuk aku menjadi aku yang utuh dalam pencarian. Aku yang berani memutuskan. Aku yang ada saat ini, di sini.

Pilihan menuju tempat ini tidaklah mudah. Hal terberat yang digalangkan adalah merantai kaki dan pikiran. Lalu, membujuknya untuk setia dalam rumah. Ini seperti merenggut hak berziarah lintas tempat, lintas tubuh, lintas waktu. Tanpa keputusan bebas, tempat ini akan menjadi mimpi buruk bagi tidur, bui bagi ambisi, dan halangan bagi cita-cita. Akhirpun menjadi penderitaan bagi rutinitas. Bagi penghuni seperti ini, sebaiknya ia pamit, dan beranjaklah darinya.

Mulai dari detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan berakhirnya tahun, yang dilakukan, tak ada yang berbeda. Bagun pagi, basuh tubuh, brevier, misa, sarapan, kuliah, makan siang, istrahat siang, olahraga/kerja, mandi, belajar/salve/verper/latihan koor, makan malam, rekreasi, belajar, dan tidur, lingkaran yang berulang dilakukan. Sekilas, tampaknya selalu bergegas. Tapi, begitulah bila telah terprogramkan. Tak bisa lari darinya. Bila ada yang melanggar, ia akan disiksa oleh tatapan kerumunan, yang menyindir tanpa mengatakan apapun. Hati penghuni yang peka, akan merasakan tajamnya sayatan itu.

Menurutku, di antara tempat-tempat yang sering dipijaki, disandari, diduduki, dilarii, dan dijalani, kamar adalah lokus utamanya. Penghuni rumah ini diajarkan untuk mencintai kamarnya, apapun bentuk, isi, rupa, kekurangan dan kelebihannya. Sejak awal pijakan kaki, petuah ini sudah tertulis pada pamflet, agar anggota barunya membangun dan mencintai diri di kamar.

Ya, gambaran tentang dunia dari rumah ini, seutuhnya di dalam kamar. Coretan filsuf, teolog, novelis, politikus, atheis, dan barisan pencipta kata, semuanya dibungkus dan diantarkan ke dalam kamar. Kamar menjadi citra dunia. Tak jarang, untuk membangun dunia, penghuni di sini menjadi penjarah kekayaan para masyhur dunia. Dari daring, perpustakaan, Gramedia Maumere, Libgen, dan dari pabrik-pabrik ilmu, berantrian masuk ke kamar. Anehnya, jarahan itu tidak pernah penuhi luas kamar, dan sampai kapanpun tidak akan pernah.

Cerita tentang kamar di rumah ini, memang tak habis dikupas. Itu akan selalu timbulkan tanya dan jawab. Seiring perjalanan usianya, kamar akan menempatkan penghuninya di antara benci dan rindu. Tak terkecuali, aku dan pencarianku.

Pada kesempatan beradu akrab dengan sejawat, berdua pada Minggu pagi. Pano, begitu nama panggilnya, mengutarakan pergulatan tentang dunia yang direnggut darinya. Dari kerutan dahi, sorotan mata, dan semburan asap, mudah ditebak ia merasa. Kamar telah merampas dirinya dari tengah dunia dan menguncinya di balik dinding-dinding. Ia seperti bukan dirinya saat menjalankan aturan.

Oe teman, kraeng tidak jenuh berada di kamar? Bo aku ta, seperti sudah ada yang hilang dari diri. Rasanya bosan bila tiap hari yang dipandang adalah orang-orang yang sama, dinding, dan tembok-tembok. Berdiam di sini, seperti pelarian saja”. Pano menutur katanya.

Tak ada cacat pada tutur Pano. Ia mengatakan hal yang riil di sini, dan mungkin berulang-ulang pernah dituturkan. Tuturan yang mengguncang makna ada di sini. Bagaimana cara menjinakkan liarnya pikiran, tubuh, dan imajinasi, agar berdamai dengan kenyataan, atau bagaimana diri harus seutuhnya ada di sini dan mencintainya tanpa tanya. Tanpa damaikan pikiran, tubuh, dan imajinasi, hidup akan menjadi lapang perkelahian, menguras tenaga, dan menyusutkan daging-daging.

“Apa yang kraeng katakan, bukan isi hatimu saja e bro. Situasi yang sama pasti dialami yang lain, terutama dalam kondisi batas. Bosanmu itu natural adanya”. Aku beri sedikit penguatan.

“Tapi, bahayanya, aku terobsesi dengan kebosanan ini, lupa dengan pengenalan diri”. Ia sentil pergulatan dirinya.

“Aku akui, tuturmu menyulut api ziarahku, yang berulang-ulang ku tanyai. Untuk apa aku ada di sini? Puncak tanya ini berkecamuk keras, kala terdengar ocehan salah satu kae di kamar mandi. “Seperti mimpi saja, sembilan tahun, seperti hari kemarin”. Aku tidak tahu, alasan apa kae itu mengatakannya. Tapi, kalimat ini menyentil kedalaman ada-ku di sini, yang sebentar lagi, setelah dia, aku menghabiskan masaku di sini. Waktu yang begitu singkat.” Aku ungkap pula perasaan yang sama.

“Mungkin kita kurang piknik e, hahaha…” Pano cairkan suasana dengan konyolnya
“Mungkin juga,…
“Kalau begitu, hari Minggu kita ke Tanjung”. Pano tawarkan ide rekreasi

Tanpa kedalaman tanya dan jawab, kamar akan menjadi penyiksaan. Kamar akan menjadi seperti yang ditanyakan Pano, yang didengarkan olehku, atau yang ku alami. Diri akan terasa hilang, hampa, dan merobot, yang diremotin, kapan harus di dalam kamar, dan beranjak darinya.

Satu-satunya jalan mengendur rasa itu adalah berada bersama yang lain. Jumpa itu akan memantul diri dan perasaanmu, bagaimana seharusnya memandang pergulatan?

Masa menghuni rumah itu akhirnya berakhir. Aku dan jaraknya pun terbentang jauh. Tak ada lagi yang batasi gerak-laku, isi bicara, keonaran, dan doa-doa pun tidak terikat tempat. Semua yang dilakukan terserah aku. Bukan lagi aku yang mengikuti aturan, tapi aturanlah yang menurutiku. Seperti burung yang terlepas dari jerat penangkap, begitu kuumpamakan diriku saat ini. Terbahak-bahak dengan kembalinya liar yang telah kurantai berbelasan tahun lamanya.

Sebulan, dua bulan, dan berakhirnya tahun. Itu jarak waktu yang kutinggalkan dengan rumah itu. Aku kira, penghuninya telah menghapus jejakku dalam ingatan mereka. Apalagi diriku yang tidak menonjol dibanding lainnya.

Pada rentangan waktu itu, lambat laun, aku merasa seperti terobang ambing di tengah lautan, kehilangan arah langkah untuk menuju. Aku tidak tahu ke mana harus ku kemudikan perahu diriku. Bertani dan nelayan aku tak bisa, berbisnis aku tak pelajari, menganggur aku digosipkan. Yang pernah aku pelajari pun tidak dibutuhkan. Aku merasa sebatang kara, tak berdaya.

Memang aku ini bukan seperti seangkatan lainnya, yang berjalan lurus dengan panggilan awalnya. Aku keluar dari jalur dan membuat jalanku sendiri. Rombongan di jalan lurus, tak akan mencemaskan diri, tentang dari mana mereka makan atau minum. Rahmat yang diurapi pada tangan dan dahinya memberi mereka berkat, dan tak akan ada kekurangan padanya. Mereka boleh memilih hidup miskin, tapi karena pilihan itu mereka dicurahi harta berlimpah.

Berbeda dengan aku, pilihan ini harus digembur dan dipupuk berulang-ulang. Tanpa keringat dan air mata, berkat itu tidak akan bertamu di saku atau dompet. Itulah resiko jalan ini. Tawarannya memang menarik, tetapi berdarah-darah dapatkan nikmatnya.

Di belakang dapur, bersama dengan peliharaan, aku duduk mengenang rumah itu dan kamarnya. Serpihan-serpihan kisah, aku anyam perlahan-lahan, biar jernih terhubung menjadi kenangan. Akupun teringat akan para masyur yang pernah bertumpuk-tumpuk bertamu di atas meja dan rak-rak. Sontak hatiku tersadar.

“Aku yang berdiam dalam kamar sesungguhnya tidak pernah sendirian. Kamarku selalu ramai. Aku dikerumuni para pencipta kata, yang silih berganti bercakap-cakap denganku dalam diam. Keluhku tentang bosan, sebenarnya adalah kebodohanku. Aku tidak membuka diri kepada para masyur, yang ku tumpuk-tumpuk pada meja, yang ku pajang pada rak-rak. Kerap kali, para masyhur hanya memandangi aku dalam diam, mungkin menertawaiku, atau menyindir kebosananku”. Ku gelengkan kepala penuh penyesalan. Tanpa pikir panjang, aku lampiaskan pada babi yang merengek kekurangan porsi pakan.

“Di balik lilitan tembok dan kawat berduri, yang diindrai sepi dan tak berpengunjung, ternyata bersemayam para masyhur dunia. Kamar di rumah itu sesungguhnya gaduh. Cuma aku yang pasif mengajak mereka berbicara. Keenggananku buat para masyur berdiam diri Salah bila aku katakan, kamar itu merenggut kebebasanku, apalagi diriku”. Sekali lagi, aku mencerca kebodohan diriku.

Aku balik ke kamar mandi, bersihkan tangan dan kaki, melulur kulit dari amis pakan dan lumpur menempel. Bayangan tentang para masyhur itu bergema dalam pikiran. Kali ini sabda harapan di lubuk hati berujar merdu.

“Mungkin ingatanmu tentang rumah, kamar, dan para masyhur adalah sebuah peta, kemana kamu akan beranjak saat ini. Pasti, arahnya tidak sesat. Pergilah, kamu diutus”.
Aku kembali ke kamar, dan on-kan laptop.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button