Puisi

Tuan Malam Antalogi Puisi Ilak Sau

Tuan

Bisakah aku untuk bersiul dalam satu nama

Bolekah aku melipat rinduku pada isyaratmu

Dan Engkau kurungkan aku pada belain siur anginnya

Ilak Sau

Tuan Malam

Ada kabarkah darimu sang pujangga
Adakah kejutan mewah darimu sang raja
Layu tersipu rius Tinggal jejak melawar kata
Sajak terus merakit
Melampaui batas tanpa pikiran

Engkau tahu ?
Tetesan bening menipuku
Membuatku tak berdaya
Membuatku tekuk tak berlesu
Jahitan rindumu terus bersambung
Memaniskan pahitmu dari serbukmu
Menjalar rasa hingga mengarah

Hallo tuan malamku
Bisakah aku untuk bersiul dalam satu nama
Bolekah aku melipat rinduku pada isyaratmu
Dan kurungkan aku pada belain siur anginnya
Tatapan matanya terus memanggil
Membuatku akan terpanggil namanya
Membuatku terus menari dalam namaya
Dan membuatku terus berada dalam namamya

Hallo tuan malamku
Singkatku untukmu malam ini
Bukan sekedar untuk kutulis
Bukan sepadang untuk kuberi
Tatapi ku merakit betapa panjang lelah ini tak kunjung bertemu

Baca Juga : Antologi Puisi Banera.id Spesial Hari Puisi Nasional
Baca Juga : Logical Fallacy on Epstimology

Cerita Senja

Coretan senja terus berbinar
Mengikis paras hingga terpapar
Tiruan kata terus bersambung
Hingga beradu dalam merahnya awan

Singkat cerita diujung sana namun,
Panjang dalam pelabuhan
Tak semar namun bertekuk
Berpeluk kata hingga merajut

Setajam itukah cerita ini
Hingga melekat pada dinginya
Aku terpaku dalam dunia
Aku bertanya pada dunia
Hinggga waktu akan menentukan perihalku

Baca Juga : Ketakutan di Tengah Badai Virus Corona
Baca Juga : Membangun Integritas dan Dedikasi Organisasi Mahasiswa

Seduhan Kata

Serupa kopi yang kuceritakan didepanmu
Yang menjadikannya hitam pekat dan jernih,
Seperti cahaya wajahmu yang telah dirindukan
Asapnya mengempul wangi,
Menginggatkanku pada kata berlianmu
Hingga membiusku dalam pekukanmu
Aku serentak beranjak gila dalam mimpi
Hinggamemberii seteguk dalam secangkir kopi hangat…
Halusinasiku terpapar..hingga,
Aku tak menghiraukan panas bibirku dengan lidahnya..

Kutatapi ampas kopi yang melekat itu
Tampak seperti kisah yang mengendap
Seperti waktu yang membeku..
Hingga membawaku pada dunia hayalan
Aku ditemani dengan langit jingga
Yang ditebari awan merah di cakrawala
Lalu melengkapi kopiku
Yang terhidang hangat dalam sebuah senja

Baca Juga : Manggarai Timur Rumah Kita Bersama
Baca Juga : Hutan Manja Antologi Puisi Ardhi Ridwansyah

Ilak Sau

Penulis adalah Mahasiswi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng.”

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button