cerpen

Tungku Api Ibu

Foto: Klipingsastra.com

Penulis: Rian Tap

Sinar tamaran kembali setia memunggungi senja di ujung timur. Aku dan ibu sibuk mengupas kayu api yang masih basah, hasil carian kami kemarin siang. Sebab tak ada lagi kayu kering yang kami miliki untuk memasak. Nak, angkat kayu itu, bawa ke dalam, kata ibu. Pondok tua yang kami tinggal tak ada ruang tamu. Tungku dan tempat tidur berdekatan. Tak ada meja makan, apa lagi meja tamu. Ibuku yang usianya kian rentan termakan detikan waktu, masih sibuk meliuk sepi pada tungku yang belum jelas hendak memasak apa. Apakah memasak nasi ataukah hanya mau menghangatkan badan yang terkuras oleh angin sore.

Rambut putih sudah penuh dan mengalahkan populasi si hitam pada kepalanya. Wajah yang mengkerut menjawab waktu yang tak akan lama lagi, ibu pergi. Hilir mudik menyodorkan kayu bakar pada tungku, agar api tetap menyala. Sampai pada akhirnya ia tidak menyadari bahwa bukan kayu lagi yang ia sodorkan melainkan tangannya sendiri. Ibu menjerit kesakitan. Tetapi tidak mematahkan semangatnya untuk menyajikan makanan yang terbaik pada malam itu. Tak ada keluh. Tak ada protes. Ia selalu tersenyum pada tungku dan periuknya. Ia percaya sajiannya malam itu yang terbaik.

Setiap kali aku pulang bermain dari tanah lapang. Ibu selalu setia menunggu pada tungku. Sesekali ia meniup api agar tetap menyala. Anehnya, tak jarang ia menunggu pada tungku yang kosong. Tak ada api dan masakan. Aku pernah mencoba mengintipnya dari balik pelepah dinding, pada mulutnya selalu bergerak tetapi tidak ada suara. Mungkin ibu sedang meritualkan tungku ataukah ibu sedang berdoa kepada ayah agar memberi sesuatu supaya ia bisa memasak pada saat itu. Entahlah.

Kayu api yang masih mentah dan basah cukup sulit bagi ibu menyalakan api. Hari itu, ibu menanak nasi pada periuk yang sudah tua. Buka-tutup periuk adalah caranya menyaji kasih pada nasi yang kian matang.
Nak, mari makan?, aku yang sedari tadi sibuk menjahit celanaku yang bolong peninggalan ayah, langsung meliuk tunggu. Nak, kita langsung makan di periuk saja, dan kita makan pakai tangan. Tidak ada piring dan sendok, nak. Kami melahap nasi tanpa sisa. Meskipun kami makan nasi raskin yang baunya amat kental. Namun tetap ada kebahagian di sana. Sambil makan, ibu berkata; nak, kita makan dengan garam saja, ibu tadi lupa memetik daun singkong yang di tanam ayahmu di kebun. Ayahku hanya meninggalakn kami dengan beberapa pohon ubi singkong.

Pada saat yang sama, aku menoleh pada isi tong beras, rupanya sudah habis. Dalam benak aku bertanya, besok kita makan apa? Apakah malam ini yang terakhir kami merasakan makan nasi. Ubi singkong di kebun sudah berisi, namun babi hutan telah menghabiskannya. Lalu aku mencoba bertanya pada ibu; besok kita makan apa? Ia hanya menjawab dengan senyum. Setelah itu, kami diam membisu, menatap remah-remah nasi yang masih tersisa pada periuk. Sesekali ibu, mengambilnya, dan memakannya. Lalu ibu berkata, nak mengapa engkau risaukan hari esok. Perkara hari esok biarlah kita selesaikan hari esok. Jangan pikirkan itu. coba kamu lihat burung-burung, apakah mereka pernah berpikir tentang makanan. Tidak nak.

Tak sadar, air mataku jatuh. Jawabannya telah mengenyuhkan nubariku. Terharu. Seketika itu jaga aku memeluknya dan membirakan air mataku membasahi rambutnya. Dalam pelukan itu, ibu berkata lagi; nak, kamu pernah mendengar cerita dalam kitab suci tentang Janda di Safat, ia tidak mempunyai apa selain tepung roti yang hampir habis. Karena ia percaya pada Tuhan. Ia pun di cukupi oleh Tuhan melalui nabi yang mengunjunginya.

Percayalah, tungku ini tidak akan padam selagi kita percaya pada Tuhan. Selama kita menyerahkan segala kesah pada-nya. Pada saat itu juga aku menyadari bahwa bukan hanya beras yang ibu masak, tetapi ia juga menanak kasihnya untuk aku. Pada sajian ibu akan selalu ada kasih dan sayang. Aku pun kembali meniduri malam dengan rasa kenyang sajian kasih dari seorang ibu.

*Penulis adalah Pegiat Sastra Sampul Buku Unit Gabriel. Asal Lembor Manggarai Barat. Tinggal di Ledalero-Maumere

Editor: Edid Teresa

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button