Puisi

Via Dolorosa Antologi Puisi Antonius Bi Tua

Puncak Golgota didaki oleh Putera

Saatnya Ia dibantai di mimbar salib

Keringat bercucuran

Darah meleleh tak karuan

Meminta belas kasihan makhlukNya

Antonius Bi Tua

Penghuni jagad lagi gelisah
Cemas ombang-ambing gelombang
Harap hadir kekuatan
Gerak alur irama laju biduk hidup
Bebas aneka rasa golak batin
Hadang egois bungkam suara hati
Simfoni duka yang mendalam
Sang ilahi dihina

Ingatan adalah yang tak pernah pergi
Seperti gambar-gambar tua yang tertutup debu-debu riuh
Kembali kala angin meniup pergi suara-suara ramai
Menyisakan hening
Gambar-gambar bergerak menawarkan cerita
Banyak cerita
Juga tentang Dia di Gestemani
Serah diri pada Bapa

Kau lalu mengerti mengapa ada yang benci sebesar itu
Dunia tak akan pernah sama bagi orang-orang berbeda
Gambar-gambar adalah ingatan menepuk pundakmu
Kau ingat itu?
Tanya mereka mengetuk sadarmu
Tak ada satu pun semesta yang terjadi begitu saja
Semua ada alasannya
Via Dolorosa
Via Dolorosa

Tersobek hatiNya menggendong rinduMu kandas
Tertikam tombak Hannas dan Kayafas
Urat-urat nadi meleleh dosa
Duhai rindu Maha Kudus
Bunda mana rahimnya tak pedi
Menatap anaknya dibantai sembilu
Tajuk-tajuk mimpi sang perawan
Kini membuahkan kenyataan paling rawan
Ada cinta terpatri pada pertemuan ini
Aku ini hamba Tuhan
Jadilah padaku menurut perkataanMu

Puncak Golgota didaki oleh Putera
Saatnya Ia dibantai di mimbar salib
Keringat bercucuran
Darah meleleh tak karuan
Meminta belas kasihan makhlukNya
Tangan kakiNya dipaku pada palang hina
Tangan yang rajin bekerja
Kaki yang membuat mengembara
Dipaku melangkah ke tempat-tempat hina
Ladang korupsi, pelacuran, perjudian
Adalah menjadi biang ketidakadilan
Bapa, ampunilah mereka
Mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat

Golgota penuh duka
Sembilu pedang menembus dada
Sang Bunda berdukacita
Raga Putera tak berdaya
Terbujuk kaku menyimpan rasa
Luka pecah air mata berlinang
Alam raya hening dibuatNya
Gelap gulita memenuhi jagad
Hilang lenyap dibawa Putera
Menawarkan terang kebahagiaan
Via Dolorosa berakhir sudah

Baca Juga : Perihal Rejeki Antologi Puisi Maxi L Sawung
Baca Juga : Food Estate dan Budaya Berkerumun

Ibu

Di ujung lembayun senja
Lamunan berhenti di bayangmu
Bayangan yang selalu menjadi mimpi
Pada hati yang menunggu
Di gelapnya temaram bulan
Khayalanku jauh di dirimu
Sosok yang terus melekat dalam jiwa
Bersama rindu yang mendera
Di terbitnya sang fajar
Pikiranku masih tentangmu
Pada diri yang tertanam di relung
Yang menjadi paruhan hidup

es_once

Baca Juga : CINTA VIRGINIA
Baca Juga : Bunga di Tepi Jalan

Angan

Saat angan tak menjadi nyata,,,
Di situlah rasa kehilangan arah…

Menatapmu dari
kejauhan,, mendekat pun aku
tak berani…

Mencoba untuk
melangkah,, namun takut
berlawanan arah.. hingga
akhirnya terdiam dengan sejuta
tanya yang masih menjadi angan…

es_once

Baca Juga : Bukan Aku Yang Dikubur, Tapi Harapku
Baca Juga : Kamu, Hujan, Kopi Dan Sepiring Jagung Rebus

Pemburu rindu

Kepadamu sang pemburu rindu
singkatnya pertemuan namun,
begitu membekas
Hanya kata yang mewakili rasa,,
tanpa harus menuntut untuk di balas
Seakan memenjarakan diri
sendiri dalam ruang kegelapan…

Dan aku tersadar,,,
Aku di sandera oleh rasa yang begitu dalam dan
Terpenjara bersama angan yang entah kapan
akan menjadi nyata..

es_once

Baca Juga : Doamu Mantra Pelindung Antologi Puisi Veer Lado
Baca Juga : Mawarku Antologi puisi Edy Feliks Hatam

Tentang malam

Sejenak aku merenung tentang kisah
di antara kita…
Memandang langit gelap tanpa di temani
rembulan..
Aku tersadar,, separuh kisah tentang kita
perlahan lahan mulai memudar…
Berharap pada hati yang tak pasti,
bercumbu pada bayang baying sepi…
Segala tentang mu telah usai
Lembaran demi lembaran telah kusam
tak terpakai..
Hingga berteman dengan kesepian..
Aku terdiam larut dalam kesunyian..
Dan berharap bisa menyapamu
lewat deringan mimpi
meski hati tak lagi di huni..

es_once

Antonius Bi Tua

Penulis tinggal Unit Michael, Ledalero, Maumere


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button