Opini

Vita Quaerens Fabulam (Hidup harus dinarasikan)

Penulis : Felix Baghi | Dosen STFK Ledalero

Kita tidak bisa melupakan pernyataan Sokrates yang paling terkenal ini: “the unexamined life is not worth living”. Hidup yang tidak teruji, tidak layak untuk dijalani.

Dalam pandangan modern, keyakinan ini sering dikaitkan juga dengan dimensi naratif kehidupan kita. “Life in quest of narrative”demikian kata Paul Ricoeur. Hidup yang tidak dikisahkan kembali, akan dilupakan begitu saja, dan dengan demikian, hidup seperti ini menjadi tidak penting. “Un-narrated life is not worth living”.

Hidup yang dijalani sebaiknya dinarasikan kembali, karena di satu pihak, melalui narasi, hidup memilik kisah, memiliki alur dan plot, mempunyai ceritera dan sejarah. Di pihak lain, setiap kisah, ceritera dan sejarah yang dinarasikan kembali, tentu selalu berkaitan dengan suatu kehidupan (story has life).

Baca Juga : Dalam Doa Antologi Puisi Wandro Julio Haman
Baca Juga : Model Politik Eudaimonistik Aristoteles (384/383-322 SM)

Sering kita memisahkan antara hidup dan narasi. Pada hal hidup itu dinamis karena ia dijalani. Demikian life is lived. Narasi adalah bagian dari suatu kisah. Narasi adalah kisah dan setiap kisah menarasikan suatu kehidupan tertentu. Demikian Ricoeur berkata “a story is told.”

Sesungguhnya, keduanya tidak boleh dilihat demikian. Hidup harus dinarasikan agar terbuka kemungkinan bagi kita untuk sanggup menjalaninya dengan lebih baik. Dan melalui narasi tentang hidup, kita dihantar masuk ke dalam dunia kreativitas dan imajinasi yang baru.

Pengalaman hidup kita sebagai manusia tidak boleh dipisahkan dari kesanggupan naratif kita untuk mengisahkan kembali jalan-jalan kehidupan ini.

Baca Juga : John Rawls: Keadilan Global dan Nalar Publik (1921- 2002)
Baca Juga : Mama Antologi Puisi Andi Dollo

Kita menyadari bahwa masih banyak kisah hidup yang belum diceriterakan. Ricoeur berbicara tentang “stories not yet told.” Kisah kisah itu harus diceriterakan kembali. Kita tentu tidak suka mendasarinya pada suatu narasi fiktif atau pada suatu ilusi. Kita lebih memilih suatu narasi nyata yang kreatif. Sebuah fiksi hanya menjadi lengkap bila ia dipertautkan dengan kehidupan nyata, dan setiap kehidupan nyata hanya menjadi sempurna apabila dinarasikan kembali.

Oleh karena itu, hidup yang teruji
adalah hidup yang dikisahkan kembali dengan baik. Ini yang menjadi alasan mengapa kita, manusia, memiliki identitas naratif. Dan identitas ini membuat masing-masing kita menjadi pribadi yang unik, karena setiap kita memiliki “a story of life”. Demikianlah, hidup yang teruji adalah hidup yang dikisahkan kembali.

Baca Juga : Terjaga Antologi Puisi Lidwina Rusmawati
Baca Juga : Hujan di Malam Hari

Setiap kita memiliki kesanggupan untuk mengisahkan hidup kita. Jadi, kita perlu belajar kembali untuk menjadi seorang “narator” kehidupan kita. Kita mengerti diri kita bahwa kita adalah “a hero of our own story” dengan tanpa perlu menjadi “an author of our own life”. Kita menerima diri kita melalui semua kisah yang telah terjadi pada kita; dan pada saat yang sama, kesanggupan kita membaca seluruh kisah tentang diri kita, boleh dikatakan sebagai seni konfigurasi diri. Inilah bagian esensial dari “self understanding”.

Tidak ada jalan pintas untuk mengerti diri. Kita selalu mengerti diri kita melalui yang lain. Kata-kata Richard Kearney ini benar: “the shortest route from self to self is through the other”. Kita tidak pernah cukup. Tidak pernah sempurna

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button