Opini

Wajah Kemanusian di Tengah Covid-19

Ilustrasi: tirto.id

Oleh: Fredy Langgut

Dunia saat ini sedang digoncang bencana yang betul-betul mengancam nyawa jutaan manusia yang berada di muka bumi. Betapa tidak, sejak hadirnya covid-19 atau yang lebih dikenal dengan virus corona pada akhir februari 2020 lalu di kota Wuhan China, yang dengan proses penyebaran yang sangat cepat hingga merambat hampir sebagian besar negara-negara di dunia telah merenggut jutaan nyawa manusia.

Keganasan virus ini memberi dampak yang sangat besar bagi tatanan hidup manusia dalam segala bidang, termasuk mengubah cara pandang manusia terhadap sesama yang lain. Semenjak munculnya wabah ini dan himbauan-himbauan dari pemerintah untuk melakukan psycal distancing (jaga jarak) sebagai upaya untuk memutuskan mata rantai penyebaran covid-19, seiring dengan itu muncul pula tindakan- manusia yang merupakan kesalahpahaman pengertian himbauan tersebut.

Kecurigaan satu dengan yang lain, bahkan ribuan nyawa yang meninggal akibat virus corona. Semua aktivitas manusia yang berhubungan dengan kontak fisik seakan menjadi sesuatu yang haram, nilai-nilai kemanusiaan seakan hilang dari peradaban. Kehadiran virus corona ini seolah-olah menginginkan agar kehidupan di bumi ini digantikan dengan kehidupan yang baru, nyatanya korban yang berjatuhan semakin bertambah dari hari-ke hari.

* Wajah Kemanusiaan di tengah pandemi Yang Ditampilkan Melalui Para Medis

Covid-19 merupakan salah satu bencana kemanusiaan yang terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia. Selanjutnya,mungkin munculnya wabah ini merupakan salah satu cara Tuhan untuk menyadarkan umat manusia. Ujian bagi manusia yang sebetulnya bukan dilihat dari banyaknya korban berjatuhan, melainkan bagaimana kita menjadi berempati terhadap situasi dan keadaan saat ini.

Hampir sebagian dari populasi manusia di muka bumi habis direnggut pandemi ini tanpa mengenal ras, suku budaya, agama manapun. Kita melihat begitu banyak korban ditolak untuk dimakamkan, bahkan jenazah para medis sebagai garda terdepan dalam upaya penyelamatan nyawa korban pun tak luput dari penolakan. Kita bayangkan, jika hal yang sama dilakukan oleh para medis dengan menolak melayani para pasien covid-19, siapa lagi yang bisa diharapkan untuk menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan.

Berbagai cerita kerap terdengar, seperti anggota keluarga, tenaga medis yang dikucilkan dan diasingkan, bahkan stigma negatif yang dilekatkan di tengah usaha mereka dalam menangani para pasien dan tetap bertahan pada keadaan bahkan mempertaruhkan nyawa mereka sendiri. Meskipun demikian, mereka tidak sedikitpun gentar dalam memerangi wabah ini, mereka meninggalkan anggota keluarga hanya demi menyelamatkan pasien meskipun mereka tahu akan resiko terbesar yang mereka dapatkan.

Tidak dapat dimungkiri lagi, wajah kemanusiaan itu sungguh-sungguh ditampilkan dalam diri para medis, yang berusaha sekuat tenaga dengan mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan nyawa jutaan manusia yang keras kepala, tidak pernah memikirkan nasib malang para medis yang berusaha berjuang mati-matian demi keselamatan mereka.

*Tanggapan pribadi

Usaha para agen kesehatan dalam memerangi pandemic covid-19 ini merupakan bentuk dari usaha manusia dalam berempati terhadap sesama yang lain. Tugas yang diemban oleh mereka dijuluki sebagai pahlawan kemanusiaan. Kehadiran yang lain yang menderita seolah-olah menjadi bagian dari diri mereka yang lain, oleh karena itu satu-satunya cara yang harus dilakukan adalah dengan melakukan tindakan penyelamatan. Belajar dari para medis, saya pun akhirnya dituntut untuk lebih dalam lagi mengerti dan memahami makna keberadaan saya sebagai seorang pribadi.

Bahwa saya disebut sebagai pribadi karena saya berada di tengah pribadi yang lain. Oleh karena itu, sudah selayaknya saya harus memiliki rasa tanggung jawab dan tenggang rasa terhadap yang lain di luar diriku. Mengutip teori levinas tentang tanggung jawab moral terhadap yang lain di luar diriku menjadi suatu bentuk acuan bagi diriku untuk melakukan tindakan etis terhadap sesamaku.

Hemat saya, munculnya wabah ini memberikan penyadaran bagi diri saya untuk melihat kembali relasi saya dengan yang lain di luar diriku. Seberapa besar saya bertanggung jawab atas keselamatan yang lain. Oleh karena itu saya pun ditegur secara tidak langsung untuk mengakui keberadaan yang lain di luar diriku, dengan bertanggung jawab atas mereka serta memberikan dukungan secara moril berupa doa dan himbauan-himbauan serta tidak mengucilkan, bahkan mengasingkan mereka.

Karena selain upaya para medis dalam membantu para pasien yang terpapar, saya dan kita semua pun menjadi garda terdepan untuk bertanggung jawab atas diri kita masing-masing dan saling menghimbau satu sama lain sehingga kita mampu memutuskan mata rantai penyebaran virus covid-19 ini secara bersama-sama. Ini adalah satu-satunya tindakan kemanusiaan yang kita lakukan saat ini, dengan saling peduli satu sama lain.

Dengan demikian, hadirnya wabah yang merenggut hampir sebagian populasi manusia di bumi ini dapat menjadi momentum bagi kita semua untuk mengembalikan nilai kemanusiaan di antara umat manusia dan merenungkan kembali relasi antara “aku” dan “yang lain”. Dengan saling peduli dan bertanggung jawab atas mereka yang menderita bukannya mengucilkan dan menolak mereka, karena dengan itu kita dapat memperbaiki hubungan kita dengan sesama dan dengan Tuhan sendiri.

* Penulis Mahasiswa Semester VII di STFK Ledalero.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button