cerpen

Wanita di Penghujung Senja

Foto: cendananews.com

Penulis: Ema Mourinho

Noferin, gadis cantik berambut pirang, hidung mancung dan kulit sawo matang, ditambah sepasang lesung pipit yang menghiasi wajah ayunya. Wajah yang telah meluruhkan perasaanku dan untuk pertama kalinya aku jatu cinta, jatu cinta pada Noferin. Bagiku cinta adalah sebuah momen yang tak direncanakan, ia datang begitu saja. Cinta adalah sempurna sebagaimana wanita dibentuk oleh tulang dan daging dari seorang pria.

Di bawah kelopak, bening bolah matanya kutemukan keteduhan dan harapan ketika aku memandangnya. Dari bibir mungilnya sejuta kata telah dirangkai satu dan terus terbenam dalam memoriku “setia sampai mati.” Demikian Noferin bertutur setelah beberapa bulan kami menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.

Sudah dua tahun aku menjalin hubungan dengan Noferin. Dua tahun lalu cinta itu mulai bersemi. Cintaku padanya tak seperti yang dilakukan oleh teman-teman di sekolah pada umumnya. Aku memilih menjalin hubungan dengan perasaan datar walau harapan dan kesetiaan terus bergema dan membuncah dalam sanubariku. Aku tahu aku tak sehebat teman-teman di sekolahku apalagi mampu merebut hati Noferin yang sering dijuluki gadis primadona oleh sahabat-sahabatnya. Sering aku mengamati beberapa siswa yang sok memberi perhatian, pengertian dan rela berkorban ketika berhadapan dengan Noferin.

Bagiku diam merupakan cara yang tepat saat mulut tak mampu lagi berkata-kata. Diam adalah obat paling mujarab untuk menyembuhkan rasa yang sedikit risih. Dalam diam cinta itu tumbuh, mekar dan memberikan kepadaku kesejukan. “ Aku jatuh cinta padamu” demikian ungkapan awal sebagai dasar membangun hubungan cinta bersama Noferin.

Sejak menjalin hubungan dengan Noferin kami sering menghabiskan waktu bersama di saat senja. Aku biasa menyapanya dengan sebutan gadis senja. Sebab ia mencintai senja. Baginya senja telah melahirkan sejuta inspirasi, senja merupakan waktu yang tepat berada bersama dengan kekasih, Waktu untuk bercengkrama mesra sebelum malam menjemput. Iya, kami telah menghabiskan banyak senja atau sekali-kali mengerjakan tugas sekolah bersama pada malam hari.

Untuk kesekian kalinya. Suatu senja aku bersama Noferin menghabiskan waktu di pantai Koka. Orang-orang hilir mudik datang dan pergi. Anak-anak asyik kejar-kejaran. Sedang yang lain sibuk membuat patung dari pasir. Pantai Koka tampak riuh. Tak jarang beberapa dari anak muda mencuri pandang menatap keanggunan Noferin yang berdiri menatap bui ombak yang pecah pada karang. Sambil memandang ke arah laut aku menikmati sebatang soempurna. Asap membulat dari setiap hembusan mengepul membentuk awan-awan kecil di atas kepala.

Kembali aku menatap jam tangan, waktu menunjukan pukul 05:00 tatkala suasana mulai sepi. Aku dan Noferin terus membisu, hening, sunyi, senyap tinggal deru ombak dan kicauan burung yang setia menemani sepasang kekasih. Aku menatap gulungan-gulungan ombak yang terus mengecup bibir pantai. Matahari terus merangkak ke ufuk barat sedang aku dan Noferin duduk manja dengan kaki terentang. “Noferin,” sapaku memecah keheningan senja. Noferin menatapku dengan kulum senyum manis sebagai kekhasan darinya, senyum tanpa kepalsuan. “Noferin, sesungguhnya di taman hatimu telah kutaburkan benih cintaku sejak aku mengenal dan jatuh cinta padamu di taman sekolah tempat kita menghabiskan waktu istirahat, kala itu diam-diam aku mencuri pandang, menatap langkah dan tingkahmu. Aku kagum padamu” Noferin menatapku sambil membetulkan posisi tubuhnya, ia menatap wajahku begitu dalam sedalam lautan luas. “ Kakak, aku telah merawat benih cinta itu dengan penuh kasih sayang, menyiramnya dengan air kesetiaan agar cinta dapat bertumbuh subur dan kokoh sekokoh batu karang”. Aku terperanjat akan kata-katanya lalu memeluknya erat.

Mentari perlahan mulai pamit. Aku dan Noferin melempar pandang ke arah lautan luas. Memandang warna mentari yang membias menembusi celah perahu para nelayan yang berjejer rapi sepanjang tepi pantai. Aku bersama kekasihku bergandengan tangan menyusuri pasir putih pantai Koka sembari menikmati kicauan burung dan semilir angin sepoi-sepoi menyapu pori-pori merembes hingga sum-sum tulang belakang. “Noferin, apakah engkau mencintai senja?” Aku bertanya. Noferin memandangku sambil merapikan rambut yang ia biarkan terurai lalu mencondongkan tubuh kearahku. “Kak, sejak aku mencintaimu, aku pun mencintai senja, pengagum senja dan senja telah mengajarkanku kesitiaan pada setiap waktunya.”

Aku memahami kata-katanya sebab senja telah mengukir banyak kisah antara aku dan Noferin. Kisah yang telah diabadikan dalam buku harian sebelum tidur malam dan mengingatnya kembali suatu hari nanti. “ Noferin, tahukah engkau bahwa senja hanyalah jeda sebelum malam tiba, dan senja tak mampu menguasai malam, masikah engkau mencintai senja, bukankah hari esok adalah drama hidup penuh misteri. Kita melakoni setiap kisah dibawa bayang-bayang sadar dan ketidaksadaran dan kita berada di tepi pantai ini, menhabiskan senja yang telampau singkat? Sesekali kita lupa pada malam, lalu mengingat bahwa hari esok masih ada kisah tersendiri Tanyaku dengan penuh harap akan jawaban dari Noferin”. Matanya berkaca seakan tak percaya lalu meletakan pipi di bahuku. “Noferin segala masa lalu kita sudah terhempas gelora gelombang dan tertanam di dasar laut, mari kita menatap masa depan dengan penuh harapan. Kau pernah bilang kita bisa saling mencinta tapi kita tidak bisa menghianati cita-cita dan aku kagum akan perkataanmu itu.” Aku menatap wajah Noferin, wajah yang tulus tanpa kepalsuan dan wanita tegar merawat cita-cita.

Senja seakan kian mencengkam. Suasana pantai makin lengang, burung berhenti bersiul, di langit awan pekat berarak pelahan namun pasti, sunyi kembali menguasai aku dan Noferin yang sedari tadi bercengraman mesra.
“ Noferin maafkan aku bila aku mengkhianati senja, sebab senja bagiku adalah sebuah pilihan sebelum malam tiba, kita bisa mengkhianati senja tapi kita tidak bisa mengkhianati cita-cita, bukankah hidup adalah pilihan, memilih berarti mengambil yang satu dan melepas yang lain”. Tubuhnya tampak terkulai, pipi memerah, pada bola matanya bening menggantung menanti wakunya untuk luruh. Aku berusaha tegar sembari mengelus rambut sebahu yang ia biarkan terurai. “ Noferin maafkan aku karena petuah cinta yang kau berikan beberapa tahun lalu tak mampu kurawat, maafkan aku sebab aku telah mencinta Dia, Dia yang lebih dulu mencintaiku “. Air matanya merembes jatuh pada pasir putih. Kukecup keningnya saat senja berubah jadi malam sembari mengucapkan “Selamat tinggal kekasihku Noferin, engaku wanita di penghujung senja, adalah abadi dalam setiap sujud dan ujudku.”

Ruang Rindu, 2 Februari 2018

*Ema Mourinho adalah nama gaul dari Ino Mori, lahir di Detuleda 31 Maret 1996. Alumnus Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere. Sekarang belajar filsafat di STFK Ledalero, Maumere.

Editor: Edid Teresa

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button