cerpen

Wanita Perawat Lara

Foto:nakita.gird.id


*Yasintua Dawi, Mahasiswa STFK Ledalero, tinggal di biara Rogationist*

Riuh ombak sore itu menjadi teman terbaik meyaksikan senja yang hendak tenggelam di Ufuk barat. Suasana pantai nampak sepi, hanya beberapa bocah yang sedang asyik berlari-lari di bibir pantai seolah tidak menghiraukan gelap yang mulai mengintip. Aurelya masih betah dengan kesendiriannya. Pandangannya melayang jauh, jatuh pada ujung lautan yang membentang di depannya. Raut wajahnya enggan untuk tersenyum, meski sekadar membalas sapa senja yang hendak berlalu. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya. Air matanya tiba-tiba menetes perlahan membasahi pipi mungilnya. Entah apa yang sedang ia rasakan, hanya dia sendirilah yang tahu!

Angin malam yang berhembus perlahan membuat Aurelya bangun dari lamunannya. Ia segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan beberapa langkah ke depan sebelum langkahnya tiba-tiba terhenti. Rupanya ada sesuatu yang terus bergejolak di dalam hatinya yang tak sempat ia sampaikan kepada senja yang berlalu tanpa gaduh. Tiba-tiba ia menangis! “Ahh, Tuhan! Mengapa engkau harus memanggil mereka begitu cepat? Aku masih menyanyangi mereka, Aku masih membutuhkan mereka!” Teriaknya keras. Rupanya kehilangan orang yang sangat dicintainya mengantar ia pada dilematis iman yang selama ini dipegang keluarganya.

Langit malam mulai bertabur bintang sedang riuhan ombak makin kencang. Bocah-bocah yang beberapa saat lalu berlari di bibir pantai kini tidak terlihat lagi. Aurelya kembali memilih duduk di atas buliran pasir sembari memikirkan cara terbaik pasrah untuk semua keadaan tanpa harus terluka. Cara terbaik merelakan tanpa harus menangis. Cara terbaik merindukan tanpa harus berjumpa. Sesekali ia menghamburkan pasir ke udara lalu berteriak sekencang-kencangnya. Ia sungguh tenggelam dalam kenyataan hidup yang sungguh menyayat hatinya. Kadang air matanya lelah mengguyuri bumi untuk kisahnya yang pilu, yang membuatnya terus merindu dalam kepasrahan.

Sebagai anak sulung dalam keluarga Aurelya kerap merasa terbiasa dalam mengahadapi pahitnya kehidupan. Namun yang tak pernah terlintas dalam benaknya adalah kehilangan orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Kala itu tragedy tenggelamnya sebuah kapal yang merenggut nyawa ayah, ibu dan adiknya bersamaan. Sungguh hari itu menjadi hari yang kelam baginya. Sebuah tragedi yang menyisakan pilu sepanjang hidupnya yang tak akan pernah ia lupakan. Hari-hari setelah itu ia lalui tanpa kasih sayang lagi dari mereka, tanpa belaian manja mereka, tanpa pesan penyejuk hati dari mereka. Ia benar-benar menjalani sisa hidupnya seorang diri, sungguh sangat-sangat tersiksa karena hidup sendiri tanpa keluarga

Kabar yang ia terima kala itu bagaikan kabar yang menghentikan aliran darahnya. Seolah ada kilat yang menyambar tanpa adanya awan. Jantungnya seperti berhenti memompa darah ke seluruh tubuh. Ia menangis sejadi-jadinya. Kata-kata yang datang untuk menguatkannya rupanya tidak mampu menopang jiwanya yang hancur. Kata-kata tabah dari kerabat-kerabatnya tidak mampu menghentikan tangisnya yang pecah. “Ah, ayah ibu, mengapa kalian pergi meninggalkan aku seorang diri? Apakah kalian ingin melihatku selalu menangis?” Ah Tuhan mengapa ini harus terjadi ? tanyanya dalam hati.

Hari demi hari menjalanai kehidupan sebagai yatim piatu. Tetapi Setelah Kejadian itu, Ia tak pernah mengeluh lagi Menjadi anak perempuan yang menjalani hidup seorang diri, tidak membuat semangatnya patah atau membuatnya pasrah tetapi ia tetap tegar dan memulai memikirkan tentang kesuksesan, kemapanan dan kebahagiaan. Kenyataan yatim piatu membuatnya tidak pernah berhenti memikirkan masa depan, walau pun terkadang hal itu membuatnya menangis saat malam tiba. Ia masih belum sanggup menerima kenyataan hidup yang sesulit ini. Perlahan ia mulai menjadi wanita tegar meskipun luka itu masih membekas. Ia pasrahkan semuanya dalam doa sembari melangitkan nama ibu, ayah dan adiknya di ujung amin dari doanya kepada Tuhan. Ia menyadari bahwa cinta yang putih bukan hanya lahir dari mata yang menangis tetapi juga dari hati yang tersobek. Cinta itu bukan hanya tentang memiliki tetapi juga mengiklaskan. Ia berusaha menerima kenyataaan bahwa mereka tak akan pernah kembali ke dalam dekapannya yang nyata. Mungkin hanya lewat mimpilah ia dapat melihat mereka. Mungkin lewat mimpi ia mampu melepas rindunya walau sebentar. Rasa rindu yang terlalu membuatnya duduk diam di hadapan pusara mereka sembari berdoa.

Setiap kali menjenguk doanya dipadukan dengan air mata yang terus menetes. Kini ia hanyalah wanita rapuh yang demikian lelah menata langkah. Di hadapan makam mereka segalah kalbunya gundah, tapi selalu mendekapkan rindu yang tak akan berkesudahan. Menatap tumpukan tanah yang menutup tubuh mereka, dan segalanya tumpah. Air matanya tak mampu lagi dibendung untuk semua luka yang terlalu perih. Mereka adalah harta yang paling istimewa dalam hidupnya, kini telah terbujur dalam kesenyapan makam.

Aurelya mencoba untuk tetap setia pada sang waktu, sambil menanti senja berganti gelap, gelap berganti fajar, fajar berganti senja, dan seterusnya. Di tempat itu ia terus merawat nadinya yang kian sesak terhimpit tanya yang menikam ngilu di dada, sambil setia mengurai letih yang merangkum isak doa-doa dari bibirnya yang gemetar. Hanya sebaris doalah yang mampu menemani sepinya yang kian meronta. Hatinya benar-benar patah. Segala inginnya berubah menjadi luka yang abadi pada jiwanya. Kini ia mencoba tenang dan belajar menerima meski hati tetap saja merasakan betapa pedihnya luka. Ia berusaha agar tetap semangat menikmati hari yang masih tersisa. Dan jika pada akhirnya ia hanyalah kisah yang memilih patah dan menyerah, maka tiada artinya segala motivasi pantang menyerah yang mereka lantunkan tiada henti agar ia mampu menjadi pribadi yang kuat dalam menjalani pahitnya kehidpan.

Namun di balik semua lara yang kian gontai menikam dirinya, ia tetap percaya jika sebenarnya mereka tidak ingin meninggalkannya seorang diri. Ia yakin bahwa mereka masih sangat menyayanginya. Namun, karena Tuhan sangat mencintai mereka maka mereka harus rela meninggalkannaya seorang diri. Tuhan yang menciptakan, Tuhan pula yang mengambilnya. Walau sebenarnya ia sendiri belum mampu dan siap saat Tuhan mengambil mereka secara tiba-tiba dari hadapannya tetapi ia percaya bahwa Tuhan memiliki rencana indah di balik semuanya itu. Sekalipun dengan kepergian mereka membuat hatinya tersayat, ia tetap tegar dan percaya bahwa kehendak Tuhanlah yang terbaik.

Kadang ia terdiam dan bertanya dalam hatinya, ”Pernahkah ayah dan ibu berfikir jika dirinya akan jatuh ke dalam luka yang terlalu perih seperti ini? Pernahkah ayah dan ibu berpikir bagaimana perasaan seorang remaja perempuan yang begitu saja ditinggalkan oleh ayah dan ibunya secara bersamaan? Pernah ia berpikir dan berkata kepada Tuhan, agar Tuhan kembalikan ayah dan ibunya. Namun perlahan ia menyadari jika cinta Tuhan pada mereka jauh lebih besar dari rasa cintanya.

Kini ia hanya mampu memeluk mereka lewat riuhnya lantunan doa yang selalu ia ucapkan, menatap mereka lewat bayangan kenangan yang selalu menghiasi pikirannya. Dan ia hanya mampu menjaga dirinya sendiri agar mereka tidak merasakan kesedihan ketika melihat dirinya yang kian rapuh seorang diri di sini.

Puncak Ribang, penghujung September 2020

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button